MIKROBIOTA USUS DAN OBESITAS

5 OKTOBER 2021

MIKROBIOTA USUS DAN OBESITAS

Saat ini obesitas tidak hanya menjadi masalah di negara-negara maju, tetapi juga di negara berkembang. Walaupun segala cara penatalaksanaan dilakukan melalui pengaturan pola makan dan aktifitas fisik, namun dari tahun ke tahun prevalensinya terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa persentase overweight dan obesitas pada dewasa ≥ 18 tahun terus terjadi peningkatan dari tahun 2007, 2013 dan 2018. Pada tahun 2007 prevalensi obesitas sebesar 10,5% meningkat menjadi 14,8% pada tahun 2013, dan terjadi peningkatan kembali pada tahun 2018 yaitu sebesar 21,8%.

Baru-baru ini telah dikemukakan bahwa mikrobiota usus merupakan faktor lingkungan yang menyebabkan obesitas. Apa yang dimaksud dengan mikrobiota usus? Mikrobiota usus didefinisikan sebagai komunitas mikroba kolektif yang menghuni usus manusia, termasuk bakteri, archaea, virus, dan beberapa uniseluler eukariota (Jorth  et al., 2014; Jandyala et al., 2015). Meskipun telah ada lebih dari 50 filum bakteri, mikrobiota manusia didominasi oleh empat filum: Actinobacteria, Firmicutes, Proteobacteria, dan Bacteroidetes. Mikrobiota usus manusia hanya didominasi oleh dua filum yaitu Bacteroidetes dan Firmicutes, sedangkan Proteobacteria, Verrucomicrobia, Actinobacteria, Fusobacteria, dan Cyanobacteria dalam proporsi kecil (Sekirov et al., 2010; Morgan et al., 2013).

Keberadaan microbiota usus manusia mulai awal kehidupan berada dalam usus dengan komposisi bervariasi yang dipengaruhi oleh  etnis, bangsa dan gaya hidup yang  berasal dari interaksi kompleks antara pola diet, etnis, dan faktor genetik (Barrett, 2014; Escobar et al., 2014;  Maukonen & Saarela, 2015). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan mikrobiota menurut Angelakis et al., 2012 ditunjukkan pada Gambar 1.

Peran pasti mikrobiota usus pada obesitas memang belum jelas, walaupun demikian mikrobiota mempunyai peran terhadap kejadian obesitas antara lain melalui mekanisme berikut ini: Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat yang tidak dapat dicerna menjadi Short Chain Fatty Acids (SCFAs) melalui Carbohydrate Response Element Binding Protein (ChREBP) dan Sterol Response Binding Protein 1 (SREBP-1) serta melalui penekanan fasting induced adipocyte factor atau Angiopotein-Like Protein 4 (fiaf/ANGPTL4) sebagai penghambat lipoprotein lipase (LPL) yang mengakibatkan penumpukan lemak di jaringan perifer (Backhet et al., 2004). Fiaf diproduksi oleh white dan brown fat adipose tissue dan usus halus yang menghambat LPL sehingga mengakibatkan penurunan oksidasi lemak di jaringan adipose dan jaringan otot (Conterno et al, 2011). Disamping itu microbiota dapat mempengaruhi homeostasis energi dan energy harvesting. Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat kompleks menjadi monosakarida dan SCFA. SCFA yang terdiri dari asetat, propionate dan butirat merupakan metabolit dari diet karbohidrat kompleks dan merupakan sumber energi baru bagi tubuh. Semakin besar efisiensi energi dari microbiota, maka semakin besar kecenderungan individu berkembang menjadi obesitas. Ekstraksi energi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan substrat, lama transit di usus, absorbsi mukosa dan keseimbangan mikrobiota. Pada obesitas terjadi ketidakseimbangan mikrobiota atau dikenal dengan istilah Dysbiosis, dimana filum Firmicutes bisa menjadi 20x lipat dibandingkan filum Bacteriodetes (Cockburn & Koropatkin, 2016).

Nah, bagaimana menu makan kita untuk menyeimbangkan mikrobiota usus kita agar terhindar dari obesitas???   Kita harus bisa mengendalikan obesitas dengan mengendalikan mikrobiota usus kita seperti dijelaskan pada Gambar 2.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Angelakis E, Armougom F, Million M, Raoult D. 2012. The relationship between gut microbiota and weight gain in humans. Future Microbiol. 7(1):91-109.

  2. Barrett, K.E. 2014. Functional anatomy of the GI tract and organs draining into it. In Gastrointestinal Physiology (2nd ed.). NewYork. The McGraw-Hill Companies.

  3. Backhed F, Ding H, Wang T, Hooper LV, Koh GY, Nagy A, et al. 2004. The gut microbiota as an environmental factor that regulates fat storage. Proc Natl Acad Sci U S A .  101(44):1571815723. 

  4. Conterno L., Fava F., Viola R., Tuohy K.M. 2011.  Obesity and the gut microbiota: Does up-regulating colonic fermentation protect against obesity and metabolic disease?. Genes Nutr. 6:241–260.

  5. Cockburn, D.W., and Koropatkin, N.M. 2016. Polysaccharide degradation by the intestinal microbiota and its influence on human health and disease. Mol. Biol. xx. xxx–xxx.

  6. Escobar, J.S., Klotz, B., Valdes, B.E., and Agudelo, G.M. 2014. The gut microbiota of Colombians differs from that of Americans, Europeans and Asians. BMC Microbiol. 14: 311.

  7. Jandhyala, S.M., Talukdar, R., Subramanyam, C., Vuyyuru, H., Sasikala, M., and Reddy, D.N. 2015. Role of the normal gut microbiota. World J Gastroenterol. 29: 8787-8803.

  8. Jorth, P., Turner, K.H., Gumus, P., Nizam, N., Buduneli, N., and Whiteley, M. 2014. Metatranscriptomics of the human oral microbiome during health and disease. Mol. Biol. 5: e01012–e01014

  9. Maukonen, J., and Saarela, M. 2015. Human gut microbiota: does diet matter? Proc. Nutr. Soc.  74: 23–36.

  10. Morgan, X.C., Segata, N., and Huttenhower, C. 2013. Biodiversity and functional genomics in the human microbiome. Trends Genet. 29:51–58

  11. Sekirov, I., Russell, S.L., Antunes, L.C., and Finlay, B.B. 2010. Gut microbiota in health and disease. Physiol. Rev. 90: 859-904

  12. Tehrani AB, Nezami BG, Gewirtz A, Srinivasan S. 2012. Obesity and its associated disease: a role for microbiota?. Neurogastroenterol Motil.; 24(4):305-311.

Dr. Etik Sulistyowati, SST, SGz, MKes
Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Malang

5 OKTOBER 2021

MIKROBIOTA USUS DAN OBESITAS

Saat ini obesitas tidak hanya menjadi masalah di negara-negara maju, tetapi juga di negara berkembang. Walaupun segala cara penatalaksanaan dilakukan melalui pengaturan pola makan dan aktifitas fisik, namun dari tahun ke tahun prevalensinya terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa persentase overweight dan obesitas pada dewasa ≥ 18 tahun terus terjadi peningkatan dari tahun 2007, 2013 dan 2018. Pada tahun 2007 prevalensi obesitas sebesar 10,5% meningkat menjadi 14,8% pada tahun 2013, dan terjadi peningkatan kembali pada tahun 2018 yaitu sebesar 21,8%.

Baru-baru ini telah dikemukakan bahwa mikrobiota usus merupakan faktor lingkungan yang menyebabkan obesitas. Apa yang dimaksud dengan mikrobiota usus? Mikrobiota usus didefinisikan sebagai komunitas mikroba kolektif yang menghuni usus manusia, termasuk bakteri, archaea, virus, dan beberapa uniseluler eukariota (Jorth  et al., 2014; Jandyala et al., 2015). Meskipun telah ada lebih dari 50 filum bakteri, mikrobiota manusia didominasi oleh empat filum: Actinobacteria, Firmicutes, Proteobacteria, dan Bacteroidetes. Mikrobiota usus manusia hanya didominasi oleh dua filum yaitu Bacteroidetes dan Firmicutes, sedangkan Proteobacteria, Verrucomicrobia, Actinobacteria, Fusobacteria, dan Cyanobacteria dalam proporsi kecil (Sekirov et al., 2010; Morgan et al., 2013).

Keberadaan microbiota usus manusia mulai awal kehidupan berada dalam usus dengan komposisi bervariasi yang dipengaruhi oleh  etnis, bangsa dan gaya hidup yang  berasal dari interaksi kompleks antara pola diet, etnis, dan faktor genetik (Barrett, 2014; Escobar et al., 2014;  Maukonen & Saarela, 2015). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan mikrobiota menurut Angelakis et al., 2012 ditunjukkan pada Gambar 1.

Peran pasti mikrobiota usus pada obesitas memang belum jelas, walaupun demikian mikrobiota mempunyai peran terhadap kejadian obesitas antara lain melalui mekanisme berikut ini: Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat yang tidak dapat dicerna menjadi Short Chain Fatty Acids (SCFAs) melalui Carbohydrate Response Element Binding Protein (ChREBP) dan Sterol Response Binding Protein 1 (SREBP-1) serta melalui penekanan fasting induced adipocyte factor atau Angiopotein-Like Protein 4 (fiaf/ANGPTL4) sebagai penghambat lipoprotein lipase (LPL) yang mengakibatkan penumpukan lemak di jaringan perifer (Backhet et al., 2004). Fiaf diproduksi oleh white dan brown fat adipose tissue dan usus halus yang menghambat LPL sehingga mengakibatkan penurunan oksidasi lemak di jaringan adipose dan jaringan otot (Conterno et al, 2011). Disamping itu microbiota dapat mempengaruhi homeostasis energi dan energy harvesting. Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat kompleks menjadi monosakarida dan SCFA. SCFA yang terdiri dari asetat, propionate dan butirat merupakan metabolit dari diet karbohidrat kompleks dan merupakan sumber energi baru bagi tubuh. Semakin besar efisiensi energi dari microbiota, maka semakin besar kecenderungan individu berkembang menjadi obesitas. Ekstraksi energi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan substrat, lama transit di usus, absorbsi mukosa dan keseimbangan mikrobiota. Pada obesitas terjadi ketidakseimbangan mikrobiota atau dikenal dengan istilah Dysbiosis, dimana filum Firmicutes bisa menjadi 20x lipat dibandingkan filum Bacteriodetes (Cockburn & Koropatkin, 2016).

Nah, bagaimana menu makan kita untuk menyeimbangkan mikrobiota usus kita agar terhindar dari obesitas???   Kita harus bisa mengendalikan obesitas dengan mengendalikan mikrobiota usus kita seperti dijelaskan pada Gambar 2.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Angelakis E, Armougom F, Million M, Raoult D. 2012. The relationship between gut microbiota and weight gain in humans. Future Microbiol. 7(1):91-109.

  2. Barrett, K.E. 2014. Functional anatomy of the GI tract and organs draining into it. In Gastrointestinal Physiology (2nd ed.). NewYork. The McGraw-Hill Companies.

  3. Backhed F, Ding H, Wang T, Hooper LV, Koh GY, Nagy A, et al. 2004. The gut microbiota as an environmental factor that regulates fat storage. Proc Natl Acad Sci U S A .  101(44):1571815723. 

  4. Conterno L., Fava F., Viola R., Tuohy K.M. 2011.  Obesity and the gut microbiota: Does up-regulating colonic fermentation protect against obesity and metabolic disease?. Genes Nutr. 6:241–260.

  5. Cockburn, D.W., and Koropatkin, N.M. 2016. Polysaccharide degradation by the intestinal microbiota and its influence on human health and disease. Mol. Biol. xx. xxx–xxx.

  6. Escobar, J.S., Klotz, B., Valdes, B.E., and Agudelo, G.M. 2014. The gut microbiota of Colombians differs from that of Americans, Europeans and Asians. BMC Microbiol. 14: 311.

  7. Jandhyala, S.M., Talukdar, R., Subramanyam, C., Vuyyuru, H., Sasikala, M., and Reddy, D.N. 2015. Role of the normal gut microbiota. World J Gastroenterol. 29: 8787-8803.

  8. Jorth, P., Turner, K.H., Gumus, P., Nizam, N., Buduneli, N., and Whiteley, M. 2014. Metatranscriptomics of the human oral microbiome during health and disease. Mol. Biol. 5: e01012–e01014

  9. Maukonen, J., and Saarela, M. 2015. Human gut microbiota: does diet matter? Proc. Nutr. Soc.  74: 23–36.

  10. Morgan, X.C., Segata, N., and Huttenhower, C. 2013. Biodiversity and functional genomics in the human microbiome. Trends Genet. 29:51–58

  11. Sekirov, I., Russell, S.L., Antunes, L.C., and Finlay, B.B. 2010. Gut microbiota in health and disease. Physiol. Rev. 90: 859-904

  12. Tehrani AB, Nezami BG, Gewirtz A, Srinivasan S. 2012. Obesity and its associated disease: a role for microbiota?. Neurogastroenterol Motil.; 24(4):305-311.

Dr. Etik Sulistyowati, SST, SGz, MKes
Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MENGENAL LEBIH DEKAT FUNCTIONAL FOOD

18 AGUSTUS 2021

MENGENAL LEBIH DEKAT FUNCTIONAL FOOD

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK 00.05.52.0685 TAHUN 2005 tentang Ketentuan Pokok Pangan Fungsional, pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen pangan yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu diluar fungsi dasarnya, terbukti tidak membahayakan, dan bermanfaat bagi Kesehatan.

Pada kehidupan sekarang ini, kebutuhan seseorang terhadap makan bukan hanya sekedar untuk merasa kenyang, namun yang lebih utama adalah untuk mecapai kesehatan dan kebugaran yang optimal. Menurut Astawan (2011), fungsi pangan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

  1. fungsi primer (primary function): fungsi pangan yang utama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik
  2. fungsi sekunder (secondary function): bahan pangan yang memiliki penampakan dan cita rasa yang baik akan lebih diterima oleh konsumen
  3. fungsi tersier (tertiary function): bahan makanan harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh kita. Misalnya makanan tertentu dapat menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, dan lain-lain. Fungsi tersier ini dipengaruhi oleh tingkat kemakmuran dan kesadaran seseorang terhadap Kesehatan.

JENIS-JENIS PANGAN FUNGSIONAL

Berdasarkan Cara Pengolahannya Pangan fungsional digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu :

     1. Pangan fungsional alami

Merupakan pangan fungsional yang sudah tersedia di alam tanpa perlu pengolahan sama sekali.   

Contohnya :

  • Buah: berries, kiwi, pear, apel, jeruk, pisang
  • Sayur:  brokoli, kembang kol, kale, bayam, zucchini

     2. Pangan fungsional tradisional

Merupakan pangan fungsional yang diolah secara tradisional mengikuti cara pengolahan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Astawan (2011) beberapa contoh pangan tradisional Indonesia yang memenuhi persyaratan pangan fungsional adalah:

Contoh pangan fungsional tradisional di Indonesia:

  • minuman beras kencur, temulawak, kunyit-asam,
  • dadih (fermentasi susu khas Sumatera Barat), dali (fermentasi susu kerbau khas Sumatera Utara),
  • sekoteng atau bandrek, tempe, tape, dan jamu.

Contoh pangan fungsional tradisional di mancanegara:

  • Kefir
  • yoghurt

     3. Pangan fungsional modern

Merupakan pangan fungsional yang dibuat khusus menggunakan resep-resep baru.

Contohnya:

  • Mi instan yang diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral
  • Permen yang mengandung zat besi, vitamin, dan fruktooligosakarida
  • Pasta yang diperkaya serat pangan
  • Susu dan Yoghurt yang di fortifikasi

PERAN FUNGSIONAL FOOD

Beberapa manfaat fungsional food diantaranya:

     1. Mencegah kekurangan zat gizi

Berdasarkan Global Nutrition Report (GNR) tahun 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban gizi ganda. Untuk memperbaiki masalah gizi tersebut, pemerintah melakukan fortifikasi pada sejumlah pangan di Indonesia.

Sejak adanya makanan yang difortifikasi, prevalensi kekurangan gizi menurun. Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan ada penurunan stunting turun dari 37,2% berdasarkan Riskesdas 2013 menjadi 30,8% tahun 2018. 

     2. Mengandung zat gizi yang dapat mencegah penyakit

Pangan fungsional diantaranya adalah makanan yang kaya antioksidan. Antioksidan dapat menetralisir kandungan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Beberapa pangan fungsional juga mengandung asam lemak omega 3 yang tinggi, kandungan lemak yang sehat untuk menurunkan inflamasi, meningkatkan fungsi otak, dan meningkatkan Kesehatan jantung (Swanson, 2012).

PERBEDAAN PANGAN FUNGSIONAL DAN PANGAN SUPLEMEN

Pangan fungsional dan pangan suplemen, adalah jenis pangan kesehatan yang berfungsi untuk memelihara kesehatan tubuh dan dapat pula mencegah penyakit, bukan untuk tujuan menyambuhkan penyakit. Perbedaan kedua jenis pangan tersebut ialah dari bentuknya. Pangan suplemen bentuknya seperti obat-obatan (tablet, pil, kapsul dan sebagainya), sedangkan pangan fungsional memiliki bentuk dan rupa yang dapat diterima dan dirasakan atau dinikmati seperti layaknya makanan atau minuman oleh para konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Winarno, F.G. 2012. FOODREVIEW INDONESIA Edisi Januari. Diakses dari: https://www.foodreview.co.id/blog-56348-Perkembangan-Pangan-Fungsional.html

  2. Hastanto, W.Y. 2020. Studi Perbandingan Kebijakan Pangan Fungsional di Indonesia dan Beberapa Negara Lainnya. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/ 342497209_Studi_Perbandingan_ Kebijakan_Pangan_Fungsional_di_Indonesia_dan_Beberapa_Negara_Lainnya/ link/5fe4cb27a6fdccdcb8fbe6d5/download

  3. Swanson, Danielle. Omega-3 fatty acids EPA and DHA: health benefits throughout life. Adv Nutr. 2012 Jan;3(1):1-7. doi: 10.3945/an.111.000893

  4. Link, Rachael. 2020. What Are Functional Foods? All You Need to Know. Diakses dari: Functional Foods: Definition, Benefits, and Uses (healthline.com).

  5. Widyawati, 2011. Perbaiki Gizi, Pemerintah Lakukan Fortifikasi Pangan. Diakses dari: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20190219/1729527/perbaiki-gizi-pemerintah-lakukan-fortifikasi-pangan/

  6. Astawan, Made. 2017. Pangan Fungsional Untuk Kesehatan yang Optimal. Diakses dari http://pangan.babelprov.go.id/content/pangan-fungsional-untuk-kesehatan-yang-optimal

Annisa Rizkitania, S.Gz
Ahli Gizi Dietindo Catering Malang

18 AGUSTUS 2021

MENGENAL LEBIH DEKAT FUNCTIONAL FOOD

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK 00.05.52.0685 TAHUN 2005 tentang Ketentuan Pokok Pangan Fungsional, pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen pangan yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu diluar fungsi dasarnya, terbukti tidak membahayakan, dan bermanfaat bagi Kesehatan.

Pada kehidupan sekarang ini, kebutuhan seseorang terhadap makan bukan hanya sekedar untuk merasa kenyang, namun yang lebih utama adalah untuk mecapai kesehatan dan kebugaran yang optimal. Menurut Astawan (2011), fungsi pangan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

  1. fungsi primer (primary function): fungsi pangan yang utama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik
  2. fungsi sekunder (secondary function): bahan pangan yang memiliki penampakan dan cita rasa yang baik akan lebih diterima oleh konsumen
  3. fungsi tersier (tertiary function): bahan makanan harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh kita. Misalnya makanan tertentu dapat menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, dan lain-lain. Fungsi tersier ini dipengaruhi oleh tingkat kemakmuran dan kesadaran seseorang terhadap Kesehatan.

JENIS-JENIS PANGAN FUNGSIONAL

Berdasarkan Cara Pengolahannya Pangan fungsional digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu :

     1. Pangan fungsional alami

Merupakan pangan fungsional yang sudah tersedia di alam tanpa perlu pengolahan sama sekali.   

Contohnya :

  • Buah: berries, kiwi, pear, apel, jeruk, pisang
  • Sayur:  brokoli, kembang kol, kale, bayam, zucchini

     2. Pangan fungsional tradisional

Merupakan pangan fungsional yang diolah secara tradisional mengikuti cara pengolahan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Astawan (2011) beberapa contoh pangan tradisional Indonesia yang memenuhi persyaratan pangan fungsional adalah:

Contoh pangan fungsional tradisional di Indonesia:

  • minuman beras kencur, temulawak, kunyit-asam,
  • dadih (fermentasi susu khas Sumatera Barat), dali (fermentasi susu kerbau khas Sumatera Utara),
  • sekoteng atau bandrek, tempe, tape, dan jamu.

Contoh pangan fungsional tradisional di mancanegara:

  • Kefir
  • yoghurt

     3. Pangan fungsional modern

Merupakan pangan fungsional yang dibuat khusus menggunakan resep-resep baru.

Contohnya:

  • Mi instan yang diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral
  • Permen yang mengandung zat besi, vitamin, dan fruktooligosakarida
  • Pasta yang diperkaya serat pangan
  • Susu dan Yoghurt yang di fortifikasi

PERAN FUNGSIONAL FOOD

Beberapa manfaat fungsional food diantaranya:

     1. Mencegah kekurangan zat gizi

Berdasarkan Global Nutrition Report (GNR) tahun 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban gizi ganda. Untuk memperbaiki masalah gizi tersebut, pemerintah melakukan fortifikasi pada sejumlah pangan di Indonesia.

Sejak adanya makanan yang difortifikasi, prevalensi kekurangan gizi menurun. Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan ada penurunan stunting turun dari 37,2% berdasarkan Riskesdas 2013 menjadi 30,8% tahun 2018. 

     2. Mengandung zat gizi yang dapat mencegah penyakit

Pangan fungsional diantaranya adalah makanan yang kaya antioksidan. Antioksidan dapat menetralisir kandungan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Beberapa pangan fungsional juga mengandung asam lemak omega 3 yang tinggi, kandungan lemak yang sehat untuk menurunkan inflamasi, meningkatkan fungsi otak, dan meningkatkan Kesehatan jantung (Swanson, 2012).

PERBEDAAN PANGAN FUNGSIONAL DAN PANGAN SUPLEMEN

Pangan fungsional dan pangan suplemen, adalah jenis pangan kesehatan yang berfungsi untuk memelihara kesehatan tubuh dan dapat pula mencegah penyakit, bukan untuk tujuan menyambuhkan penyakit. Perbedaan kedua jenis pangan tersebut ialah dari bentuknya. Pangan suplemen bentuknya seperti obat-obatan (tablet, pil, kapsul dan sebagainya), sedangkan pangan fungsional memiliki bentuk dan rupa yang dapat diterima dan dirasakan atau dinikmati seperti layaknya makanan atau minuman oleh para konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Winarno, F.G. 2012. FOODREVIEW INDONESIA Edisi Januari. Diakses dari: https://www.foodreview.co.id/blog-56348-Perkembangan-Pangan-Fungsional.html

  2. Hastanto, W.Y. 2020. Studi Perbandingan Kebijakan Pangan Fungsional di Indonesia dan Beberapa Negara Lainnya. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/ 342497209_Studi_Perbandingan_ Kebijakan_Pangan_Fungsional_di_Indonesia_dan_Beberapa_Negara_Lainnya/ link/5fe4cb27a6fdccdcb8fbe6d5/download

  3. Swanson, Danielle. Omega-3 fatty acids EPA and DHA: health benefits throughout life. Adv Nutr. 2012 Jan;3(1):1-7. doi: 10.3945/an.111.000893

  4. Link, Rachael. 2020. What Are Functional Foods? All You Need to Know. Diakses dari: Functional Foods: Definition, Benefits, and Uses (healthline.com).

  5. Widyawati, 2011. Perbaiki Gizi, Pemerintah Lakukan Fortifikasi Pangan. Diakses dari: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20190219/1729527/perbaiki-gizi-pemerintah-lakukan-fortifikasi-pangan/

  6. Astawan, Made. 2017. Pangan Fungsional Untuk Kesehatan yang Optimal. Diakses dari http://pangan.babelprov.go.id/content/pangan-fungsional-untuk-kesehatan-yang-optimal

Annisa Rizkitania, S.Gz
Ahli Gizi Dietindo Catering Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

Makanan Seimbang Dimulai Dari “Isi Piringku”

10 DESEMBER 2020

Makanan Seimbang Dimulai Dari "Isi Piringku"

Riskedas 2018 menyebutkan, bahwa prevalensi obesitas atau kelebihan berat badan dan penyakit tidak menular seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013. Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular dan obesitas ini berhubungan dengan pola hidup, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta polamakan.

Pola makan merupakan perilaku penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi. Hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorangakan  mempengaruhi asupan gizimereka, sehingga akan mempengaruhi kesehatan individu dan masyarakat.Dan seperti yang dilansirdalamPermenkes RI tahun 2014, agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular terkait gizi, maka pola makan masyarakat perlu ditingkatkan kearah konsumsi gizi seimbang.

Gizi Seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

Untuk memudahkan pengaplikasian dalam konsumsi harian, maka dikenalkanlah dua visual gizi seimbang kepada masyarakat, yaitu:

  • Tumpeng gizi Seimbang

dimaksudkan sebagai gambaran dan penjelasan sederhana serta digambarkan secara umum tentang panduan porsi (ukuran) makanan dan minum serta aktifitas fisik sehari-hari, termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan serta memantau berat badan.

  • Piring Makanku

dimaksudkan sebagai panduan yang menunjukkan sajian makanan dan minuman pada setiap kali makan (misal sarapan, makan siang dan makan malam).

Piring Makanku, Acuan Sajian Sekali Makanku

Visual Piring Makanku ini menggambarkan anjuran makan sehat dimana separuh (50%) dari total jumlah makanan setiap kali makan adalah sebesar ⅔ bagian adalah porsi sayur dan ⅓ bagian adalah buah, dan separoh sisanya (50%) lagi terdiridari ⅔ makanan pokok dan ⅓ bagian adalah lauk-pauk.

  1. Makanan Pokok, menempati ⅔ bagian dari separuh piring. Makanan pokok ini adalah bahan makanan dari kelompok karbohirat yang merupakan sumber energy utama sehingga jenis makanan pokok ini tidak hanya mengacu pada nasi saja, tapi dapat digantikan dengan makanan pokok lainnya seperti mie, umbi-umbian, sagu atau bahkan roti dan tepung-tepungan tergantung ketersediaan bahan di daerah tersebut.
  2. Lauk–pauk, memiliki porsi ⅓ bagian dari separuh piring. Terdiri atas sumber protein hewani (yaitu ikan dan hasil laut lainnya, daging, daging unggas, telur dan olahannya) dan juga nabati (kacang-kacangan dan olahannya seperti tahu, tempe dan oncom). Jenis lauk yang disajikan pun juga tergantung pada ketersediaan jenis lauk yang ada di daerah sekitarnya. Perludi ingat pula, bahwasanya setiap jenis lauk hewani dan nabati masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dimana asam amino dalam lauk hewani lebih lengkap dan lebih mudah serap, akan tetapi lauk nabati memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah disbanding lauk hewani. Oleh karena itu, konsumsi kedua jenis lauk ini juga harus seimbang.
  3. Buah, memiliki porsi ⅓ bagian dari separuh sisa piring. Buah merupakan bahan sumber vitamin, mineral, serat, air, antioksidan. Konsumsi berbagai jenis buah yang beraneka warna, dapat mencegah munculnya penyakit degeneratif.
  4. Sayur, menempati ⅔ bagian dari separuh sisa piring. Sama seperti buah, sayur juga sumber utama serat, mineral dan vitamin.

Piring makanku juga menganjurkan perlu minum setiap kali makan, bisa sebelum, ketika atau setelah makan. Makan dan minum tidak ada artinya bila tidak bersih dan aman termasuk tangan dan peralatan makan. Oleh karena itu sejalan dengan prinsip gizi seimbang makan dalam visual Piring Makanku juga dianjurkan untuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Karena Piring Makanku adalah panduan setiap kali makan , maka tidak diperlukan anjuran aktivitas fisik dan pemantauan berat badan. Kedua hal ini cukup divisualkan pada gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Daftar Pustaka :

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41/ Permenkes/ 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang
  2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2019. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 674 hal
  3. Germas. 2018. Leaflet Isi Piringku. Dikutip 1 Desember 2020 darifile:///D:/Artikel%20Gizi/LEAFLET-ISI-PIRINGKU.pdf
  4. Bakti Husada. 2014. Pedoman Umum Gizi Seimbang. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 99 hal
  5. Rokom. 2018. Potret Kesehatan Indonesia dari Riskesdas 2018. Dikutip 1 Desember 2020 dari http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20181102/0328464/potret-sehat-indonesia-riskesdas-2018/
Tim Ahli Gizi
RSI Aisyiyah Malang

10 DESEMBER 2020

Makanan Seimbang Dimulai Dari "Isi Piringku"

Riskedas 2018 menyebutkan, bahwa prevalensi obesitas atau kelebihan berat badan dan penyakit tidak menular seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013. Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular dan obesitas ini berhubungan dengan pola hidup, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta polamakan.

Pola makan merupakan perilaku penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi. Hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorangakan  mempengaruhi asupan gizimereka, sehingga akan mempengaruhi kesehatan individu dan masyarakat.Dan seperti yang dilansirdalamPermenkes RI tahun 2014, agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular terkait gizi, maka pola makan masyarakat perlu ditingkatkan kearah konsumsi gizi seimbang.

Gizi Seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

Untuk memudahkan pengaplikasian dalam konsumsi harian, maka dikenalkanlah dua visual gizi seimbang kepada masyarakat, yaitu:

  • Tumpeng gizi Seimbang

dimaksudkan sebagai gambaran dan penjelasan sederhana serta digambarkan secara umum tentang panduan porsi (ukuran) makanan dan minum serta aktifitas fisik sehari-hari, termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan serta memantau berat badan.

  • Piring Makanku

dimaksudkan sebagai panduan yang menunjukkan sajian makanan dan minuman pada setiap kali makan (misal sarapan, makan siang dan makan malam).

Piring Makanku, Acuan Sajian Sekali Makanku

Visual Piring Makanku ini menggambarkan anjuran makan sehat dimana separuh (50%) dari total jumlah makanan setiap kali makan adalah sebesar ⅔ bagian adalah porsi sayur dan ⅓ bagian adalah buah, dan separoh sisanya (50%) lagi terdiridari ⅔ makanan pokok dan ⅓ bagian adalah lauk-pauk.

  1. Makanan Pokok, menempati ⅔ bagian dari separuh piring. Makanan pokok ini adalah bahan makanan dari kelompok karbohirat yang merupakan sumber energy utama sehingga jenis makanan pokok ini tidak hanya mengacu pada nasi saja, tapi dapat digantikan dengan makanan pokok lainnya seperti mie, umbi-umbian, sagu atau bahkan roti dan tepung-tepungan tergantung ketersediaan bahan di daerah tersebut.
  2. Lauk–pauk, memiliki porsi ⅓ bagian dari separuh piring. Terdiri atas sumber protein hewani (yaitu ikan dan hasil laut lainnya, daging, daging unggas, telur dan olahannya) dan juga nabati (kacang-kacangan dan olahannya seperti tahu, tempe dan oncom). Jenis lauk yang disajikan pun juga tergantung pada ketersediaan jenis lauk yang ada di daerah sekitarnya. Perludi ingat pula, bahwasanya setiap jenis lauk hewani dan nabati masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dimana asam amino dalam lauk hewani lebih lengkap dan lebih mudah serap, akan tetapi lauk nabati memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah disbanding lauk hewani. Oleh karena itu, konsumsi kedua jenis lauk ini juga harus seimbang.
  3. Buah, memiliki porsi ⅓ bagian dari separuh sisa piring. Buah merupakan bahan sumber vitamin, mineral, serat, air, antioksidan. Konsumsi berbagai jenis buah yang beraneka warna, dapat mencegah munculnya penyakit degeneratif.
  4. Sayur, menempati ⅔ bagian dari separuh sisa piring. Sama seperti buah, sayur juga sumber utama serat, mineral dan vitamin.

Piring makanku juga menganjurkan perlu minum setiap kali makan, bisa sebelum, ketika atau setelah makan. Makan dan minum tidak ada artinya bila tidak bersih dan aman termasuk tangan dan peralatan makan. Oleh karena itu sejalan dengan prinsip gizi seimbang makan dalam visual Piring Makanku juga dianjurkan untuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Karena Piring Makanku adalah panduan setiap kali makan , maka tidak diperlukan anjuran aktivitas fisik dan pemantauan berat badan. Kedua hal ini cukup divisualkan pada gambar Tumpeng Gizi Seimbang.

Daftar Pustaka :

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41/ Permenkes/ 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang
  2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2019. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 674 hal
  3. Germas. 2018. Leaflet Isi Piringku. Dikutip 1 Desember 2020 darifile:///D:/Artikel%20Gizi/LEAFLET-ISI-PIRINGKU.pdf
  4. Bakti Husada. 2014. Pedoman Umum Gizi Seimbang. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 99 hal
  5. Rokom. 2018. Potret Kesehatan Indonesia dari Riskesdas 2018. Dikutip 1 Desember 2020 dari http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20181102/0328464/potret-sehat-indonesia-riskesdas-2018/
Tim Ahli Gizi
RSI Aisyiyah Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

BOBA, MINUMAN MILENIAL YANG TRENDING

22 NOVEMBER 2020

BOBA, MINUMAN MILENIAL YANG TRENDING

Boba juga dikenal sebagai bubble tea atau pearl, yang terkenal pada tahun 1980an di Taiwan. Boba terbuat dari tepung tapioka yang direbus hingga menghasilkan bola bulat kenyal yang kemudian ditambahkan ke minuman panas dan dingin. Boba tergolong dalam kelompok minuman pemanis gula yaitu penyumbang sejumlah gula tinggi yang menghasilkan tingkat obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus dan asam urat yang lebih tinggi (Swinburk et al, 2004; James and Kerr, 2005; Hu dan Malik, 2010; Harvard, 2012).

 

Kandungan Boba

Keuntungan Mengkonsumsi Boba (Bubble Tea)

Keuntungan yang didapatkan jika mengkonsumsi boba sangat sedikit. Satu-satunya manfaat boba adalah menjadi sumber energi bagi tubuh, karena mengandung karbohidrat dan gula. Selain itu, mengonsumsi minuman manis berisi boba dapat mengurangi kadar hormon kortisol dan menambah kadar hormon endorfin. Sehingga, timbul perasaan senang dan tenang (The Healthy, 2019).

 

Dampak Mengonsumsi Boba

Mengonsumsi boba secara berlebihan atau terlalu sering memiliki berbagai dampak buruk bagi kesehatan, antara lain:

1.  Peningkatan Berat Badan

     Bahan tambahan yang terdapat pada boba yaitu sirup dan pemanis mengandung kalori yang tinggi, belum lagi jika minuman tersebut ditambahkan susu yang akan meningkatkan kalori dari lemak tersebut. Sehingga jika terlalu mengkonsumsi boba dapat menyebabkan obesitas (Min, J.E., Green, D.B., & Kim, L., 2017), kadar kolesterol, trigliserida, penyakit jantung, stroke (Briggs, M.A., Petersen, K.S., & Kris-Etherton, P.M., 2017) dan diabetes mellitus dikarenakan kadar gula yang tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin. Selain itu juga dapat mengganggu proses pembuangan asam urat dari dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko munculnya penyakit asam urat (Batt, et al. 2014).

2.  Menimbulkan gangguan pencernaan

     Bahan utama boba yaitu tepung tapioka, dimana mengandung zat tambahan bernama guar gum (Link, R. Healthline, 2017). Guar gum membantu tapioka agar tetap menempel dan mengembang ketika direndam air. Jika dikonsumsi terlalu banyak, guar gum dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti perut kembung dan nyeri atau kram perut.

 

Alergi dan Interaksi

Karena tapioka terbuat dari singkong, maka tidak dianjurkan bagi seseorang yang memiliki alergi terhadap umbi (Ibero M, 2007).

 

Faktor yang Mempengaruhi Minat Milenial Mengonsumsi Boba

Faktor-faktor yang mempengaruhi milenial mengonsumsi boba yaitu mereka menyukai rasa manis dari minuman tersebut, menghilangkan rasa bosan, tertarik mencoba minuman boba. Sebagian besar mereka cenderung membeli minuman boba berdasarkan situasi dan frekuensi konsumsi lebih dari sekali dalam 1 minggu (Tinambunan, et al. 2020).

 

Tips Mengonsumsi Bubble Tea agar Kesehatan Tetap Terjaga

1.  Kurangi Penggunaan Gula

     Kurangi campuran gula, toping seperti puding pada minuman yang dipesan serta pilih ukuran gelas yang paling kecil.

2.  Banyak minum air Putih

     Saat mengonsumsi manis yang dicampur boba membuat seseorang cenderung malas minum air putih sehingga dapat berdampak negatif dan meningkatkan resiko kurangnya cairan tubuh.

3.  Pola hidup sehat

     Biasakan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga untuk menghindari obesitas yang berujung pada beberapa penyakit (The Healthy, 2019).

Daftar Pustaka :

1. Ibero M, Castillo MJ, Pineda F. Allergy to cassava: a new allergenic food with cross-reactivity to latex. J Investig Allergol Clin Immunol. 2007;17(6):409-12.

2. Briggs, M.A., Petersen, K.S., & Kris-Etherton, P.M. (2017). Saturated Fatty Acids and Cardiovascular Disease: Replacements for Saturated Fat to Reduce Cardiovascular Risk. Healthcare (Basel, Switzerland). 5(2), pp. 29.

3. Min, J.E., Green, D.B., & Kim, L. (2017). Calories and Sugars in Boba Milk Tea: Implications for Obesity Risk in Asian Pacific Islanders. Food Science & Nutrition. 5(1), pp. 38-45.

4. Link, R. Healthline (2017). Is Guar Gum Healthy or Unhealthy? The Surprising Truth.

Tim Ahli Gizi
RS Lavalette Malang

22 NOVEMBER 2020

BOBA, MINUMAN MILENIAL YANG TRENDING

Boba juga dikenal sebagai bubble tea atau pearl, yang terkenal pada tahun 1980an di Taiwan. Boba terbuat dari tepung tapioka yang direbus hingga menghasilkan bola bulat kenyal yang kemudian ditambahkan ke minuman panas dan dingin. Boba tergolong dalam kelompok minuman pemanis gula yaitu penyumbang sejumlah gula tinggi yang menghasilkan tingkat obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus dan asam urat yang lebih tinggi (Swinburk et al, 2004; James and Kerr, 2005; Hu dan Malik, 2010; Harvard, 2012).

Kandungan Boba

Keuntungan Mengkonsumsi Boba (Bubble Tea)

Keuntungan yang didapatkan jika mengkonsumsi boba sangat sedikit. Satu-satunya manfaat boba adalah menjadi sumber energi bagi tubuh, karena mengandung karbohidrat dan gula. Selain itu, mengonsumsi minuman manis berisi boba dapat mengurangi kadar hormon kortisol dan menambah kadar hormon endorfin. Sehingga, timbul perasaan senang dan tenang (The Healthy, 2019).

Dampak Mengonsumsi Boba

Mengonsumsi boba secara berlebihan atau terlalu sering memiliki berbagai dampak buruk bagi kesehatan, antara lain:

1.  Peningkatan Berat Badan

     Bahan tambahan yang terdapat pada boba yaitu sirup dan pemanis mengandung kalori yang tinggi, belum lagi jika minuman tersebut ditambahkan susu yang akan meningkatkan kalori dari lemak tersebut. Sehingga jika terlalu mengkonsumsi boba dapat menyebabkan obesitas (Min, J.E., Green, D.B., & Kim, L., 2017), kadar kolesterol, trigliserida, penyakit jantung, stroke (Briggs, M.A., Petersen, K.S., & Kris-Etherton, P.M., 2017) dan diabetes mellitus dikarenakan kadar gula yang tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin. Selain itu juga dapat mengganggu proses pembuangan asam urat dari dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko munculnya penyakit asam urat (Batt, et al. 2014).

2.  Menimbulkan gangguan pencernaan

     Bahan utama boba yaitu tepung tapioka, dimana mengandung zat tambahan bernama guar gum (Link, R. Healthline, 2017). Guar gum membantu tapioka agar tetap menempel dan mengembang ketika direndam air. Jika dikonsumsi terlalu banyak, guar gum dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti perut kembung dan nyeri atau kram perut.

Alergi dan Interaksi

Karena tapioka terbuat dari singkong, maka tidak dianjurkan bagi seseorang yang memiliki alergi terhadap umbi (Ibero M, 2007).

Faktor yang Mempengaruhi Minat Milenial Mengonsumsi Boba

Faktor-faktor yang mempengaruhi milenial mengonsumsi boba yaitu mereka menyukai rasa manis dari minuman tersebut, menghilangkan rasa bosan, tertarik mencoba minuman boba. Sebagian besar mereka cenderung membeli minuman boba berdasarkan situasi dan frekuensi konsumsi lebih dari sekali dalam 1 minggu (Tinambunan, et al. 2020).

Tips Mengonsumsi Bubble Tea agar Kesehatan Tetap Terjaga

1.  Kurangi Penggunaan Gula

     Kurangi campuran gula, toping seperti puding pada minuman yang dipesan serta pilih ukuran gelas yang paling kecil.

2.  Banyak minum air Putih

     Saat mengonsumsi manis yang dicampur boba membuat seseorang cenderung malas minum air putih sehingga dapat berdampak negatif dan meningkatkan resiko kurangnya cairan tubuh.

3.  Pola hidup sehat

     Biasakan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga untuk menghindari obesitas yang berujung pada beberapa penyakit (The Healthy, 2019).

Daftar Pustaka :

1. Ibero M, Castillo MJ, Pineda F. Allergy to cassava: a new allergenic food with cross-reactivity to latex. J Investig Allergol Clin Immunol. 2007;17(6):409-12.

2. Briggs, M.A., Petersen, K.S., & Kris-Etherton, P.M. (2017). Saturated Fatty Acids and Cardiovascular Disease: Replacements for Saturated Fat to Reduce Cardiovascular Risk. Healthcare (Basel, Switzerland). 5(2), pp. 29.

3. Min, J.E., Green, D.B., & Kim, L. (2017). Calories and Sugars in Boba Milk Tea: Implications for Obesity Risk in Asian Pacific Islanders. Food Science & Nutrition. 5(1), pp. 38-45.

4. Link, R. Healthline (2017). Is Guar Gum Healthy or Unhealthy? The Surprising Truth.

Tim Ahli Gizi
RS Lavalette Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

Alergi Makanan Pada Anak

23 OKTOBER 2020

Alergi Makanan Pada Anak

Siapa yang tidak kenal dengan istilah Alergi? Bahkan mungkin setiap orang pernah mengalaminya. Namun tahukah Anda, bahwa alergi makanan juga bisa dijumpai pada anak-anak. Alergi makanan terjadi pada 1-2% pasien dewasa dan kurang lebih 8% pada pasien anak-anak berusia kurang dari 6 tahun (Suryantoko, 2012) dan sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan termasuk yang disebabkan reaksi alergi (Mulia, 2008).

Alergi makanan adalah reaksi abnormal terhadap protein tertentu (alergen) yang masuk ke dalam tubuh yang terjadi setelah makan makanan yang mengandung alergen. Bahan makanan yang dapat menimbulkan alergi antara lain: coklat , buah-buahan bergetah, ikan laut, ayam, telur, susu sapi dan kacang-kacangan.

Keluhan utama pada alergi makanan adalah gatal-gatal, eksim, dermatitis, mual, muntah, diare, asthma/suara nafas berbunyi, mata berair dan pilek tidak sembuh-sembuh. Reaksi setiap orang terhadap alergi tidaklah sama, 2/3 pasien akan toleran setelah menghindarkan alergen slama 1-2 tahun. Dan 80% anak dengan alergi susu sapi akan toleran pada usia sekitar 2-3 tahun (Siregar, 2011).

Bagaimana dengan pelaksanaan diet alergi?

Pada bayi yang alergi terhadap susu sapi dapat diberikan susu formula bayi bebas susu sapi seperti formula kacang kedelai atau formula yang mengandung whey/casein terhidrolisa penuh. Uji eliminasi dan provokasi merupakan baku emas pemeriksaan yang harus dilakukan anak yang telah didiagnosa menderita alergi makanan. Trevino seperti dikutip Irawati dan Abdillah membagi uji eliminasi dan provokasi menjadi 3 tahap, yaitu:

1.  Tahap Eliminasi

Tahap eliminasi digunakan sebagai sarana diagnosis. Untuk anak yang belum diketahui penyebab alerginya, dalam waktu 2-3 minggu anak dibebaskan dari bahan makanan yang mengandung alergen kemudian dilakukan diet provokasi.

2.  Tahap Provokasi

Tahap provokasi merupakan perlakuan lanjutan setelah diet eliminasi. Anak diberikan makanan yang diduga menimbulkan reaksi alergi berdasarkan anamnesa, hasil test kulit/pemeriksaan invitro. Makanan yang diberikan harus dalam keadaan murni. Pada alergi tipe tetap, dosis makanan yang diberikan 8-10 gr dalam bentuk kering dan 100 ml untuk makanan dalam bentuk cair. Selama dilakukan tes provokasi, anak dilakukan observasi secara ketat terhadap timbulnya gejala minimal 2 jam pertama dari provokasi. Apabila ada gejala klinis timbul maka tes provokasi ini dihentikan dan dilakukan pengobatan sesuai tanda klinis yang timbul.

3.  Tahap Rechallenge

Setelah makanan penyebab alergi dapat teridentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah rechallenge yaitu memasukkan makanan tersebut dalam diet anak namun tidak sampai menimbulkan gejala. Jika rechallenge yang pertama hasilnya positif, maka bahan makanan tersebut harus dihindari selama beberapa bulan kedepan. Rechallenge dilakukan secara periodik sehingga anak benar-benar bebas gejala ketika mengonsumsi makanan tersebut.

Daftar Pustaka :

1. Candra, Yolanda, dkk. 2011. Gambaran Sensitivitas pada Alergen Makanan. Makalah Kesehatan Vol. 15 No. 1, Juni 2011

2. Safri, Mulia. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. Vol. 8 Nomor. 3, Desember 2018

3. Siregar, S. Jawitri. Jurnal Pediatri Vol. 3 Nomor. 3, Desember 2011

4. Suryantoko, Dwi RS. 2012. Peran Diet Eliminasi Alergi Makanan pada Diagnosis dan Terapi Rinitis Alergi. Universitas Airlangga: Surabaya.

Tim Ahli Gizi Bagian Anak
RSUD DR. SAIFUL ANWAR Malang

23 OKTOBER 2020

Alergi Makanan Pada Anak

Siapa yang tidak kenal dengan istilah Alergi? Bahkan mungkin setiap orang pernah mengalaminya. Namun tahukah Anda, bahwa alergi makanan juga bisa dijumpai pada anak-anak. Alergi makanan terjadi pada 1-2% pasien dewasa dan kurang lebih 8% pada pasien anak-anak berusia kurang dari 6 tahun (Suryantoko, 2012) dan sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan termasuk yang disebabkan reaksi alergi (Mulia, 2008).

Alergi makanan adalah reaksi abnormal terhadap protein tertentu (alergen) yang masuk ke dalam tubuh yang terjadi setelah makan makanan yang mengandung alergen. Bahan makanan yang dapat menimbulkan alergi antara lain: coklat , buah-buahan bergetah, ikan laut, ayam, telur, susu sapi dan kacang-kacangan.

Keluhan utama pada alergi makanan adalah gatal-gatal, eksim, dermatitis, mual, muntah, diare, asthma/suara nafas berbunyi, mata berair dan pilek tidak sembuh-sembuh. Reaksi setiap orang terhadap alergi tidaklah sama, 2/3 pasien akan toleran setelah menghindarkan alergen slama 1-2 tahun. Dan 80% anak dengan alergi susu sapi akan toleran pada usia sekitar 2-3 tahun (Siregar, 2011).

Bagaimana dengan pelaksanaan diet alergi?

Pada bayi yang alergi terhadap susu sapi dapat diberikan susu formula bayi bebas susu sapi seperti formula kacang kedelai atau formula yang mengandung whey/casein terhidrolisa penuh. Uji eliminasi dan provokasi merupakan baku emas pemeriksaan yang harus dilakukan anak yang telah didiagnosa menderita alergi makanan. Trevino seperti dikutip Irawati dan Abdillah membagi uji eliminasi dan provokasi menjadi 3 tahap, yaitu:

1.  Tahap Eliminasi

     Tahap eliminasi digunakan sebagai sarana diagnosis. Untuk anak yang belum diketahui penyebab alerginya, dalam waktu 2-3 minggu anak dibebaskan dari bahan makanan yang mengandung alergen kemudian dilakukan diet provokasi.

2.  Tahap Provokasi

     Tahap provokasi merupakan perlakuan lanjutan setelah diet eliminasi. Anak diberikan makanan yang diduga menimbulkan reaksi alergi berdasarkan anamnesa, hasil test kulit/pemeriksaan invitro. Makanan yang diberikan harus dalam keadaan murni. Pada alergi tipe tetap, dosis makanan yang diberikan 8-10 gr dalam bentuk kering dan 100 ml untuk makanan dalam bentuk cair. Selama dilakukan tes provokasi, anak dilakukan observasi secara ketat terhadap timbulnya gejala minimal 2 jam pertama dari provokasi. Apabila ada gejala klinis timbul maka tes provokasi ini dihentikan dan dilakukan pengobatan sesuai tanda klinis yang timbul.

3.  Tahap Rechallenge

     Setelah makanan penyebab alergi dapat teridentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah rechallenge yaitu memasukkan makanan tersebut dalam diet anak namun tidak sampai menimbulkan gejala. Jika rechallenge yang pertama hasilnya positif, maka bahan makanan tersebut harus dihindari selama beberapa bulan kedepan. Rechallenge dilakukan secara periodik sehingga anak benar-benar bebas gejala ketika mengonsumsi makanan tersebut.

Daftar Pustaka :

1. Candra, Yolanda, dkk. 2011. Gambaran Sensitivitas pada Alergen Makanan. Makalah Kesehatan Vol. 15 No. 1, Juni 2011

2. Safri, Mulia. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. Vol. 8 Nomor. 3, Desember 2018

3. Siregar, S. Jawitri. Jurnal Pediatri Vol. 3 Nomor. 3, Desember 2011

4. Suryantoko, Dwi RS. 2012. Peran Diet Eliminasi Alergi Makanan pada Diagnosis dan Terapi Rinitis Alergi. Universitas Airlangga: Surabaya.

Tim Ahli Gizi Bagian Anak
RSUD DR. SAIFUL ANWAR Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

Manfaat kopi? Emang ada?

21 SEPTEMBER 2020

Manfaat kopi? Emang ada?

Kopi adalah salah satu minuman yang paling populer di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri kopi seakan menjadi tren tersendiri bagi kalangan muda maupun tua sebagai teman bersantai. Jika sudah banyak pembahasan mengenai kerugian mengonsumsi kopi secara berlebihan, lantas adakah manfaat dari kopi yang bisa kita dapatkan?

Kopi memiliki kandungan utama berupa kafein serta beberapa kandungan bahan kimia yang kompleks termasuk karbohidrat, lemak, senyawa nitrogen, vitamin, mineral, alkaloid, dan senyawa fenolik. Kandungan kafein dalam kopi sangat bervariasi, berkisar antara 30mg dan 175mg dalam secangkir (150mL) kopi home-prepared.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mengonsumsi kopi dalam jumlah ringan – sedang tidak memiliki dampak buruk bahkan mungkin menawarkan beberapa manfaat kesehatan untuk tubuh. Namun, banyak aspek yang perlu diperhatikan dan diperlukan penelitian lebih lanjut terkait uji klinis untuk menjelaskan efek positif kopi pada kesehatan manusia.

Beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari kopi antara lain:

1.  Meningkatkan Kekuatan Otot

Meskipun kecil, kafein memiliki pengaruh yang signifikan untuk meningkatkan kekuatan otot dan tenaga pada atlet. Asupan kafein akut (1-6mg / berat tubuh) menunjukkan manfaat ergogenik yang sama untuk kinerja aerobik pada atlet pria dan wanita.

2.  Meningkatkan Kinerja Kognitif

Kafein dan polifenol yang terdapat pada kopi juga tampaknya membantu menurunkan risiko penyakit Alzheimer. Bukti yang muncul dari uji coba pada hewan juga menghubungkan asam klorogenat dengan pencegahan penyakit neurodegeneratif dan penuaan. Dari 26 studi meta-analisis, peminum kopi memiliki risiko penyakit Parkinson 25% lebih rendah dibandingkan dengan non-peminum kopi. Kemungkinan mekanismenya terkait dengan kapasitas kafein untuk memblokir reseptor adenosin A2 di otak.

3.  Mengurangi Risiko Penyakit Kardiovaskular dan Diabetes Mellitus Tipe 2

Kopi yang memiliki kandungan kafein sebenarnya memiliki potensi antioksidan dan anti-inflamasi yang cukup tinggi, memperbaiki disfungsi endotel dan mengurangi resistensi insulin yang merupakan mekanisme kunci untuk perlindungan kardiovaskular serta diabetes mellitus tipe 2.

4.  Menurunkan Risiko Gangguan Hati

Dalam sebuah studi klinis yang dilakukan di Brazil, konsumsi kafein lebih dari 123mg/hari juga dikaitkan dengan penurunan fibrosis hati. Penelitian tersebut juga mengamati efek positif dari konsumsi kopi secara teratur pada pasien dengan hepatitis C kronis. Sejumlah penelitian in vitro telah menunjukkan peran kuat asam klorogenat yang ada dalam kopi dalam melindungi hati dari kerusakan di berbagai tingkatan, mungkin dengan mencegahnya. apoptosis sel dan kerusakan stres oksidatif akibat aktivasi sistem antioksidan alami dan anti-inflamasi tubuh.

5.  Mencegah Kanker

Data epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi kopi sebenarnya dikaitkan dengan penurunan risiko kanker terutama kanker hati dan endometrium. Ada beberapa senyawa dalam kopi yang diketahui berperan sebagai pelindung melawan kanker, dan yang paling terkenal adalah asam klorogenat. dan turunannya. Kontribusi melanoidin juga telah disarankan untuk menurunkan risiko kanker usus besar

Namun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait ketepatan manfaat kopi untuk kesehatan manusia termasuk dosis yang disarankan dan dosis batasannya. Konsumsi kopi yang berlebihan dapat meningkatkan resiko kecemasan, menurunkan kualitas tidur, mempengaruhi tekanan darah, meningkatkan kolesterol serta memperparah kondisi refluks gastroesofagus (GERD) atau gangguan lambung.

Yang lebih penting, untuk mencegah berbagai penyakit adalah memperbaiki faktor gaya hidup seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol dan pengelolaan stress yang baik.

Daftar Pustaka :

1. Bae, Jae-Hoon, et al. 2014. Coffee and Health. Integrative Medicine Research (189-191).

2. Coso, Juan Del, et al. 2020. Effects of Caffeine and Coffee on Human Functioning. Nutritients

3. Farah, A. 2018. Nutritional and Health Effects of Coffee. Achieving Sustainable Cultivation of Coffee (pp.259-289).

Eka Nanda Wulandari, S.Gz
Nutrisionis Dietindo Catering Services Malang

21 SEPTEMBER 2020

Manfaat kopi? Emang ada?

Kopi adalah salah satu minuman yang paling populer di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri kopi seakan menjadi tren tersendiri bagi kalangan muda maupun tua sebagai teman bersantai. Jika sudah banyak pembahasan mengenai kerugian mengonsumsi kopi secara berlebihan, lantas adakah manfaat dari kopi yang bisa kita dapatkan?

Kopi memiliki kandungan utama berupa kafein serta beberapa kandungan bahan kimia yang kompleks termasuk karbohidrat, lemak, senyawa nitrogen, vitamin, mineral, alkaloid, dan senyawa fenolik. Kandungan kafein dalam kopi sangat bervariasi, berkisar antara 30mg dan 175mg dalam secangkir (150mL) kopi home-prepared.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mengonsumsi kopi dalam jumlah ringan – sedang tidak memiliki dampak buruk bahkan mungkin menawarkan beberapa manfaat kesehatan untuk tubuh. Namun, banyak aspek yang perlu diperhatikan dan diperlukan penelitian lebih lanjut terkait uji klinis untuk menjelaskan efek positif kopi pada kesehatan manusia.

Beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari kopi antara lain:

1.  Meningkatkan Kekuatan Otot

Meskipun kecil, kafein memiliki pengaruh yang signifikan untuk meningkatkan kekuatan otot dan tenaga pada atlet. Asupan kafein akut (1-6mg / berat tubuh) menunjukkan manfaat ergogenik yang sama untuk kinerja aerobik pada atlet pria dan wanita.

2.  Meningkatkan Kinerja Kognitif

Kafein dan polifenol yang terdapat pada kopi juga tampaknya membantu menurunkan risiko penyakit Alzheimer. Bukti yang muncul dari uji coba pada hewan juga menghubungkan asam klorogenat dengan pencegahan penyakit neurodegeneratif dan penuaan. Dari 26 studi meta-analisis, peminum kopi memiliki risiko penyakit Parkinson 25% lebih rendah dibandingkan dengan non-peminum kopi. Kemungkinan mekanismenya terkait dengan kapasitas kafein untuk memblokir reseptor adenosin A2 di otak.

3.  Mengurangi Risiko Penyakit Kardiovaskular dan Diabetes Mellitus Tipe 2

Kopi yang memiliki kandungan kafein sebenarnya memiliki potensi antioksidan dan anti-inflamasi yang cukup tinggi, memperbaiki disfungsi endotel dan mengurangi resistensi insulin yang merupakan mekanisme kunci untuk perlindungan kardiovaskular serta diabetes mellitus tipe 2.

4.  Menurunkan Risiko Gangguan Hati

Dalam sebuah studi klinis yang dilakukan di Brazil, konsumsi kafein lebih dari 123mg/hari juga dikaitkan dengan penurunan fibrosis hati. Penelitian tersebut juga mengamati efek positif dari konsumsi kopi secara teratur pada pasien dengan hepatitis C kronis. Sejumlah penelitian in vitro telah menunjukkan peran kuat asam klorogenat yang ada dalam kopi dalam melindungi hati dari kerusakan di berbagai tingkatan, mungkin dengan mencegahnya. apoptosis sel dan kerusakan stres oksidatif akibat aktivasi sistem antioksidan alami dan anti-inflamasi tubuh.

5.  Mencegah Kanker

Data epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi kopi sebenarnya dikaitkan dengan penurunan risiko kanker terutama kanker hati dan endometrium. Ada beberapa senyawa dalam kopi yang diketahui berperan sebagai pelindung melawan kanker, dan yang paling terkenal adalah asam klorogenat. dan turunannya. Kontribusi melanoidin juga telah disarankan untuk menurunkan risiko kanker usus besar

Namun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait ketepatan manfaat kopi untuk kesehatan manusia termasuk dosis yang disarankan dan dosis batasannya. Konsumsi kopi yang berlebihan dapat meningkatkan resiko kecemasan, menurunkan kualitas tidur, mempengaruhi tekanan darah, meningkatkan kolesterol serta memperparah kondisi refluks gastroesofagus (GERD) atau gangguan lambung.

Yang lebih penting, untuk mencegah berbagai penyakit adalah memperbaiki faktor gaya hidup seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol dan pengelolaan stress yang baik.

Daftar Pustaka :

1. Bae, Jae-Hoon, et al. 2014. Coffee and Health. Integrative Medicine Research (189-191).

2. Coso, Juan Del, et al. 2020. Effects of Caffeine and Coffee on Human Functioning. Nutritients

3. Farah, A. 2018. Nutritional and Health Effects of Coffee. Achieving Sustainable Cultivation of Coffee (pp.259-289).

Eka Nanda Wulandari, S.Gz
Nutrisionis Dietindo Catering Services Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

Diabetes Gestasional

WASPADAI DIABETES GESTASIONAL

Kris Setiowati, S.Gz, RD
Dietisien RS Tk II dr. Soepraoen Malang

WASPADAI DIABETES GESTASIONAL

Kris Setiowati, S.Gz, RD
Dietisien RS Tk II dr. Soepraoen Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

BUS P-P

26 JUNI 2020

BUS P-P (Boost Your Immune System with Probiotics And Prebiotics)

Peran dasar makanan selain sebagai sumber penyedia zat gizi yang diperlukan dalam tubuh yakni juga sebagai penyokong pertumbuhan dan perkembangan organisme. Beberapa aspek tambahan semakin menjadi penting termasuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit, terlebih di saat-saat kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini. Semakin kuat daya imunitas tubuh, maka tubuh tidak mudah rentan terkena penyakit. Keberadaan 80% sel imun terdapat pada saluran cerna,  maka dari itu menjaga saluran pencernaan agar tetap sehat adalah kunci dari imunitas yang baik. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan daya imunitas tubuh, salah satunya dengan mengkonsumsi makanan mengandung probiotik dan prebiotik, bahkan kombinasi keduanya pun akan menjadi semakin lebih baik.

Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup akan memberikan manfaat pada kesehatan tubuh. Mekanisme probiotik memiliki dampak pada mikrobiota usus atau meningkatkan fungsi kekebalan tubuh (imunomodulasi). Probiotik biasa dijumpai pada makanan atau minuman fermentasi. Contohnya seperti pada yogurt, tempe, kefir, keju, buttermilk, minuman Yakult, makanan fermentasi khas Jepang yakni Natto dan Miso, makanan khas Korea yakni Kimchi, makanan fermentasi khas Jerman yakni saurkreaut yang terbuat dari kubis, Pickles (sayuran maupun buah yang difermentasi menggunakan cuka & garam),  serta teh Kombucha. Bakteri-bakteri probiotik seperti (Lactobacillus dan Bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat mengakibatkan turunnya pH saluran pencernaan yang menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen (bakteri jahat). (1,3)

 Sedangkan prebiotik adalah tipe jenis karbohidrat yang tidak dicerna & diserap sempurna yang memberikan efek positif terhadap mikroflora usus dengan cara menstimulasi pertumbuhan bakteri baik pada usus besar. Singkatnya, prebiotik adalah makanan bagi probiotik. Prebiotik mudah dijumpai pada makanan tinggi serat dan mengandung oligosakarida. Beberapa prebiotik yang sering ditambahkan pada bahan pangan adalah inulin, fruktooligosakarida (FOS) dan galaktooligosakarida (GOS). Contoh sumber makanan yang mengandung prebiotik dapat dijumpai pada sayuran, buah dan beberapa sumber karbohidrat seperti singkong, kentang, apel, kiwi, kubis, bawang merah, kurma, bawang putih, alpukat, mangga, pepaya dan kacang-kacangan (kacang mete, flax seed, kacang pistachio). Prebiotik mampu mengatur aksi enzim dengan mempengaruhi peningkatan produksi asam lemak rantai pendek, produksi asam lemak rantai pendek diidentifikasi sebagai modulator asetilasi histon. Sejumlah prebiotik menyebabkan peningkatan jumlah limfosit atau leukosit dalam jaringan limfoid terkait usus (GALT) dalam darah perifer sehingga dapat merangsang fungsi fagositosis makrofag intra-inflamasi. (1,2)

Kombinasi sinergis antara probiotik (bakteri Lactobacillus & Bifidobacterium) dan prebiotik (kandungan FOS pada produk makanan) yang disebut sinbiotik dapat mempengaruhi jumlah mikroflora dalam saluran cerna dengan meningkatkan jumlah substrat sehingga dapat memacu pertumbuhan, meningkatkan daya tahan hidup probiotik, sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. (3)

Daftar Pustaka :

1. Ganesha, I.G.H dan I Made S.W. 2016. Probiotik. Fakultas Kedokteran. Bali: Universitas Udayana

2. Lewis, S. 2017. Probiotics and Prebiotics: What’s The Difference?. Healthline. http:www.authoritynutrition.com/probiotics-and-prebiotics/ Diakses pada 15 Juni 2020

3. Markowiak, P. dan Katarzyna S. 2017. Effects of Probiotis, Prebiotics and Synbiotics on Human Health. Nutrients.Vol 9(9). p1021

Aprilia Sri Nurhadi, S.Tr.Gz
Mahasiswa Pendidikan Profesi Dietisien Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

26 JUNI 2020

BUS P-P (Boost Your Immune System with Probiotics And Prebiotics)

Peran dasar makanan selain sebagai sumber penyedia zat gizi yang diperlukan dalam tubuh yakni juga sebagai penyokong pertumbuhan dan perkembangan organisme. Beberapa aspek tambahan semakin menjadi penting termasuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit, terlebih di saat-saat kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini. Semakin kuat daya imunitas tubuh, maka tubuh tidak mudah rentan terkena penyakit. Keberadaan 80% sel imun terdapat pada saluran cerna,  maka dari itu menjaga saluran pencernaan agar tetap sehat adalah kunci dari imunitas yang baik. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan daya imunitas tubuh, salah satunya dengan mengkonsumsi makanan mengandung probiotik dan prebiotik, bahkan kombinasi keduanya pun akan menjadi semakin lebih baik.

Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup akan memberikan manfaat pada kesehatan tubuh. Mekanisme probiotik memiliki dampak pada mikrobiota usus atau meningkatkan fungsi kekebalan tubuh (imunomodulasi). Probiotik biasa dijumpai pada makanan atau minuman fermentasi. Contohnya seperti pada yogurt, tempe, kefir, keju, buttermilk, minuman Yakult, makanan fermentasi khas Jepang yakni Natto dan Miso, makanan khas Korea yakni Kimchi, makanan fermentasi khas Jerman yakni saurkreaut yang terbuat dari kubis, Pickles (sayuran maupun buah yang difermentasi menggunakan cuka & garam),  serta teh Kombucha. Bakteri-bakteri probiotik seperti (Lactobacillus dan Bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat mengakibatkan turunnya pH saluran pencernaan yang menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen (bakteri jahat). (1,3)

Sedangkan prebiotik adalah tipe jenis karbohidrat yang tidak dicerna & diserap sempurna yang memberikan efek positif terhadap mikroflora usus dengan cara menstimulasi pertumbuhan bakteri baik pada usus besar. Singkatnya, prebiotik adalah makanan bagi probiotik. Prebiotik mudah dijumpai pada makanan tinggi serat dan mengandung oligosakarida. Beberapa prebiotik yang sering ditambahkan pada bahan pangan adalah inulin, fruktooligosakarida (FOS) dan galaktooligosakarida (GOS). Contoh sumber makanan yang mengandung prebiotik dapat dijumpai pada sayuran, buah dan beberapa sumber karbohidrat seperti singkong, kentang, apel, kiwi, kubis, bawang merah, kurma, bawang putih, alpukat, mangga, pepaya dan kacang-kacangan (kacang mete, flax seed, kacang pistachio). Prebiotik mampu mengatur aksi enzim dengan mempengaruhi peningkatan produksi asam lemak rantai pendek, produksi asam lemak rantai pendek diidentifikasi sebagai modulator asetilasi histon. Sejumlah prebiotik menyebabkan peningkatan jumlah limfosit atau leukosit dalam jaringan limfoid terkait usus (GALT) dalam darah perifer sehingga dapat merangsang fungsi fagositosis makrofag intra-inflamasi. (1,2)

Kombinasi sinergis antara probiotik (bakteri Lactobacillus & Bifidobacterium) dan prebiotik (kandungan FOS pada produk makanan) yang disebut sinbiotik dapat mempengaruhi jumlah mikroflora dalam saluran cerna dengan meningkatkan jumlah substrat sehingga dapat memacu pertumbuhan, meningkatkan daya tahan hidup probiotik, sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. (3)

Daftar Pustaka :

1. Ganesha, I.G.H dan I Made S.W. 2016. Probiotik. Fakultas Kedokteran. Bali: Universitas Udayana

2. Lewis, S. 2017. Probiotics and Prebiotics: What’s The Difference?. Healthline. http:www.authoritynutrition.com/probiotics-and-prebiotics/ Diakses pada 15 Juni 2020

3. Markowiak, P. dan Katarzyna S. 2017. Effects of Probiotis, Prebiotics and Synbiotics on Human Health. Nutrients.Vol 9(9). p1021

Aprilia Sri Nurhadi, S.Tr.Gz
Mahasiswa Pendidikan Profesi Dietisien Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

PENGATURAN MAKAN DIABETISI (PEMANIS) SELAMA PUASA RAMADHAN

PENGATURAN MAKAN DIABETISI (PEMANIS) SELAMA PUASA RAMADHAN

Diabetisi adalah istilah/ sebutan bagi seseorang yang menderita diabetes melitus. Selama bulan Ramadhan, tidak semua diabetisi boleh menjalankan ibadah puasa. Untuk mengetahui apakah diabetisi boleh berpuasa atau tidak dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Bagi diabetisi yang boleh menjalankan puasa diperlukan pengaturan makan yang tepat, kontrol gula darah secara rutin & mandiri, konsumsi obat secara teratur, dan olahraga. Hal ini bertujuan agar gula darah tetap terkontrol. Dalam artikel ini akan dibahas tentang pengaturan makan secara umum bagi diabetisi yang menjalankan puasa Ramadhan.

 

1. Konsumsi makanan dengan jumlah dan jenis sesuai dengan kebutuhan. Untuk mengetahui kebutuhan energi diabetisi dalam sehari, diabetisi bisa berkonsultasi dengan Ahli Gizi/ Dietisien. Secara umum total kebutuhan energi diabetisi selama puasa adalah sebagai berikut (1,2)

2. Konsumsi makanan porsi kecil tapi sering. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya peningkatan gula darah secara cepat. Diabetisi dapat mengkonsumsi makanan sebanyak 3-4x makan dengan rincian sebagai berikut (1,2)

3. Konsumsi air putih minimal 8 gelas untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Air putih dapat dikonsumsi pada saat: berbuka puasa, setelah sholat magrib, setelah makan malam, setelah sholat isyak, setelah tarawih, sebelum tidur, setelah bangun tidur, dan setelah mengkonsumsi menu sahur.

4. Hindari konsumsi teh, kopi, dan minuman bersoda. Minuman tersebut dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga meningkatkan risiko dehidrasi saat berpuasa

5. Konsumsi makanan utama/ makanan lengkap yang beraneka ragam, bergizi seimbang dan sesuai dengan isi piringku. Makanan lengkap yang dikonsumsi sebaiknya mengandung 40-50% karbohidrat, 20-30% protein, dan <35% lemak (1,2).

6. Pilihlah bahan makanan sumber karbohidrat yang rendah glikemik indeksnya seperti nasi merah, roti gandum, jagung, sayur, dan beberapa buah seperti apel, alpukat, tomat, dan buah pear(1).

7. Pilihlah bahan makanan yang mengandung protein seperti lauk nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan) dan lauk hewani (telur, daging ayam tanpa kulit, daging sapi tanpa lemak, ikan, susu, dan yogurt)(1).

8. Batasi penggunaan minyak atau bahan makanan yang diolah dengan digoreng atau dengan penambahan santan. Dalam satu sajian isi piringku usahakan hanya ada 1 lauk yang diolah dengan digoreng atau sayur yang diolah dengan disantan (pilih salah satu)

9. Berbuka Puasa. Saat berbuka puasa awali dengan konsumsi buah (misalnya kurma, bukan manisan kurma atau semangka dalam porsi kecil) dan air putih. Hal ini dikarenakan buah mengandung gula alami dan zat gizi mikro seperti magnesium yang keduanya berfungsi untuk membentuk energi di dalam tubuh, sehingga bisa memulihkan tenaga setelah berpuasa seharian.

10. Hindari konsumsi makanan mani-manis saat berbuka puasa. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan gula darah dan tidak memulihkan tenaga, bahkan bisa menyebabkan mengantuk dan rasa Lelah.

11. Konsumsi menu utama berbuka puasa setelah sholat magrib, sesuai dengan anjuran isi piringku

12. Saat sahur, konsumsi makanan lengkap (makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah) sesuai dengan anjuran isi piringku  

ISI PIRINGKU UNTUK DIABETISI https://glycemicindexlab.wordpress.com/2015/10/3

13. Lakukan pengecekan gula darah secara mandiri dan rutin. Jadwal pengecekan darah dapat dikonsultasikan dengan dokter. Barikut ini contoh jadwal pengecekan gula darah

Daftar Pustaka :

1. International Diabetes Federation (IDF), in collaboration with the Diabetes and Ramadan (DAR) International Alliance. Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines, April 2016, https://www.idf.org/sites/default/files/IDF-DAR-PracticalGuidelines-Final-Low.pdf

2. Sadikot S, Jothydev K, Zargar AH, Ahmad J, Arvind SR, Saboo B. Clinical practice points for diabetes management during RAMADAN fast. Diabetes and Metabolic Syndrome: Clinical Research and Reviews, 2017. http://dx.doi.org/10.1016/j.dsx.2017.06.003

3.Gray A, Threlkeld RJ. 2019. Nutritional Recommendations for Individuals with Diabetes. Endotext. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279012/#__NBK279012_dtls__

LENY BUDHI HARTI, S.GZ., M.SI.MED,
DOSEN JURUSAN GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

PENGATURAN MAKAN DIABETISI (PEMANIS) SELAMA PUASA RAMADHAN

Diabetisi adalah istilah/ sebutan bagi seseorang yang menderita diabetes melitus. Selama bulan Ramadhan, tidak semua diabetisi boleh menjalankan ibadah puasa. Untuk mengetahui apakah diabetisi boleh berpuasa atau tidak dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Bagi diabetisi yang boleh menjalankan puasa diperlukan pengaturan makan yang tepat, kontrol gula darah secara rutin & mandiri, konsumsi obat secara teratur, dan olahraga. Hal ini bertujuan agar gula darah tetap terkontrol. Dalam artikel ini akan dibahas tentang pengaturan makan secara umum bagi diabetisi yang menjalankan puasa Ramadhan.

1. Konsumsi makanan dengan jumlah dan jenis sesuai dengan kebutuhan. Untuk mengetahui kebutuhan energi diabetisi dalam sehari, diabetisi bisa berkonsultasi dengan Ahli Gizi/ Dietisien. Secara umum total kebutuhan energi diabetisi selama puasa adalah sebagai berikut (1,2)

2. Konsumsi makanan porsi kecil tapi sering. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya peningkatan gula darah secara cepat. Diabetisi dapat mengkonsumsi makanan sebanyak 3-4x makan dengan rincian sebagai berikut (1,2)

3. Konsumsi air putih minimal 8 gelas untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Air putih dapat dikonsumsi pada saat: berbuka puasa, setelah sholat magrib, setelah makan malam, setelah sholat isyak, setelah tarawih, sebelum tidur, setelah bangun tidur, dan setelah mengkonsumsi menu sahur.

4. Hindari konsumsi teh, kopi, dan minuman bersoda. Minuman tersebut dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga meningkatkan risiko dehidrasi saat berpuasa

5. Konsumsi makanan utama/ makanan lengkap yang beraneka ragam, bergizi seimbang dan sesuai dengan isi piringku. Makanan lengkap yang dikonsumsi sebaiknya mengandung 40-50% karbohidrat, 20-30% protein, dan <35% lemak (1,2).

6. Pilihlah bahan makanan sumber karbohidrat yang rendah glikemik indeksnya seperti nasi merah, roti gandum, jagung, sayur, dan beberapa buah seperti apel, alpukat, tomat, dan buah pear(1).

7. Pilihlah bahan makanan yang mengandung protein seperti lauk nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan) dan lauk hewani (telur, daging ayam tanpa kulit, daging sapi tanpa lemak, ikan, susu, dan yogurt)(1).

8. Batasi penggunaan minyak atau bahan makanan yang diolah dengan digoreng atau dengan penambahan santan. Dalam satu sajian isi piringku usahakan hanya ada 1 lauk yang diolah dengan digoreng atau sayur yang diolah dengan disantan (pilih salah satu)

9. Berbuka Puasa. Saat berbuka puasa awali dengan konsumsi buah (misalnya kurma, bukan manisan kurma atau semangka dalam porsi kecil) dan air putih. Hal ini dikarenakan buah mengandung gula alami dan zat gizi mikro seperti magnesium yang keduanya berfungsi untuk membentuk energi di dalam tubuh, sehingga bisa memulihkan tenaga setelah berpuasa seharian.

10. Hindari konsumsi makanan mani-manis saat berbuka puasa. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan gula darah dan tidak memulihkan tenaga, bahkan bisa menyebabkan mengantuk dan rasa Lelah.

11. Konsumsi menu utama berbuka puasa setelah sholat magrib, sesuai dengan anjuran isi piringku

12. Saat sahur, konsumsi makanan lengkap (makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah) sesuai dengan anjuran isi piringku  

ISI PIRINGKU UNTUK DIABETISI https://glycemicindexlab.wordpress.com/2015/10/3

13. Lakukan pengecekan gula darah secara mandiri dan rutin. Jadwal pengecekan darah dapat dikonsultasikan dengan dokter. Barikut ini contoh jadwal pengecekan gula darah

Daftar Pustaka :

1. International Diabetes Federation (IDF), in collaboration with the Diabetes and Ramadan (DAR) International Alliance. Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines, April 2016, https://www.idf.org/sites/default/files/IDF-DAR-PracticalGuidelines-Final-Low.pdf

2. Sadikot S, Jothydev K, Zargar AH, Ahmad J, Arvind SR, Saboo B. Clinical practice points for diabetes management during RAMADAN fast. Diabetes and Metabolic Syndrome: Clinical Research and Reviews, 2017. http://dx.doi.org/10.1016/j.dsx.2017.06.003

3.Gray A, Threlkeld RJ. 2019. Nutritional Recommendations for Individuals with Diabetes. Endotext. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279012/#__NBK279012_dtls__

LENY BUDHI HARTI, S.GZ., M.SI.MED,
DOSEN JURUSAN GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

Pelantikan

25 JANUARI 2020

Pelantikan Kepengurusan DPC PERSAGI Kota Malang Periode 2019 - 2024

Malang, 25 Januari 2020 merupakan hari bersejarah baru bagi Ahli Gizi di Kota Malang. Diselenggarakan di Ruang Majapahit RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, pengurus baru dari DPC PERSAGI Kota Malang periode 2019 – 2024 yang diketuai oleh Ibu Rosidah Inayati, S.ST, S.Gz, MM, RD, disediakan untuk digunakan oleh estafet guna membantu membantu membantu para Ahli Gizi di Kota Malang. 

 

Disaksikan oleh 247 orang Ahli Gizi dari berbagai wilayah, kegiatan pelantikan yang diselenggarakan bersamaan dengan acara Seminar Ilmiah dalam rangka Hari Gizi Nasional ke-60 ini berjalan dengan lancar dan khidmat. Proses pelantikan dilakukan oleh Ketua DPD PERSAGI Jawa Timur yaitu Bapak Agus Sri W, SKM, MM. Pelantikan ini didahului dengan pembacaan SK Pengurus DPC Persagi Kota Malang. Ada juga agenda penandatanganan berita acara serah terima kepengurusan dari DPC PERSAGI Kota Malang periode sebelumnya (2014-2019), yang diketuai oleh Bapak H. Ibnu Fajar, SKM, M.Kes, kepada kepengurusan baru. 

 

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB hingga 12.00 WIB ini dimulai oleh meriah. Bagaimana tidak? Acara pelantikan yang diadakan Seminar Ilmiah dengan tema “GIZI OPTIMAL UNTUK GENERASI MILENIAL” mengangkat topik-topik hangat di Era 4.0 saat ini. Materi Luar Biasa dari Bapak Dr. Disampaikan dalam materi, “Nutrigenetika dan nutrigenomik dapat bermanfaat untuk membahas yang lebih baik tentang interaksi gen-nutrisi dan strategi pengembangan nutrisi yang dipersonalisasi untuk kesehatan dan penyakit yang optimal”. 

 

Materi kedua yang disampaikan oleh Bapak Agus Sri W, SKM, MM dengan moderator Bapak Mahmud A, SST juga tidak kalah menariknya. Materi kedua membahas topik Hasil Implementasi Kongres PERSAGI 2019: “Menuju Kemandirian Ahli Gizi Sebagai Mitra Pemerintah dalam Penanggulangan Masalah Gizi”. Disampaikan dalam materi, “Disediakan 5 strategi utama yang dapat dilakukan oleh ahli gizi untuk bertahan dalam pertemuan masa depan, yaitu (1) Peningkatan kapasitas keberlanjutan, (2) Implementasi asuhan gizi berkualitas dan terintegrasi, (3) Penggunaan teknologi informasi, (4) ) Mengatur tata kelola hasil pengelolaan gizi, dan (5) melakukan pelayanan gizi melalui penelitian dan pengembangan ”. Ditutup dengan sukses pembagian doorprize, doorprize, menarik bagi peserta yang beruntung,Acara SEMINAR ILMIAH DALAM RANGKA HARI GIZI NASIONAL KE 60 “GIZI OPTIMAL UNTUK GENERASI MILENIAL” ini guna membangkitkan semangat dan membangun baru untuk Kepengurusan DPC PERSAGI Kota Malang periode 2019-2024. (ism) 

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA