Kebocoran Usus” dan Mikrobioma: Bagaimana Serat Memberi Makan Pasukan Anti-Kanker di Dalam Tubuh Anda

“Kebocoran Usus” Masalah yang Tidak Pernah Disadari

Telah lama diketahui bahwa usus adalah organ yang sangat penting dan fungsinya sering tidak menjadi perhatian ketika seseorang merasa sehat. Terlebih akrena fungsi usus sebagai penahan racun, pengelola sisa makanan yang tidak tercerna sempurna, dan perisai dari kuman berbahaya sering bukan bahasan yang muncul dalam diskusi-diskusi ringan diantara kita bersama keluarga dan rekan kerja. Usus secara mandiri menahan semua bahaya ini agar tidak masuk ke aliran darah, melalui fungsi dinding yang unik.

Disadari atau tidak pola makan yang buruk seperti rendah serat, tinggi gula, makanan olahan yang dominan, dan alcohol dapat melemahkan fungsi unik dinding usus. Konstruksi dindik yang seperti batu bata (bricks) akan mengalami pelonggaran sehingga menimbulkan kebocoran (leaks). Kondisi ini bisanya bisa terjadi sesaat (akut) namun lebih sering ditemukan dalam jangka waktu yang lama (kronis). Ketika kondisi dinding usus mengalami “kebocoran” anomali di saluran cerna sebagai reaski inflamasi. Inflamasi seperti “percikan api” yang siap memulai kerusakan yang meluas dan sangat merusak. Pada kondisi inflamasi, peradangan akan menyebar dengan cepat keseluruh tubuh. Salah satu efek jangka panjang adalah terbentuknya kanker, ini mungkin merupakan jawaban banyak penderita kanker atas kebingungan mengapa mereka mengidap penyakit ini.

Pasukan Super dalam Diri Anda Bernama Mikrobioma

Sejumlah bakteri setidaknya triliunan hidup di usus, bukan sekedar menumpang tetapi merupakan organisme hidup yang penting. Mereka para bakteri menjadi pasukan penjaga dan mempertahankan benteng saluran cerna selama 24 jam tanpa henti. Beberapa hal yang dilakukan oleh mikrobioma penjaga adalah:

  1. Menambal celah “kebocoran” dinding usus. Mikrobioma membuat lem perekat alami yang disebut dengan “butirat”. Butirat menjadi perekat aktif dinding usus, menutup kebocoran dan memperkuat konstruksi dinding usus
  2. Memproduksi zat anti-kanker. Sel kanker yang tumbuh secara autopilot tidak merespon proses menua dan mati (apotosis) yang dialami sel pada umumnya. Mikrobioma memproduksi sel anti-kanker dengan fungsi yang sama, mendorong sel kanker untuk mengalami kerusakan dan mati.
  3. Melatih pasukan penghancur (immune). Mikrobioma melatih sel-sel imunitas yang selama ini tidak mengenali sel kanker menjadi mengetahui mana sel kanker yang harus dihancurkan. Hal kecil yang dapat memberikan perbedaan besar.

Kita perlu mengenal pasukkan super agar lebih memahami peran dan fungsinya dalam menjaga percernaan kita:

Bakteri Peran Spesifik
Faecalibacterium prausnitzii Menghasilkan butirat dalam jumlah besar; meningkatkan diferensiasi sel T regulatorik (anti-inflamasi); efek anti-inflamasi kuat
Bifidobacterium spp. Memproduksi SCFA (termasuk butirat); meningkatkan aktivasi sel dendritik dan sel T; meningkatkan efektivitas terapi kanker; mengurangi toksisitas pengobatan
Lactobacillus spp. Mendukung integritas dinding usus; menghasilkan metabolit anti-inflamasi; memodulasi respons imun; mengurangi peradangan akibat radioterapi
Akkermansia muciniphila Merangsang sinyal Toll-like receptor untuk meningkatkan produksi IFN-γ; meningkatkan penyajian antigen; meningkatkan respons imun selama terapi kanker
Clostridium sensu stricto 1 Menghasilkan metabolit bermanfaat yang mendukung homeostasis imun; terkait dengan respons baik terhadap terapi kanker
Roseburia spp. & Coprococcus spp. Menghasilkan butirat dan propionat; mengatur metabolisme; terkait dengan kesehatan usus besar dan pencegahan kanker kolorektal

Sumber: Disarikan dari referensi yang digunakan dalam tulisan ini

Serat, Kunci Sederhana Pembuka Perlindungan Terkuat

Secara sederhana Mikrobioma dapat dimaksimalkan tanpa membutuhkan suplemen mahal atau menggunakan teknologi yang rumit. Pengelolaan mikrobioma tidak memerlukan probiotik impor, test DNA usus, injeksi vitamin khusus, atau proses detoksifikasi yang mahal. Mikrobioma yang sehat tidak dibangun oleh kemewahan, tetapi oleh konsistensi dan pilihan makanan yang tepat setiap hari.

Mikrobioma hanya membutuhkan serat, serat banyak ditemukan pada sayuran dan buah-buahan. Serat dari tanaman tidak dapat dicerna oleh enzim manusia sehingga akan tetap utuh dan mencapai usus besar dimana mikrobioma berada. Proses fermentasi dengan memanfaatkan serat akan dilakukan mikrobioma untuk menghasilkan butirat. Butirat menjadi komponen penting penguat dinding usus, anti inflamasi, dan eksekutor sel kanker.

Memastikan asupan sayur dan buah setiap hari setidaknya 3-5 kali sajian atau setara 240-400 g per hari atau 5-6 sendok makan sayur matang memberikan kesempatan kepada pasukan super untuk selalu siap dan menjadi pelindung 24 jam dengan tiga kemampuan utamanya. Jumlah 3-5 kali sajian menjadi penting, karena serat tidak disimpan di dalam tubuh sehingga perlu dikonsumsi setiap hari. Tertundanya konsumsi harian akan membuat mikrobioma mengalami kelaparan yang berakibat menurunya populasi baik, dan membuat usus menjadi rapuh.

Kanker Ketika Kebocoran Usus dan Pasukan Lemah

Pada kondisi dimana terdapat lingkungan yang mendukung, maka sel kanker akan tumbuh dengan subur pada tubuh seseorang. Kebocoran usus yang tidak disadari memicu produksi inflamasi yang terus menerus. Inflamasi yang bermuara dari usus meluas secara sistematik dan memicu inflamasi lain yang dapat memicu pengaktifan beberapa mekanisme:

  1. Aktivasi pembelahan sel (proliferasi). Inflamasi merangsang pembelahan dan penggandaan sel dalam upaya memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, frekuensi pembelahan sel yang meningkat semakin meningkatkan kesalahan acak genetic (mutasi) yang dapat memicu kanker.
  2. Disregulasi sel imunitas. Inflamasi seharusnya membantu tubuh melawan infeksi, namuk jika terjadi secara terus menerus maka sel imun akan mengalami kelelahan dan bahkan “dikooptasi” untuk membantu sel kanker. Beberapa sel imun, seperti makrofak tipe 2 (M2) justru berperan sebagai mediator pertumbuhan sel tumor.
  3. Pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis). Inflamasi merangsang tubuh untuk membentuk pembuluh darah baru untuk menyediakan oksigen dan zat gizi pada jaringan yang mengalami peradangan. Perlu diketahui sel kanker memanfaatkan sistem ini untuk mendapatkan asupan makanan yang melimpah untuk bertumbuh cepat, dengan membentuk lingkungan mikro yang mempertahankan inflamasi disekitarnya.

Sumber: Canva

Diagaram Alur Mekanisme Kebocoran Usus, Mikrobioma, dan Kanker

Ketiga mekanisme di atas secara kolektif mengarah pada munculnya sel kanker. Saat kondisi inflamasi kronis sistem pengendalian alami tubuh justru lumpuh. Kemunculan sel kanker seharusnya bisa dikendalikan melalui mekanisme apotosis atau peran sel imun alami, tetapi hal tersebut tidak terjadi. Lemahnya sistem skrining (immune surveillance) memperburuk keadaan. Kemampuan mereka untuk mengenali, mengepung, dan menghacurkan sel kanker sejak dini. Inflmasi membuat sel imun menjadi buta, kelelahan dan bahkan kehilangan fungsinya. Lebih parah lagi, mikrobioma usus yang mengalami gangguan (dysbiosis) tidak lagi bisa menjadi pasukan pelindung, tubuh tidak lagi memiliki pertahannan alaminya.

 

Oleh:

Dr. FajarAri Nugroho.

Pemerhati Epidemiologi Gizi, Sindrom Metabolik, dan Kanker

References:

  1. Vancamelbeke, M. & Vermeire, S. The intestinal barrier: a fundamental role in health and disease. Expert Rev. Gastroenterol. Hepatol. 11, 821–834 (2017). DOI: 10.1080/17474124.2017.1343143.
  2. Odenwald, M. A. & Turner, J. R. The intestinal epithelial barrier: a therapeutic target? Nat. Rev. Gastroenterol. Hepatol. 14, 141–153 (2017). DOI: 10.1038/nrgastro.2016.169
  3. Schoultz, I. & Keita, Å. V. The intestinal barrier and current techniques to assess permeability in health and disease. Eur. Surg. Res. 64, 1–12 (2023). DOI: 10.1159/000528784
  4. Kyuno, D. et al. Role of tight junctions in the epithelial-mesenchymal transition of cancer. Cancers 13, 237 (2021). DOI: 10.3390/cancers13020237
  5. Schwabe, R. F. & Jobin, C. Themicrobiome and cancer. Nat. Rev. Cancer 13, 800–812 (2013). DOI: 10.1038/nrc3610
  6. Yu, L. X. & Schwabe, R. F. The gut microbiome and liver cancer: mechanisms and clinical translation. Nat. Rev. Gastroenterol. Hepatol. 14, 527–539 (2017). DOI: 10.1038/nrgastro.2017.72
  7. Salvi, P. S. & Cowles, R. A. Butyrate and the intestinal epithelium: modulation of proliferation and inflammation in homeostasis and disease. Cells 10, 1775 (2021). DOI: 10.3390/cells10071775
  8. Lee, S. H. et al. Gut microbial metabolite butyrate boosts p53-expressing telomerase-specific oncolytic adenovirus efficacy. Cancer Gene Ther. 30, 210–222 (2023). DOI: 10.1038/s41417-022-00539-1
  9. Canani, R. B. et al. Potential beneficial effects of butyrate in intestinal and extraintestinal diseases. World J. Gastroenterol. 17, 1519–1528 (2011). DOI: 10.3748/wjg.v17.i12.1519
  10. Donohoe, D. R. et al. The microbiome and butyrate regulate energy metabolism and autophagy in the mammalian colon. Cell Metab. 13, 517–526 (2011). DOI: 10.1016/j.cmet.2011.02.018
  11. Oh, S. et al. Pectin fermentation enhances the preventive effect of inulin on colorectal carcinogenesis. J. Nutr. 151, 2157–2166 (2021). DOI: 10.1093/jn/nxab114
  12. O’Keefe, S. J. D. et al.Fat, fibre and cancer risk in African Americans and rural Africans. Nat. Commun. 6, 6342 (2015). DOI: 10.1038/ncomms7342
  13. Song, M., Chan, A. T. & Sun, J. Influence of the gut microbiome, diet, and environment on risk of colorectal cancer. Gastroenterology 158, 322–340 (2020). DOI: 10.1053/j.gastro.2019.06.048
  14. Bingham, S. A. et al. Dietary fibre in food and protection against colorectal cancer in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC): an observational study. Lancet 361, 1496–1501 (2003). DOI: 10.1016/S0140-6736(03)13174-1
  15. Aune, D. et al. Dietary fibre, whole grains, and risk of colorectal cancer: systematic review and dose-response meta-analysis of prospective studies. BMJ 343, d6617 (2011). DOI: 10.1136/bmj.d6617
  16. Grivennikov, S. I. Inflammation and colorectal cancer: colitis-associated neoplasia. Semin. Immunopathol. 35, 229–244 (2013). DOI: 10.1007/s00281-012-0352-6
  17. Grivennikov, S. I., Greten, F. R. & Karin, M. Immunity, inflammation, and cancer. Cell 140, 883–899 (2010). DOI: 10.1016/j.cell.2010.01.025
  18. Coussens, L. M. & Werb, Z. Inflammation and cancer. Nature 420, 860–867 (2002). DOI: 10.1038/nature01322
  19. Zitvogel, L. et al. Cancer and the gut microbiota: an unexpected link. Sci. Transl. Med. 7, 271ps1 (2015). DOI: 10.1126/scitranslmed.3010473
  20. Sepich-Poore, G. D. et al. The microbiome and human cancer. Science 371, eabc4552 (2021). DOI: 10.1126/science.abc4552
  21. Poore, G. D. et al. Microbiome analyses of blood and tissues suggest cancer diagnostic approach. Nature 579, 567–574 (2020). DOI: 10.1038/s41586-020-2095-1

PEKAN ASI SEDUNIA 2023 – DUKUNG IBU BEKERJA UNTUK MEMBERIKAN ASI

7 AGUSTUS 2023

PEKAN ASI SEDUNIA 2023
DUKUNG IBU BEKERJA UNTUK MEMBERIKAN ASI

Tanggal 1 hingga 7 Agustus setiap tahun dikenal dengan peringata Pekan ASI sedunia. Pada tahun 2023 ini tema yang diangkat adalah “Bersama-sama, dukung ibu sukses menyusui dan bekerja”. Jumlah perempuan yang bekerja dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan semakin terbukanya akses pendidikan untuk anak perempuan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat serta kemajuan informasi dan teknologi. Peningkatan jumlah pekerja perempuan ini belum diiringi dengan kebijakan perusahaan yang berpihak pada mereka khususnya yang berstatus sebagai ibu. Kurang dari separuh bayi di bawah umur 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif. Cakupan ASI ekslusif Indonesia pada 2022 tercatat hanya 67,96%, turun dari 69,7% dari 2021, menandakan perlunya dukungan lebih intensif agar cakupan ini bisa meningkat.

Perempuan seharusnya tidak perlu memilih antara menyusui bayinya dan pekerjaannya. Tema tahun ini berfokus pada menyusui dan dunia kerja, memberikan peluang strategis untuk mengadvokasi hak-hak pekerja yang penting untuk keberhasilan menyusui, termasuk cuti melahirkan minimal selama 18 minggu, idealnya lebih dari 6 bulan, dan kebijakan pendukung setelahnya di tempat kerja. Adalah kebutuhan mendesak untuk memastikan perempuan dapat menyusui selama yang diinginkannya: lebih dari setengah miliar perempuan pekerja tidak mendapatkan fasilitas maternitas dasar; dan lebih banyak lagi perempuan tidak mendapat dukungan ketika mereka kembali bekerja. Di Indonesia, hak tersebut dilindungi oleh Undang-undang no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, maupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Pesan kunci pada peringatan Pekan ASI Sedunia tahun 2023 adalah sebagai berikut:

  1. Menyusui di tempat kerja sukses, masyarakat sukses! Menyusui memberikan manfaat kesehatan dan gizi yang penting bagi anak-anak dengan dampak positif seumur hidup, membangun populasi yang lebih sehat – dan tenaga kerja – untuk masa depan.
  2. Perempuan tidak harus memilih antara menyusui anak atau pekerjaan mereka. Dukungan menyusui dimungkinkan terlepas dari tempat kerja, sektor, atau jenis kontrak.
  3. Perlindungan maternitas yang efektif meningkatkan kesehatan anak-anak dan perempuan serta meningkatkan pemberian ASI. Namun, saat ini lebih dari setengah miliar perempuan pekerja tidak memiliki akses ke fasilitas maternitas yang penting; lebih banyak lagi menemukan diri mereka tidak didukung ketika mereka kembali bekerja.
  4. Semua perempuan di mana pun – apa pun pekerjaan mereka – seharusnya memiliki:

  • Setidaknya 18 minggu, sebaiknya lebih dari 6 bulan, cuti hamil dalam tanggungan;
  • Cuti dalam tanggungan untuk menyusui atau memerah ASI setelah kembali bekerja;
  • Pilihan kembali bekerja yang fleksibel.

  1. Pembuat kebijakan dapat mendukung ibu sukses menyusui dan bekerja, dengan cara:
  2. Membuat kebijakan tentang cuti dalam tanggungan dengan durasi minimal 18 minggu, dan sebaiknya lebih dari 6 bulan
  3. Memastikan pemberi kerja menyediakan cuti berbayar dan ruang khusus untuk menyusui atau memerah ASI setelah masa cuti
  4. Memastikan semua perempuan memiliki akses ke hak bersalin, termasuk mereka yang bekerja di sektor informal atau dengan kontrak terbatas
  5. Mengatasi diskriminasi terkait pekerjaan terhadap perempuan, termasuk selama dan setelah kehamilan dan kelahiran

Pemberi kerja dan manajer dapat mendukung ibu sukses menyusui dan bekerja, dengan cara:

  1. Memberikan cuti melahirkan yang setidaknya memenuhi persyaratan nasional
  2. Menyediakan waktu dan tempat untuk menyusui atau memerah dan menyimpan ASI
  3. Memberikan pilihan yang mengurangi pemisahan perempuan dari bayinya setelah cuti hamil, seperti:
  • Jadwal kerja yang fleksibel
  • Penitipan anak di tempat bekerja
  • Bekerja jarak jauh
  • Pekerjaan paruh waktu
  • Membolehkan ibu membawa bayinya ke tempat kerja

Rekan kerja dapat mendukung ibu sukses menyusui dan bekerja, dengan cara:

  1. Mendukung pengaturan kerja yang fleksibel saat perempuan kembali bekerja
  2. Memperjuangkan hak-hak perempuan di tempat kerja
Ilmia Fahmi, S.Gz., M.Gizi, Dietisien
Dosen Departemen Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya

7 AGUSTUS 2023

PEKAN ASI SEDUNIA 2023 - DUKUNG IBU BEKERJA UNTUK MEMBERIKAN ASI

Tanggal 1 hingga 7 Agustus setiap tahun dikenal dengan peringata Pekan ASI sedunia. Pada tahun 2023 ini tema yang diangkat adalah “Bersama-sama, dukung ibu sukses menyusui dan bekerja”. Jumlah perempuan yang bekerja dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan semakin terbukanya akses pendidikan untuk anak perempuan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat serta kemajuan informasi dan teknologi. Peningkatan jumlah pekerja perempuan ini belum diiringi dengan kebijakan perusahaan yang berpihak pada mereka khususnya yang berstatus sebagai ibu. Kurang dari separuh bayi di bawah umur 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif. Cakupan ASI ekslusif Indonesia pada 2022 tercatat hanya 67,96%, turun dari 69,7% dari 2021, menandakan perlunya dukungan lebih intensif agar cakupan ini bisa meningkat.

Perempuan seharusnya tidak perlu memilih antara menyusui bayinya dan pekerjaannya. Tema tahun ini berfokus pada menyusui dan dunia kerja, memberikan peluang strategis untuk mengadvokasi hak-hak pekerja yang penting untuk keberhasilan menyusui, termasuk cuti melahirkan minimal selama 18 minggu, idealnya lebih dari 6 bulan, dan kebijakan pendukung setelahnya di tempat kerja. Adalah kebutuhan mendesak untuk memastikan perempuan dapat menyusui selama yang diinginkannya: lebih dari setengah miliar perempuan pekerja tidak mendapatkan fasilitas maternitas dasar; dan lebih banyak lagi perempuan tidak mendapat dukungan ketika mereka kembali bekerja. Di Indonesia, hak tersebut dilindungi oleh Undang-undang no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, maupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Pesan kunci pada peringatan Pekan ASI Sedunia tahun 2023 adalah sebagai berikut:

  1. Menyusui di tempat kerja sukses, masyarakat sukses! Menyusui memberikan manfaat kesehatan dan gizi yang penting bagi anak-anak dengan dampak positif seumur hidup, membangun populasi yang lebih sehat – dan tenaga kerja – untuk masa depan.
  2. Perempuan tidak harus memilih antara menyusui anak atau pekerjaan mereka. Dukungan menyusui dimungkinkan terlepas dari tempat kerja, sektor, atau jenis kontrak.
  3. Perlindungan maternitas yang efektif meningkatkan kesehatan anak-anak dan perempuan serta meningkatkan pemberian ASI. Namun, saat ini lebih dari setengah miliar perempuan pekerja tidak memiliki akses ke fasilitas maternitas yang penting; lebih banyak lagi menemukan diri mereka tidak didukung ketika mereka kembali bekerja.
  4. Semua perempuan di mana pun – apa pun pekerjaan mereka – seharusnya memiliki:
  5. Setidaknya 18 minggu, sebaiknya lebih dari 6 bulan, cuti hamil dalam tanggungan;
  6. Cuti dalam tanggungan untuk menyusui atau memerah ASI setelah kembali bekerja;
  7. Pilihan kembali bekerja yang fleksibel.

Pembuat kebijakan dapat mendukung ibu sukses menyusui dan bekerja, dengan cara:

  1. Membuat kebijakan tentang cuti dalam tanggungan dengan durasi minimal 18 minggu, dan sebaiknya lebih dari 6 bulan
  2. Memastikan pemberi kerja menyediakan cuti berbayar dan ruang khusus untuk menyusui atau memerah ASI setelah masa cuti
  3. Memastikan semua perempuan memiliki akses ke hak bersalin, termasuk mereka yang bekerja di sektor informal atau dengan kontrak terbatas
  4. Mengatasi diskriminasi terkait pekerjaan terhadap perempuan, termasuk selama dan setelah kehamilan dan kelahiran

Pemberi kerja dan manajer dapat mendukung ibu sukses menyusui dan bekerja, dengan cara:

  1. Memberikan cuti melahirkan yang setidaknya memenuhi persyaratan nasional
  2. Menyediakan waktu dan tempat untuk menyusui atau memerah dan menyimpan ASI
  3. Memberikan pilihan yang mengurangi pemisahan perempuan dari bayinya setelah cuti hamil, seperti:
  4. Jadwal kerja yang fleksibel
  5. Penitipan anak di tempat bekerja
  6. Bekerja jarak jauh
  7. Pekerjaan paruh waktu
  8. Membolehkan ibu membawa bayinya ke tempat kerja

Rekan kerja dapat mendukung ibu sukses menyusui dan bekerja, dengan cara:

  1. Mendukung pengaturan kerja yang fleksibel saat perempuan kembali bekerja
  2. Memperjuangkan hak-hak perempuan di tempat kerja

DAFTAR PUSTAKA

  1. https://www.who.int/indonesia/news/events/world-breastfeeding-week/2023
  2. https://www.aauw.org/resources/article/fast-facts-working-moms/

 

Ilmia Fahmi, S.Gz., M.Gizi, Dietisien
Dosen Departemen Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

PERAN GIZI DALAM 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

12 MEI 2022

PERAN GIZI DALAM 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Periode emas adalah istilah untuk mendefinisikan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa awal kehidupan saat masih berada dalam kandungan hingga 2 tahun pertama kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan menjadi penting karena pada masa itu, kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak sangat cepat dan pesat sehingga akan berdampak terhadap kesehatan pada masa yang akan datang.

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Seribu hari pertama kehidupan mencakup masa dalam kandungan, masa pemberian ASI Eksklusif, dan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Apabila masa penting tersebut tidak diperhatikan secara benar, peluang mendapat gangguan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih besar bila dibandingkan dengan yang mendapatkan perhatian yang serius.

Alasan mengapa 1000 hari pertama kehidupan menjadi penting ialah pada masa itu pertumbuhan dan perkembangan anak berada dalam masa yang riskan. Pada saat itu, terutama dalam kandungan, organ-organ penting mulai terbentuk dan berkembang. Setelah itu, masa 2 tahun setelah kelahiran merupakan masa anak mulai beradaptasi dalam lingkunganya, berkembang dan mulai berfungsinya organ-organ, serta merupakan puncak perkembangan fungsi kognisi anak.

Pertumbuhan dan perkembangan ini memerlukan asupan gizi dari ibu, baik yang dikonsumsi ibu maupun yang berasal dari mobilisasi simpanan ibu. Mereka yang mengalami kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, mempunyai 3 resiko:

  1. Resiko teradinya penyakit tidak menular/kronis.
  2. Bila otak yang terkena, ia akan mengalami hambatan pertumbuhan kognitif, sehingga kurang cerdas dan kompetitif.
  3. Gangguan pertumbuhan tinggi badan sehingga berisiko pendek/stunting.

Dengan meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan anak sejak dalam kandungan akan didapatkan generasi penerus yang lebih produktif sehingga dapat memajukan kualitas generasi muda.

Sembilan pesan inti 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu:

  1. Selama hamil, makan makanan beraneka ragam.
  2. Memeriksa kehamilan minimal 4x selama kehamilan.
  3. Minum tablet tambah darah.
  4. Bayi yang baru lahir Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
  5. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
  6. Timbang BB bayi secara rutin setiap bulan.
  7. Berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi.
  8. Lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.
  9. Berikan MP ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan  ASI.

Peran Gizi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, kebutuan nutrisi anak meningkat pesat untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang cepat. Pada periode ini ibu dan anak sangat riskan terkena malnutrisi dan infeksi.

Gizi memegang peranan penting dalam 1000 hari pertama kehidupan. Gizi kurang dan defisiensi zat gizi tertentu (misal: karbohidrat, protein, zat besi, viamin a dan yodium) dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat menyebabkan kematian. Gizi kurang dapat memberi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Begitu pula pada gizi lebih. Akbat gizi lebih dapat menuju ke sindrom metabolik pada masa yang akan datang. Keparahan akan terjadi jika perbaikan asupan gizi tidak dilakukan secara optimal.

Anak yang mendapat cukup gizi selama Periode Emas, termasuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) langsung setelah bayi dilahirkan, ASI Eksklusif sejak usia 0-6 bulan, imunisasi lengkap, dan gizi cukup dengan MPASI setelah usia 6 bulan, akan tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan cerdas.

Saat ini, Indonesia menggunakan pedoman gizi seimbang sebagai pedoman gizi yang terbaru. Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

10 pesan umum gizi seimbang:

  1. Syukuri dan nikmati anekaragam makanan
  2. Perbanyak makan sayuran dan cukup buah-buahan
  3. Biasakan mengkonsumsi lauk pauk mengandung protein tinggi
  4. Biasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok
  5. Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak
  6. Biasakan sarapan
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  9. Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir
  10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal

Selain itu, terdapat 4 pilar gizi simbang yag terdiri dari:

  1. PILAR 1 “mengonsumsi pangan beranekaragam”
  2. PILAR 2 “membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat”
  3. PILAR 3 “melakukan aktivitas fisik”
  4. PILAR 4 “mempertahankan dan memantau berat badan normal”

Apa saja yang perlu kita perhatikan agar gizi 1000 HPK dapat optimal?

Agar keadaan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan dapat optimal, kita perlu memperhatikan:

  1. Pada saat sebelum kehamilan. Pada saat calon ibu merencanakan kehamilan, ibu perlu memastikan keadaan gizi dan kesehatan optimal.
  2. Pada saat ibu mengandung. Selama dalam masa kehamilan, ibu penting untuk diperhatikan karena keadaan gizi pada saat ibu hamil sangat menentukan status kesehatan ibu dan proses pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya.
  3. Pada saat bayi berusia 0-6 bulan. Usia 0-6 bulan merupakan masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Untuk itu, bayi memerlukan gizi optimal. Satu-satunya makanan yang paling sempurna untuk bayi usia 0-6 adalah air susu ibu (ASI). Untuk itu bayi usia 0-6 bulan perlu diberikan ASI Eksklusif, atau ASI saja tanpa penambahan makanan atau minuman lain hingga bayi berusia 6 bulan.
  4. Pada saat anak berusia 6 bulan – 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan masa yang kritis karena anak mulai diperkenalkan beberapa Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Masa ini sangat menentukan pola makan anak pada masa yang akan datang. MP-ASI diberikan secara bertahap bentuk, frekuensi, jenis dan jumlah-nya dengan usia anak. Pada saat anak berusia 1-2 tahun, secara bertahap mulai diberikan makanan keluarga. ASI tetap diberikan hingga anak berusia 2 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Meihartati, Tuti, et al. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Penerbit Deepublish, 2018.
  2. Rahmawati, Widya and Wirawan, Nia Novita. 2016. Sekilas Gizi 1000 HPK. gizi.fk.ub.ac.id. [Online] September 2, 2016. [Cited: April 20, 2022.] http://gizi.fk.ub.ac.id/sekilas-gizi-1000-hpk/.
  3. Roseno, Citra. 2015. Pentingnya Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. klikdokter. [Online] September 3, 2015. [Cited: April 20, 2022.] https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2699886/pentingnya-gizi-pada-1000-hari-pertama-kehidupan.
  4. Sudargo, Toto, Aristasari, Tira and ‘Afifah, Aulia. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press, 2018.

 

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

12 MEI 2022

PERAN GIZI DALAM 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Periode emas adalah istilah untuk mendefinisikan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa awal kehidupan saat masih berada dalam kandungan hingga 2 tahun pertama kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan menjadi penting karena pada masa itu, kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak sangat cepat dan pesat sehingga akan berdampak terhadap kesehatan pada masa yang akan datang.

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Seribu hari pertama kehidupan mencakup masa dalam kandungan, masa pemberian ASI Eksklusif, dan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Apabila masa penting tersebut tidak diperhatikan secara benar, peluang mendapat gangguan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih besar bila dibandingkan dengan yang mendapatkan perhatian yang serius.

Alasan mengapa 1000 hari pertama kehidupan menjadi penting ialah pada masa itu pertumbuhan dan perkembangan anak berada dalam masa yang riskan. Pada saat itu, terutama dalam kandungan, organ-organ penting mulai terbentuk dan berkembang. Setelah itu, masa 2 tahun setelah kelahiran merupakan masa anak mulai beradaptasi dalam lingkunganya, berkembang dan mulai berfungsinya organ-organ, serta merupakan puncak perkembangan fungsi kognisi anak.

Pertumbuhan dan perkembangan ini memerlukan asupan gizi dari ibu, baik yang dikonsumsi ibu maupun yang berasal dari mobilisasi simpanan ibu. Mereka yang mengalami kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, mempunyai 3 resiko:

  1. Resiko teradinya penyakit tidak menular/kronis.
  2. Bila otak yang terkena, ia akan mengalami hambatan pertumbuhan kognitif, sehingga kurang cerdas dan kompetitif.
  3. Gangguan pertumbuhan tinggi badan sehingga berisiko pendek/stunting.

Dengan meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan anak sejak dalam kandungan akan didapatkan generasi penerus yang lebih produktif sehingga dapat memajukan kualitas generasi muda.

Sembilan pesan inti 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu:

  1. Selama hamil, makan makanan beraneka ragam.
  2. Memeriksa kehamilan minimal 4x selama kehamilan.
  3. Minum tablet tambah darah.
  4. Bayi yang baru lahir Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
  5. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
  6. Timbang BB bayi secara rutin setiap bulan.
  7. Berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi.
  8. Lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.
  9. Berikan MP ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan  ASI.

Peran Gizi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, kebutuan nutrisi anak meningkat pesat untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang cepat. Pada periode ini ibu dan anak sangat riskan terkena malnutrisi dan infeksi.

Gizi memegang peranan penting dalam 1000 hari pertama kehidupan. Gizi kurang dan defisiensi zat gizi tertentu (misal: karbohidrat, protein, zat besi, viamin a dan yodium) dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat menyebabkan kematian. Gizi kurang dapat memberi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Begitu pula pada gizi lebih. Akbat gizi lebih dapat menuju ke sindrom metabolik pada masa yang akan datang. Keparahan akan terjadi jika perbaikan asupan gizi tidak dilakukan secara optimal.

Anak yang mendapat cukup gizi selama Periode Emas, termasuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) langsung setelah bayi dilahirkan, ASI Eksklusif sejak usia 0-6 bulan, imunisasi lengkap, dan gizi cukup dengan MPASI setelah usia 6 bulan, akan tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan cerdas.

Saat ini, Indonesia menggunakan pedoman gizi seimbang sebagai pedoman gizi yang terbaru. Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

10 pesan umum gizi seimbang:

  1. Syukuri dan nikmati anekaragam makanan
  2. Perbanyak makan sayuran dan cukup buah-buahan
  3. Biasakan mengkonsumsi lauk pauk mengandung protein tinggi
  4. Biasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok
  5. Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak
  6. Biasakan sarapan
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  9. Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir
  10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal

Selain itu, terdapat 4 pilar gizi simbang yag terdiri dari:

  1. PILAR 1 “mengonsumsi pangan beranekaragam”
  2. PILAR 2 “membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat”
  3. PILAR 3 “melakukan aktivitas fisik”
  4. PILAR 4 “mempertahankan dan memantau berat badan normal”

Apa saja yang perlu kita perhatikan agar gizi 1000 HPK dapat optimal?

Agar keadaan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan dapat optimal, kita perlu memperhatikan:

  1. Pada saat sebelum kehamilan. Pada saat calon ibu merencanakan kehamilan, ibu perlu memastikan keadaan gizi dan kesehatan optimal.
  2. Pada saat ibu mengandung. Selama dalam masa kehamilan, ibu penting untuk diperhatikan karena keadaan gizi pada saat ibu hamil sangat menentukan status kesehatan ibu dan proses pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya.
  3. Pada saat bayi berusia 0-6 bulan. Usia 0-6 bulan merupakan masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Untuk itu, bayi memerlukan gizi optimal. Satu-satunya makanan yang paling sempurna untuk bayi usia 0-6 adalah air susu ibu (ASI). Untuk itu bayi usia 0-6 bulan perlu diberikan ASI Eksklusif, atau ASI saja tanpa penambahan makanan atau minuman lain hingga bayi berusia 6 bulan.
  4. Pada saat anak berusia 6 bulan – 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan masa yang kritis karena anak mulai diperkenalkan beberapa Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Masa ini sangat menentukan pola makan anak pada masa yang akan datang. MP-ASI diberikan secara bertahap bentuk, frekuensi, jenis dan jumlah-nya dengan usia anak. Pada saat anak berusia 1-2 tahun, secara bertahap mulai diberikan makanan keluarga. ASI tetap diberikan hingga anak berusia 2 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Meihartati, Tuti, et al. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Penerbit Deepublish, 2018.
  2. Rahmawati, Widya and Wirawan, Nia Novita. 2016. Sekilas Gizi 1000 HPK. gizi.fk.ub.ac.id. [Online] September 2, 2016. [Cited: April 20, 2022.] http://gizi.fk.ub.ac.id/sekilas-gizi-1000-hpk/.
  3. Roseno, Citra. 2015. Pentingnya Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. klikdokter. [Online] September 3, 2015. [Cited: April 20, 2022.] https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2699886/pentingnya-gizi-pada-1000-hari-pertama-kehidupan.
  4. Sudargo, Toto, Aristasari, Tira and ‘Afifah, Aulia. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press, 2018.

 

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

KECUKUPAN GIZI BAGI IBU ITU PENTING

KECUKUPAN GIZI BAGI IBU ITU PENTING

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa status gizi ibu tidak hanya memberikan dampak terhadap status kesehatan dan resiko kematian dirinya, melainkan juga terhadap keberlangsungan hidup dan perkembangan janin yang dikandungnya. Dampak lebih jauh lagi yaitu terhadap pertumbuhan janin sampai usia dewasa. Dengan demikian, gizi ibu menentukan kualitas sumber daya manusia. Intervensi meningkatkan kesehatan dan gizi wanita usia subur dinilai cukup strategis untuk memutus siklus kurang gizi antar generasi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa intervensi perbaikan status gizi ibu sebelum kehamilan lebih efektif daripada suplementasi selama kehamilan.

Berikut ini beberapa kasus kurang gizi pada ibu, di antaranya:

  1. Kurang Energi Kronis (KEK)

Kurang Energi Kronis (KEK) terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi untuk memenuhi kebutuhan dengan pengeluaran energi. Penyebab Kurang Energi Kronis (KEK) di antaranya adalah kurangnya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga (ekonomi) serta beban kerja ibu yang berat tidak sebanding dengan asupan yang dikonsumsi.

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi (Fe)

Anemia disebabkan rendahnya asupan zat besi (Fe). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) yang rendah, konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), adanya penyakit cacingan, serta kurang konsumsi protein dan Vitamin C.

  1. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

Penyebab Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) adalah kurangnya asupan yodium dan tingginya asupan makanan yang mengandung goitrogen. Kejadian tersebut sering ditemukan pada daerah endemis Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY).

  1. Kurang Vitamin A (KVA)

Kurang Vitamin A (KVA) dikaitkan dengan asupan makanan yang mengandung Vitamin A rendah, frekuensi penyakit infeksi tinggi, serta siklus reproduksi. Selain itu, kurangnya konsumsi protein juga berpengaruh karena diperlukan untuk mengikat Vitamin A di dalam tubuh. Kebutuhan Vitamin A meningkat pada kondisi infeksi, pertumbuhan pesat (bayi, balita, remaja), serta pada masa kehamilan.

Peningkatan status gizi pada remaja puteri dan wanita dewasa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Perbaikan perilaku reproduksi

Secara umum perbaikan perilaku reproduksi meliputi “pencegahan empat terlalu”, yaitu terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu dekat, dan terlalu tua.

  • Penundaan kehamilan pertama (hamil tidak di bawah usia 20 tahun) karena pertumbuhan linier dan rongga panggul baru selesai setelah seorang remaja puteri mencapai usia 20 tahun.
  • Menjaga jarak kelahiran (paling tidak 2 tahun) karena status gizi ibu belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan.
  • Mempunyai jumlah anak secukupnya (2 anak cukup).
  • Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi seksual.
  1. Pencegahan dan penanganan Kurang Energi Kronis (KEK)
  • Peningkatan variasi dan jumlah makanan
  • Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap. Oleh karena itu, diperlukan konsumsi makanan yang beragam. Selain itu, kebutuhan ibu hamil dan menyusui meningkat sehingga jumlah konsumsi makanan harus ditambah.
  • Mengurangi beban kerja pada wanita (terutama ibu hamil).
  1. Makronutrien

Makronutrien berupa karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat dan lemak berfungsi sebagai sumber energi. Sedangkan protein berfungsi sebagai zat pembangun  (perkembangan sel). Selain itu, kebutuhan makronutrien yang cukup dapat mencegah terjadinya Kurang Energi Kronis (KEK).

  1. Mikronutrien
  • Zat Besi (Fe)

Suplementasi zat besi (Fe) pada wanita usia subur dan ibu hamil memiliki dampak positif terhadap outcome kehamilan. Wanita usia subur dan ibu hamil perlu meningkatkan konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme), mengurangi konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), serta konsumsi protein dan Vitamin C. Melakukan pengobatan terhadap penyakit yang merupakan faktor penyebab anemia defisiensi zat besi (Fe), seperti cacingan.

  • Vitamin C

Vitamin C diperlukan untuk kesehatan gigi, gusi, tulang, serta membantu penyerapan zat besi.

  • Vitamin A

Suplementasi Vitamin A diperlukan karena konsumsi melalui makanan saja tidak cukup. Perlu diversifikasi makanan (konsumsi makanan yang beragam) untuk mendapatkan Vitamin A.

  • Yodium

Konsumsi garam beryodium adalah cara yang paling aman untuk mengatasi Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). Suplementasi dapat dilakukan jika memang dibutuhkan.

  • Kalsium

Kalsium berfungsi untuk menguatkan tulang dan gigi. Ibu hamil memerlukan kalsium untuk membangun tulang dan gigi janin. Selain itu, kalsium berperan dalam membantu tubuh Anda mengatur cairan, membantu kerja fungsi saraf dan kontraksi otot.

  • Vitamin D

Vitamin D untuk kesehatan tulang dan gigi, serta membantu penyerapan kalsium.

  1. Perilaku higienis

Perilaku higienis penting untuk mengurangi terjadinya penyakit infeksi yang merupakan faktor resiko kurang gizi. Berikut beberapa perilaku higienis, yaitu:

  • Cuci tangan pakai sabun.
  • Jamban yang sehat.
  • Menggunakan alas kaki.
  1. Kehamilan dan menyusui
  • Menambah asupan makanan saat hamil dan menyusui sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu perlu tambahan energi sebesar 180 – 400 kkal. Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu selama hamil dapat mencegah resiko stunting pada anak.
  • Konsumsi tablet tambah darah untuk wanita usia subur dan ibu hamil. Kebutuhan zat besi untuk wanita usia subur menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 26 mg. Sedangkan tambahan kebutuhan zat besi untuk ibu hamil menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 6 – 13 mg.
  • Mengurangi beban kerja ibu hamil.
  • Pemberian obat cacing berkala.
  • Konsumsi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) untuk ibu nifas. Selain untuk mempercepat pemulihan pasca melahirkan, Vitamin A dibutuhkan untuk bayi yang didapatkan dari ASI.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014). Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

  4. Nareza, Meva. 2022. “Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Gizi Ibu Hamil”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada  2 April 2022 pukul 09.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

KECUKUPAN GIZI BAGI IBU ITU PENTING

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa status gizi ibu tidak hanya memberikan dampak terhadap status kesehatan dan resiko kematian dirinya, melainkan juga terhadap keberlangsungan hidup dan perkembangan janin yang dikandungnya. Dampak lebih jauh lagi yaitu terhadap pertumbuhan janin sampai usia dewasa. Dengan demikian, gizi ibu menentukan kualitas sumber daya manusia. Intervensi meningkatkan kesehatan dan gizi wanita usia subur dinilai cukup strategis untuk memutus siklus kurang gizi antar generasi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa intervensi perbaikan status gizi ibu sebelum kehamilan lebih efektif daripada suplementasi selama kehamilan.

Berikut ini beberapa kasus kurang gizi pada ibu, di antaranya:

  1. Kurang Energi Kronis (KEK)

Kurang Energi Kronis (KEK) terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi untuk memenuhi kebutuhan dengan pengeluaran energi. Penyebab Kurang Energi Kronis (KEK) di antaranya adalah kurangnya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga (ekonomi) serta beban kerja ibu yang berat tidak sebanding dengan asupan yang dikonsumsi.

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi (Fe)

Anemia disebabkan rendahnya asupan zat besi (Fe). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) yang rendah, konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), adanya penyakit cacingan, serta kurang konsumsi protein dan Vitamin C.

  1. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

Penyebab Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) adalah kurangnya asupan yodium dan tingginya asupan makanan yang mengandung goitrogen. Kejadian tersebut sering ditemukan pada daerah endemis Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY).

  1. Kurang Vitamin A (KVA)

Kurang Vitamin A (KVA) dikaitkan dengan asupan makanan yang mengandung Vitamin A rendah, frekuensi penyakit infeksi tinggi, serta siklus reproduksi. Selain itu, kurangnya konsumsi protein juga berpengaruh karena diperlukan untuk mengikat Vitamin A di dalam tubuh. Kebutuhan Vitamin A meningkat pada kondisi infeksi, pertumbuhan pesat (bayi, balita, remaja), serta pada masa kehamilan.

Peningkatan status gizi pada remaja puteri dan wanita dewasa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Perbaikan perilaku reproduksi

Secara umum perbaikan perilaku reproduksi meliputi “pencegahan empat terlalu”, yaitu terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu dekat, dan terlalu tua.

  • Penundaan kehamilan pertama (hamil tidak di bawah usia 20 tahun) karena pertumbuhan linier dan rongga panggul baru selesai setelah seorang remaja puteri mencapai usia 20 tahun.
  • Menjaga jarak kelahiran (paling tidak 2 tahun) karena status gizi ibu belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan.
  • Mempunyai jumlah anak secukupnya (2 anak cukup).
  • Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi seksual.
  1. Pencegahan dan penanganan Kurang Energi Kronis (KEK)
  • Peningkatan variasi dan jumlah makanan
  • Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap. Oleh karena itu, diperlukan konsumsi makanan yang beragam. Selain itu, kebutuhan ibu hamil dan menyusui meningkat sehingga jumlah konsumsi makanan harus ditambah.
  • Mengurangi beban kerja pada wanita (terutama ibu hamil).
  1. Makronutrien

Makronutrien berupa karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat dan lemak berfungsi sebagai sumber energi. Sedangkan protein berfungsi sebagai zat pembangun  (perkembangan sel). Selain itu, kebutuhan makronutrien yang cukup dapat mencegah terjadinya Kurang Energi Kronis (KEK).

  1. Mikronutrien
  • Zat Besi (Fe)

Suplementasi zat besi (Fe) pada wanita usia subur dan ibu hamil memiliki dampak positif terhadap outcome kehamilan. Wanita usia subur dan ibu hamil perlu meningkatkan konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme), mengurangi konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), serta konsumsi protein dan Vitamin C. Melakukan pengobatan terhadap penyakit yang merupakan faktor penyebab anemia defisiensi zat besi (Fe), seperti cacingan.

  • Vitamin C

Vitamin C diperlukan untuk kesehatan gigi, gusi, tulang, serta membantu penyerapan zat besi.

  • Vitamin A

Suplementasi Vitamin A diperlukan karena konsumsi melalui makanan saja tidak cukup. Perlu diversifikasi makanan (konsumsi makanan yang beragam) untuk mendapatkan Vitamin A.

  • Yodium

Konsumsi garam beryodium adalah cara yang paling aman untuk mengatasi Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). Suplementasi dapat dilakukan jika memang dibutuhkan.

  • Kalsium

Kalsium berfungsi untuk menguatkan tulang dan gigi. Ibu hamil memerlukan kalsium untuk membangun tulang dan gigi janin. Selain itu, kalsium berperan dalam membantu tubuh Anda mengatur cairan, membantu kerja fungsi saraf dan kontraksi otot.

  • Vitamin D

Vitamin D untuk kesehatan tulang dan gigi, serta membantu penyerapan kalsium.

  1. Perilaku higienis

Perilaku higienis penting untuk mengurangi terjadinya penyakit infeksi yang merupakan faktor resiko kurang gizi. Berikut beberapa perilaku higienis, yaitu:

  • Cuci tangan pakai sabun.
  • Jamban yang sehat.
  • Menggunakan alas kaki.
  1. Kehamilan dan menyusui
  • Menambah asupan makanan saat hamil dan menyusui sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu perlu tambahan energi sebesar 180 – 400 kkal. Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu selama hamil dapat mencegah resiko stunting pada anak.
  • Konsumsi tablet tambah darah untuk wanita usia subur dan ibu hamil. Kebutuhan zat besi untuk wanita usia subur menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 26 mg. Sedangkan tambahan kebutuhan zat besi untuk ibu hamil menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 6 – 13 mg.
  • Mengurangi beban kerja ibu hamil.
  • Pemberian obat cacing berkala.
  • Konsumsi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) untuk ibu nifas. Selain untuk mempercepat pemulihan pasca melahirkan, Vitamin A dibutuhkan untuk bayi yang didapatkan dari ASI.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014). Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

  4. Nareza, Meva. 2022. “Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Gizi Ibu Hamil”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada  2 April 2022 pukul 09.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

KELOR, MANFAAT YANG LEBIH LUAS DARI DAUNNYA

KELOR, MANFAAT YANG LEBIH LUAS DARI DAUNNYA

Manfaat daun kelor bagi kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Tanaman ini memang sudah lama dikenal sebagai tanaman herbal yang baik untuk menjaga tekanan darah hingga mencegah kanker. Tak hanya itu, daun kelor ternyata memiliki beragam manfaat lainnya.

Tanaman kelor yang mempunyai nama dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera atau dalam bahasa inggris disebut drumstick plant ini merupakan tanaman tropis yang sejak lama telah dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional. Tanaman ini dapat dikenali dari bentuk daunnya yang berukuran kecil. Pohon kelor juga mudah tumbuh dan bisa hidup di tanah yang tidak terlalu subur.

Di Indonesia, khususnya di lingkungan perkampungan dan pedesaan, tanaman kelor hanya menjadi tanaman pagar hidup, batas tanah, ataupun penjalar tanaman lainnya. Meskipun demikian, manfaat dari daun dan karangan bunga serta buah muda sebagai sayuran sudah sejak lama digunakan.

Tanaman kelor sudah dikenal sejak lama sebagai tanaman berkhasiat mulai dari akar, batang, daun hingga bijinya. Seperti akarnya, dapat dicampur dengan kulit akar pepaya, kemudian digiling hingga hancur. Campuran tersebut banyak digunakan sebagai obat luar (balur) penyakir beri-beri dan sebangsanya. Daunnya apabila ditambah dengan kapur sirih, juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan. Daun kelor juga dapat diolah menjadi jamu, teh herbal, hingga suplemen. Tak sedikit pula orang yang menggunakan daun kelor sebagai bahan masakan. Dalam pengobatan tradisional, daun kelor dipercaya berkhasiat untuk mengobati diabetes, nyeri sendi, infeksi bakteri, hingga kanker.

Kandungan Nutrisi Daun Kelor

Kelor merupakan tanaman yang sering disebut “The Miracle Tree”, atau tanaman ajaib karena memiliki potensi untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan gizi, serta mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Daun kelor dapat digunakan sebagai agen antioksidan dan antimikroba alami yang dapat diaplikasikan dalam farmasi dan makanan.

Daun kelor memiliki kadar vitamin A dan C yang cukup tinggi. Selain itu, daun kelor juga dikenal kaya serat, kalsium, zat besi, selenium, zinc, dan juga sumber fosfor yang baik. Buah mudanya berkadar air tinggi dan kaya protein. Komposisi asam lemaknya meliputi asam oleat, asam linoleat, asam eiokosanoat, asam palmitat, asam stearat, asam arakhidat dan lainnya.

Di dalam sekitar 2 gram daun kelor, terkandung 14 kalori dan beragam nutrisi berikut ini:

  • 2 gram protein
  • 1,8–2 gram karbohidrat
  • 0,8 miligram zat besi
  • 8,8 miligram magnesium
  • 70 miligram kalium
  • 38–40 miligram kalsium
  • 11 miligram vitamin C
  • 600 IU vitamin A
  • 8,5 mikrogram folat

Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan

Telah disebutkan sebelumnya bahwa daun kelor dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang baik untuk kesehatan. Berikut ini adalah beragam manfaat daun kelor yang dapat diperoleh:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu menangkal radikal bebas

Berdasarkan penelitian, ekstrak daun kelor diketahui dapat melindungi tubuh dari berbagai jenis kuman, seperti Salmonella typhi penyebab tifus, Escherichia coli penyebab diare, dan Staphylococcus aureus penyebab infeksi kulit. Daun kelor juga diketahui dapat melawan virus, terutama jenis virus herpes simplex (HSV).

2. Menurunkan kadar gula darah

Daun kelor dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah sekaligus meningkatkan efektivitas kerja dari hormon insulin. Manfaat ini baik untuk mencegah diabetes dan terjadinya resistensi insulin. Akan tetapi, manfaat daun kelor sebagai pengobatan diabetes pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut.

Mengurangi peradangan atau inflamasi dalam tubuh

Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera. Namun, Anda bisa mengonsumsi daun kelor untuk meredakan peradangan yang dialami. Ekstrak daun kelor dipercaya mengandung zat yang dapat mengurangi peradangan.

3. Memelihara fungsi dan kesehatan otak

Selain membantu memerangi radikal bebas, kandungan antioksidan yang ada di dalam daun kelor ternyata juga memiliki peran dalam menjaga fungsi dan kesehatan otak. Asupan antioksidan yang terpenuhi dapat membantu menurunkan resiko tubuh dari ancaman penyakit Parkinson dan Alzheimer.

4. Mengontrol tekanan darah

Selain antioksidan, daun kelor juga meiliki kandungan kalium. Kedua kandungan ini dipercaya sangat bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah sekaligus menjaga tekanan darah tetap stabil, sehingga risiko hipertensi dapat dicegah

5. Menurunkan kadar kolesterol

Kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Beberapa tanaman dipercaya efektif menurunkan kadar kolesterol, termasuk daun kelor.

6. Menghambat pertumbuhan sel kanker

Manfaat ini didapat karena kandungan antioksidan yang memang sangat efektif dalam mencegah terjadinya kerusakan sel pada tubuh sebagai dampak dari radikal bebas

Cara Mengolah Daun Kelor 

Agar manfaat daun kelor tetap terjaga, maka anda harus mengetahui cara untuk mengolahnya. Ada beberapa cara untuk mengolah daun kelor yang benar, seperti berikut ini: 

1. Direbus 

Cara ini merupakan cara yang paling umum dilakukan karena dengan cara ini seluruh bagian daun kelor bisa dimanfaatkan. Air rebusan bisa diminum dan daun yang telah direbus bisa digunakan sebagai lalap. 

2. Disayur 

Sayur daun kelor juga ternyata tidak hanya lezat namun juga kaya manfaat. Daun kelor bisa dibuat sayur bening dengan tambahan jagung manis dan beberapa bumbu yang akan membuat rasanya semakin kaya. 

3. Diolah Menjadi Teh 

Untuk mengolah daun kelor dengan cara seperti ini, anda harus memastikan daun kelor dalam keadaan kering. Setelah itu masukkan daun kelor ke cangkir dan seduh seperti anda membuat teh. Bisa juga ditambahkan gula atau madu untuk menambah cita rasa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adrian, K. (2020). 6 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan. Diakses 11 Maret 2022, dari alodokter.com: https://www.alodokter.com/kandungan-dan-manfaat-daun-kelor-bagi-kesehatan
  2. Affandi, N. N. (2019). Kelor Tanaman Ajaib Untuk Kehidupan Yang Lebih Sehat. Yogyakarta: Deepublish.

  3. Arnarson, A. (2018). 6 Science-Based Health Benefits of Moringa oleifera. Diakses 10 Maret 2022, dari Healthline.com: https://www.healthline.com/nutrition/6-benefits-of-moringa-oleifera

  4. Nurcahyati, E. (2015). Khasiat Dahsyat Daun Kelor. Jakarta: Jendela Sehat

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

KELOR, MANFAAT YANG LEBIH LUAS DARI DAUNNYA

Manfaat daun kelor bagi kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Tanaman ini memang sudah lama dikenal sebagai tanaman herbal yang baik untuk menjaga tekanan darah hingga mencegah kanker. Tak hanya itu, daun kelor ternyata memiliki beragam manfaat lainnya.

Tanaman kelor yang mempunyai nama dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera atau dalam bahasa inggris disebut drumstick plant ini merupakan tanaman tropis yang sejak lama telah dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional. Tanaman ini dapat dikenali dari bentuk daunnya yang berukuran kecil. Pohon kelor juga mudah tumbuh dan bisa hidup di tanah yang tidak terlalu subur.

Di Indonesia, khususnya di lingkungan perkampungan dan pedesaan, tanaman kelor hanya menjadi tanaman pagar hidup, batas tanah, ataupun penjalar tanaman lainnya. Meskipun demikian, manfaat dari daun dan karangan bunga serta buah muda sebagai sayuran sudah sejak lama digunakan.

Tanaman kelor sudah dikenal sejak lama sebagai tanaman berkhasiat mulai dari akar, batang, daun hingga bijinya. Seperti akarnya, dapat dicampur dengan kulit akar pepaya, kemudian digiling hingga hancur. Campuran tersebut banyak digunakan sebagai obat luar (balur) penyakir beri-beri dan sebangsanya. Daunnya apabila ditambah dengan kapur sirih, juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan. Daun kelor juga dapat diolah menjadi jamu, teh herbal, hingga suplemen. Tak sedikit pula orang yang menggunakan daun kelor sebagai bahan masakan. Dalam pengobatan tradisional, daun kelor dipercaya berkhasiat untuk mengobati diabetes, nyeri sendi, infeksi bakteri, hingga kanker.

Kandungan Nutrisi Daun Kelor

Kelor merupakan tanaman yang sering disebut “The Miracle Tree”, atau tanaman ajaib karena memiliki potensi untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan gizi, serta mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Daun kelor dapat digunakan sebagai agen antioksidan dan antimikroba alami yang dapat diaplikasikan dalam farmasi dan makanan.

Daun kelor memiliki kadar vitamin A dan C yang cukup tinggi. Selain itu, daun kelor juga dikenal kaya serat, kalsium, zat besi, selenium, zinc, dan juga sumber fosfor yang baik. Buah mudanya berkadar air tinggi dan kaya protein. Komposisi asam lemaknya meliputi asam oleat, asam linoleat, asam eiokosanoat, asam palmitat, asam stearat, asam arakhidat dan lainnya.

Di dalam sekitar 2 gram daun kelor, terkandung 14 kalori dan beragam nutrisi berikut ini:

  • 2 gram protein
  • 1,8–2 gram karbohidrat
  • 0,8 miligram zat besi
  • 8,8 miligram magnesium
  • 70 miligram kalium
  • 38–40 miligram kalsium
  • 11 miligram vitamin C
  • 600 IU vitamin A
  • 8,5 mikrogram folat

Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan

Telah disebutkan sebelumnya bahwa daun kelor dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang baik untuk kesehatan. Berikut ini adalah beragam manfaat daun kelor yang dapat diperoleh:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu menangkal radikal bebas

Berdasarkan penelitian, ekstrak daun kelor diketahui dapat melindungi tubuh dari berbagai jenis kuman, seperti Salmonella typhi penyebab tifus, Escherichia coli penyebab diare, dan Staphylococcus aureus penyebab infeksi kulit. Daun kelor juga diketahui dapat melawan virus, terutama jenis virus herpes simplex (HSV).

2. Menurunkan kadar gula darah

Daun kelor dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah sekaligus meningkatkan efektivitas kerja dari hormon insulin. Manfaat ini baik untuk mencegah diabetes dan terjadinya resistensi insulin. Akan tetapi, manfaat daun kelor sebagai pengobatan diabetes pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut.

Mengurangi peradangan atau inflamasi dalam tubuh

Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera. Namun, Anda bisa mengonsumsi daun kelor untuk meredakan peradangan yang dialami. Ekstrak daun kelor dipercaya mengandung zat yang dapat mengurangi peradangan.

3. Memelihara fungsi dan kesehatan otak

Selain membantu memerangi radikal bebas, kandungan antioksidan yang ada di dalam daun kelor ternyata juga memiliki peran dalam menjaga fungsi dan kesehatan otak. Asupan antioksidan yang terpenuhi dapat membantu menurunkan resiko tubuh dari ancaman penyakit Parkinson dan Alzheimer.

4. Mengontrol tekanan darah

Selain antioksidan, daun kelor juga meiliki kandungan kalium. Kedua kandungan ini dipercaya sangat bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah sekaligus menjaga tekanan darah tetap stabil, sehingga risiko hipertensi dapat dicegah

5. Menurunkan kadar kolesterol

Kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Beberapa tanaman dipercaya efektif menurunkan kadar kolesterol, termasuk daun kelor.

6. Menghambat pertumbuhan sel kanker

Manfaat ini didapat karena kandungan antioksidan yang memang sangat efektif dalam mencegah terjadinya kerusakan sel pada tubuh sebagai dampak dari radikal bebas

Cara Mengolah Daun Kelor 

Agar manfaat daun kelor tetap terjaga, maka anda harus mengetahui cara untuk mengolahnya. Ada beberapa cara untuk mengolah daun kelor yang benar, seperti berikut ini: 

1. Direbus 

Cara ini merupakan cara yang paling umum dilakukan karena dengan cara ini seluruh bagian daun kelor bisa dimanfaatkan. Air rebusan bisa diminum dan daun yang telah direbus bisa digunakan sebagai lalap. 

2. Disayur 

Sayur daun kelor juga ternyata tidak hanya lezat namun juga kaya manfaat. Daun kelor bisa dibuat sayur bening dengan tambahan jagung manis dan beberapa bumbu yang akan membuat rasanya semakin kaya. 

3. Diolah Menjadi Teh 

Untuk mengolah daun kelor dengan cara seperti ini, anda harus memastikan daun kelor dalam keadaan kering. Setelah itu masukkan daun kelor ke cangkir dan seduh seperti anda membuat teh. Bisa juga ditambahkan gula atau madu untuk menambah cita rasa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adrian, K. (2020). 6 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan. Diakses 11 Maret 2022, dari alodokter.com: https://www.alodokter.com/kandungan-dan-manfaat-daun-kelor-bagi-kesehatan
  2. Affandi, N. N. (2019). Kelor Tanaman Ajaib Untuk Kehidupan Yang Lebih Sehat. Yogyakarta: Deepublish.

  3. Arnarson, A. (2018). 6 Science-Based Health Benefits of Moringa oleifera. Diakses 10 Maret 2022, dari Healthline.com: https://www.healthline.com/nutrition/6-benefits-of-moringa-oleifera

  4. Nurcahyati, E. (2015). Khasiat Dahsyat Daun Kelor. Jakarta: Jendela Sehat

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

WASPADA BAHAYA OBESITAS

WASPADA BAHAYA OBESITAS

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) di tahun 2016, ada sekitar 650 juta penduduk usia dewasa yang mengalami obesitas. Sementara di tahun 2020, ada sekitar 39 juta anak usia di bawah 5 tahun yang menderita obesitas. Sedangkan data dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia di tahun 2018 menunjukkan bahwa 22 persen atau sekitar 625.000 orang dewasa di Indonesia menderita obesitas.

Obesitas menurut Kemenkes RI didefinisikan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/ m2. Resiko obesitas meningkat jika besar lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki. Sedangkan besar lingkar pinggang untuk perempuan adalah lebih dari 90 cm. Obesitas mempengaruhi hampir setiap sistem tubuh sehingga dapat meningkatkan terserang resiko penyakit degeneratif.

Beberapa penyebab obesitas di antaranya yaitu:

  1. Latar belakang genetik yang mendorong kenaikan berat badan lebih banyak daripada orang lain yang mendapatkan asupan makanan yang sama dan aktivitas fisik yang sama.
  2. Penurunan aktivitas fisik di bawah ambang batas individual yang diperlukan untuk penyeimbangan otomatis akan energi masuk dengan energi keluar.
  3. Asupan makanan tinggi energi dan lemak tanpa diimbangi olahraga.

Terdapat beberapa cara untuk mengendalikan masalah obesitas, yaitu:

  1. Menurunkan berat badan

         Cara ini merupakan salah satu solusi yang dapat dicapai dengan cara mengonsumsi asupan energi yang lebih sedikit daripada yang digunakan untuk metabolisme dan aktivitas fisik. Makan dengan volume sedikit belum tentu mempunyai kalori yang rendah. Kecil kemungkinan bagi penderita obesitas untuk menurunkan berat badan melalui aktivitas fisik. Maka mengurangi makan adalah cara yang terbaik.

           Beberapa penelitian menyatakan bahwa manfaat terbesar menurunkan berat badan adalah dengan kehilangan berat badan sebesar 5 – 10 kg. Penurunan ini belum cukup untuk dapat mencapai berat badan normal, namun dapat mengurangi resiko terserang Diabetes Mellitus hingga setengah kalinya. Penurunan berat badan tanpa manajemen berat badan (mempertahankan berat badan) akan meningkatkan resiko terserang penyakit gagal jantung.

  1. Penjagaan berat badan

        Mencapai keseimbangan energi yaitu asupan energi sama besar dengan energi yang digunakan dapat mencegah kenaikan kembali berat badan. Hal ini merupakan cara yang efektiif bagi penderita obesitas. Kebanyakan orang yang telah berhasil menurunkan berat badan masih kesulitan untuk mempertahankan berat badan. Diperlukan mengurangi asupan sebesar 100 – 200 kkal/ hari untuk mempertahankan berat badan. Bisa juga dengan meningkatkan aktifitas fisik sebesar 100 – 200 kkal (misalnya jalan kaki 30 – 40 menit). Perubahan perilaku perlu dipertahankan seumur hidup.

  1. Identifikasi orang dengan berat badan lebih (overweight) dan obesitas

         Digunakan dua pendekatan, yaitu:

  • Promosi kesehatan yang diarahkan ke populasi dengan tujuan mengingatkan masyarakat bahwa berat badan berlebih (overweight) dapat meningkatkan resiko kesehatan sehingga dapat mengambil tindakan untuk mencegah kenaikan berat badan. Overweight dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 25 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 80 cm untuk perempuan.
  • Mengidentifikasi yang memiliki resiko tinggi (obesitas). Dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 30 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk perempuan.
  1. Prioritas penanganan faktor resiko dalam kasus berat badan lebih (overweight) dan obesitas

       Berat badan lebih (overweight) dan obesitas meningkatkan resiko terserang penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus, gagal jantung, Hipertensi. Agar terhindar dari resiko penyakit degeneratif tersebut maka membutuhkan pengobatan prioritas bagi penderita overweight dan obesitas.

Ada beberapa gerakan untuk pencegahan obesitas, yaitu:

  1. Meningkatkan berjalan setiap hari dengan 2000 langkah

Dapat dipantau dengan menggunakan alat penghitung langkah, yang setara dengan berjalan sekitar 20 menit atau 1,6 km. Hal ini terbukti cukup efektif untuk mencegah kenaikan berat badan.

  1. Mengurangi asupan energi sebesar 100 kkal/ hari

Jumlah pengurangan energi tersebut cukup untuk mencegah kenaikan berat badan. Perubahan kecil tersebut cukup berarti.

  1. Bekerja dengan pengusaha dan pihak yang terkait untuk menuju lingkungan kerja yang sehat

Mencegah obesitas pada para pekerja dengan cara mengurangi 100 kkal/ hari dalam pengaturan katering untuk pekerja. Selain itu, diperlukan pendekatan melalui pendidikan/ penyuluhan.

Beberapa cara pengaturan makan yang dapat mencegah kenaikan berat badan yaitu:

  1. Mengontrol ukuran porsi sesuai standar (dikurangi 100 kkal/ hari).
  2. Makanan harus cukup menarik untuk makanan sehari-hari meskipun rendah kalori karena berlaku untuk seumur hidup.
  3. Mengurangi asupan lemak, kurang dari 30% kebutuhan kalori per hari.

Beberapa orang tertarik untuk menerapkan diet rendah karbohidrat tetapi tinggi protein dan tinggi lemak. Dalam waktu singkat dapat menurunkan berat badan. Namun dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar LDL yang beresiko meningkatkan terserang penyakit degeneratif seperti gagal jantung dan hipertensi. Selain itu, dapat meningkatkan kenaikan berat badan kembali.

Penderita obesitas umumnya mengalami keluhan berupa:

  1. Penumpukan lemak di tubuh, terutama di sekitar pinggang.
  2. Mudah berkeringat.
  3. Sering mendengkur.
  4. Sesak napas.
  5. Susah tidur.
  6. Mudah lelah.
  7. Bagian lipatan kulit lembap karena keringat sehingga menimbulkan iritasi.
  8. Nyeri di persendian atau punggung.
  9. Tidak percaya diri untuk bersosialisasi.

Sementara itu, gejala obesitas yang umum terjadi pada anak-anak sampai remaja antara lain:

  1. Tumpukan lemak di bagian payudara.
  2. Stretch mark di punggung dan pinggul.
  3. Kulit menebal dan menjadi lebih gelap (akantosis nigrikans)
  4. Sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.
  5. Gangguan tidur, misalnya sleep apnea.
  6. Tidak percaya diri
  7. Menstruasi dini pada anak perempuan..
  8. Pubertas terlambat pada anak laki-laki.
  9. Kelainan tulang, seperti kaki rata.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Lean, Michael E J. (2013). Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  2. Misnadiarly. (2017). Obesitas Sebagai Faktor Resiko Beberapa Penyakit. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

  3. Toto Sudargo, dkk. (2016). Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  4. Pittara. 2022. “Gejala, Penyebab, dan Mengobati Obesitas”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada 9 Maret 2022 pukul 19.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

WASPADA BAHAYA OBESITAS

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) di tahun 2016, ada sekitar 650 juta penduduk usia dewasa yang mengalami obesitas. Sementara di tahun 2020, ada sekitar 39 juta anak usia di bawah 5 tahun yang menderita obesitas. Sedangkan data dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia di tahun 2018 menunjukkan bahwa 22 persen atau sekitar 625.000 orang dewasa di Indonesia menderita obesitas.

Obesitas menurut Kemenkes RI didefinisikan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/ m2. Resiko obesitas meningkat jika besar lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki. Sedangkan besar lingkar pinggang untuk perempuan adalah lebih dari 90 cm. Obesitas mempengaruhi hampir setiap sistem tubuh sehingga dapat meningkatkan terserang resiko penyakit degeneratif.

Beberapa penyebab obesitas di antaranya yaitu:

  1. Latar belakang genetik yang mendorong kenaikan berat badan lebih banyak daripada orang lain yang mendapatkan asupan makanan yang sama dan aktivitas fisik yang sama.
  2. Penurunan aktivitas fisik di bawah ambang batas individual yang diperlukan untuk penyeimbangan otomatis akan energi masuk dengan energi keluar.
  3. Asupan makanan tinggi energi dan lemak tanpa diimbangi olahraga.

Terdapat beberapa cara untuk mengendalikan masalah obesitas, yaitu:

  1. Menurunkan berat badan

         Cara ini merupakan salah satu solusi yang dapat dicapai dengan cara mengonsumsi asupan energi yang lebih sedikit daripada yang digunakan untuk metabolisme dan aktivitas fisik. Makan dengan volume sedikit belum tentu mempunyai kalori yang rendah. Kecil kemungkinan bagi penderita obesitas untuk menurunkan berat badan melalui aktivitas fisik. Maka mengurangi makan adalah cara yang terbaik.

           Beberapa penelitian menyatakan bahwa manfaat terbesar menurunkan berat badan adalah dengan kehilangan berat badan sebesar 5 – 10 kg. Penurunan ini belum cukup untuk dapat mencapai berat badan normal, namun dapat mengurangi resiko terserang Diabetes Mellitus hingga setengah kalinya. Penurunan berat badan tanpa manajemen berat badan (mempertahankan berat badan) akan meningkatkan resiko terserang penyakit gagal jantung.

  1. Penjagaan berat badan

        Mencapai keseimbangan energi yaitu asupan energi sama besar dengan energi yang digunakan dapat mencegah kenaikan kembali berat badan. Hal ini merupakan cara yang efektiif bagi penderita obesitas. Kebanyakan orang yang telah berhasil menurunkan berat badan masih kesulitan untuk mempertahankan berat badan. Diperlukan mengurangi asupan sebesar 100 – 200 kkal/ hari untuk mempertahankan berat badan. Bisa juga dengan meningkatkan aktifitas fisik sebesar 100 – 200 kkal (misalnya jalan kaki 30 – 40 menit). Perubahan perilaku perlu dipertahankan seumur hidup.

  1. Identifikasi orang dengan berat badan lebih (overweight) dan obesitas

         Digunakan dua pendekatan, yaitu:

  • Promosi kesehatan yang diarahkan ke populasi dengan tujuan mengingatkan masyarakat bahwa berat badan berlebih (overweight) dapat meningkatkan resiko kesehatan sehingga dapat mengambil tindakan untuk mencegah kenaikan berat badan. Overweight dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 25 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 80 cm untuk perempuan.
  • Mengidentifikasi yang memiliki resiko tinggi (obesitas). Dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 30 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk perempuan.
  1. Prioritas penanganan faktor resiko dalam kasus berat badan lebih (overweight) dan obesitas

       Berat badan lebih (overweight) dan obesitas meningkatkan resiko terserang penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus, gagal jantung, Hipertensi. Agar terhindar dari resiko penyakit degeneratif tersebut maka membutuhkan pengobatan prioritas bagi penderita overweight dan obesitas.

Ada beberapa gerakan untuk pencegahan obesitas, yaitu:

  1. Meningkatkan berjalan setiap hari dengan 2000 langkah

Dapat dipantau dengan menggunakan alat penghitung langkah, yang setara dengan berjalan sekitar 20 menit atau 1,6 km. Hal ini terbukti cukup efektif untuk mencegah kenaikan berat badan.

  1. Mengurangi asupan energi sebesar 100 kkal/ hari

Jumlah pengurangan energi tersebut cukup untuk mencegah kenaikan berat badan. Perubahan kecil tersebut cukup berarti.

  1. Bekerja dengan pengusaha dan pihak yang terkait untuk menuju lingkungan kerja yang sehat

Mencegah obesitas pada para pekerja dengan cara mengurangi 100 kkal/ hari dalam pengaturan katering untuk pekerja. Selain itu, diperlukan pendekatan melalui pendidikan/ penyuluhan.

Beberapa cara pengaturan makan yang dapat mencegah kenaikan berat badan yaitu:

  1. Mengontrol ukuran porsi sesuai standar (dikurangi 100 kkal/ hari).
  2. Makanan harus cukup menarik untuk makanan sehari-hari meskipun rendah kalori karena berlaku untuk seumur hidup.
  3. Mengurangi asupan lemak, kurang dari 30% kebutuhan kalori per hari.

Beberapa orang tertarik untuk menerapkan diet rendah karbohidrat tetapi tinggi protein dan tinggi lemak. Dalam waktu singkat dapat menurunkan berat badan. Namun dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar LDL yang beresiko meningkatkan terserang penyakit degeneratif seperti gagal jantung dan hipertensi. Selain itu, dapat meningkatkan kenaikan berat badan kembali.

Penderita obesitas umumnya mengalami keluhan berupa:

  1. Penumpukan lemak di tubuh, terutama di sekitar pinggang.
  2. Mudah berkeringat.
  3. Sering mendengkur.
  4. Sesak napas.
  5. Susah tidur.
  6. Mudah lelah.
  7. Bagian lipatan kulit lembap karena keringat sehingga menimbulkan iritasi.
  8. Nyeri di persendian atau punggung.
  9. Tidak percaya diri untuk bersosialisasi.

Sementara itu, gejala obesitas yang umum terjadi pada anak-anak sampai remaja antara lain:

  1. Tumpukan lemak di bagian payudara.
  2. Stretch mark di punggung dan pinggul.
  3. Kulit menebal dan menjadi lebih gelap (akantosis nigrikans)
  4. Sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.
  5. Gangguan tidur, misalnya sleep apnea.
  6. Tidak percaya diri
  7. Menstruasi dini pada anak perempuan..
  8. Pubertas terlambat pada anak laki-laki.
  9. Kelainan tulang, seperti kaki rata.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Lean, Michael E J. (2013). Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  2. Misnadiarly. (2017). Obesitas Sebagai Faktor Resiko Beberapa Penyakit. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

  3. Toto Sudargo, dkk. (2016). Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  4. Pittara. 2022. “Gejala, Penyebab, dan Mengobati Obesitas”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada 9 Maret 2022 pukul 19.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

GIZI ATAU NUTRISI?

10 MARET 2022

GIZI ATAU NUTRISI?

Pada masa pandemi Covid-19, aspek gizi merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dalam usaha pencegahan dan penanganan masalah kesehatan yang terjadi. Terdapat peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga asupan makanan bergizi untuk mencapai status kesehatan optimal. Namun sayangnya, penggunaan istilah “gizi” tidak jarang sering dipertukarkan dengan “nutrisi”. Sebenarnya, manakah istilah yang tepat?

Menurut sejarah, nutrition berasal dari Bahasa Latin nutrire yang berarti untuk memberi makan. Pada 469 SM, Socrates menyampaikan “Thou shouldst eat to live; not live to eat” yang berarti seseorang makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan dan pada tahun 400 SM, Hippocrates menyatakan “Let thy food be thy medicine and thy medicine be thy food.” Dengan pernyataan tersebut, Hippocrates menunjukkan kesadarannya bahwa makanan dapat berpengaruh terhadap status kesehatan manusia. Sebelum tahun 1785, terdapat banyak publikasi ilmiah terkait pendapat bagaimana makanan digunakan di dalam tubuh manusia. Dr. James Lind yang merupakan seorang dokter dari Inggris mengobservasi pelaut yang mengalami scurvy pada tahun 1747. Berdasarkan hasil observasinya ditemukan bahwa pada pelaut tersebut hanya mengonsumsi makanan seperti roti dan daging merah. Lind melakukan percobaan dengan membagi pelaut menjadi 3 kelompok perlakuan yang mengonsumsi air garam, cuka, dan jeruk nipis. Pada kelompok yang diberi jeruk nipis, tidak terjadi scurvy. Meskipun vitamin C belum ditemukan sampai dengan tahun 1930an, percobaan tersebut mengubah cara berpikir dokter terkait pengaruh makanan dan kesehatan. Pada akhir abad ke-18, mulai dilakukan identifikasi unsur-unsur utama dan pengembangan metode analisis kimia secara kuantitatif. Penelitian di bidang gizi mulai berkembang, hampir semua vitamin telah teridentifikasi antara tahun 1913-1948 dan banyak penelitian terkait penyakit yang disebabkan karena kekurangan zat gizi tunggal dilakukan. Hal ini ikut mendorong perkembangan ekonomi yang melibatkan teknologi pertanian dan formulasi makanan yang bertujuan untuk menangani kekurangan zat gizi tersebut. Selanjutnya baru berkembang penelitian yang menghubungkan antara gizi dan penyakit tidak menular.

 

Di Indonesia, penggunaan istilah gizi memiliki sejarah tersendiri. Pada mulanya, sekitar awal tahun 1950an, istilah nutrition dan nutrition science diterjemahkan sebagai gizi dan ilmu gizi. Istilah tersebut telah digunakan pada pengukuhan guru besar Prof.Djuned Pusponegoro di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1952. Pada tahun 1958, Direktur Lembaga Bahasa Indonesia Fakultas Sastra UI, DR. Haryati Soebadio menawarkan dua istilah “Al Gizzai/Ghidza=Gizi” kata dari bahasa Arab dan “Herena” kata dari bahasa Sansekerta. Menurut beliau, pemilihan Bahasa Arab dan Bahasa Sansekerta disebabkan karena akar bahasa yang ada di Indonesia banyak yang berasal dari kedua bahasa tersebut. Prof.dr.Poorwo Soedarmo yang merupakan Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada saat itu memilih “Gizi” sebagai terjemahan resmi dari nutrition. Sejak tahun 1958 pula, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memasukkan Ilmu Gizi di dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) pertama. Prof.dr. Poorwo Soedarmo sendiri diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia pada tahun 1969 oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Setelah itu, penggunaan istilah gizi juga tertulis pada dokumen-dokumen resmi pemerintahan, yaitu pada Undang-Undang no 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Undang-Undang no 36 tahun 1999 tentang Kesehatan.

 

Meskipun jika diterjemahkan dari kamus bahasa asing, gizi dan nutrisi memiliki arti yang sama, namun yang perlu kita pahami adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan mengenal sejarah bangsanya. Pemilihan istilah gizi memiliki tempat tersendiri di dalam sejarah bangsa Indonesia. Memulai menggunakan istilah gizi alih-alih nutrisi merupakan langkah kecil dan sederhana yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta dan bangga dengan sejarah di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

  1. ISAGI (2017). Gizi Atau Nutrisi. [Halaman Web]. Diakses pada https://isagi.or.id/gizi-atau-nutrisi/

    Rokom (2012). Sejarah Asal Kata “GIZI” Sebagai Terjemahan dari Kata “NUTRITION”. [Halaman Web]. Diakses pada https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20120917/355526/sejarah-asal-kata-gizi-sebagai-terjemahan-dari-kata-nutrition/

  2. Kesuma N (2020). Mengenal Prof. Poorwo Soedarmo Bapak Gizi Indonesia Pencetus Slogan 4 Sehat 5 Sempurna. [Halaman Web]. Diakses pada https://www.industry.co.id/read/67166/mengenal-prof-poorwo-soedarmo-bapak-gizi-indonesia-pencetus-slogan-4-sehat-5-sempurna

  3. Mutiah D (2022). Sosok Prof Poorwo Soedarmo, Tokoh Penting dari Peringatan Hari Gizi Nasional. [Halaman web]. Diakses pada https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4869799/sosok-prof-poorwo-soedarmo-tokoh-penting-dari-peringatan-hari-gizi-nasional?fbclid=IwAR3thz8JC9qjKr7lTAqLU87nGzAhmzq-Lct_ZhP3zPvTrPPCBHfrUKcd4-Y

  4. S. O. WAIFE, Nutritional Etymology, The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 3, Issue 2, March-April 1955, Page 149, https://doi.org/10.1093/ajcn/3.2.149

  5. Soekirman (1999/2000).  “Arti kata Gizi dan Definisi Ilmu Gizi”, dalam buku Ilmu Gizi dan Aplikasinya, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, hal 5.

  6. Trüeb R.M (2020). Brief History of Human Nutrition. In: Nutrition for Healthy Hair, pp 3-15. Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-59920-1_2

  7. United States Public Health Service, American Dietetic Association (ADA) (No year). The History of Nutrition. (Website). Retrieved from https://www.naturalhealers.com/blog/nutrition-history/

Olivia Anggraeny, S.Gz., M.Biomed
Pengajar di Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Malang

10 MARET 2022

GIZI ATAU NUTRISI?

Pada masa pandemi Covid-19, aspek gizi merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dalam usaha pencegahan dan penanganan masalah kesehatan yang terjadi. Terdapat peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga asupan makanan bergizi untuk mencapai status kesehatan optimal. Namun sayangnya, penggunaan istilah “gizi” tidak jarang sering dipertukarkan dengan “nutrisi”. Sebenarnya, manakah istilah yang tepat?

Menurut sejarah, nutrition berasal dari Bahasa Latin nutrire yang berarti untuk memberi makan. Pada 469 SM, Socrates menyampaikan “Thou shouldst eat to live; not live to eat” yang berarti seseorang makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan dan pada tahun 400 SM, Hippocrates menyatakan “Let thy food be thy medicine and thy medicine be thy food.” Dengan pernyataan tersebut, Hippocrates menunjukkan kesadarannya bahwa makanan dapat berpengaruh terhadap status kesehatan manusia. Sebelum tahun 1785, terdapat banyak publikasi ilmiah terkait pendapat bagaimana makanan digunakan di dalam tubuh manusia. Dr. James Lind yang merupakan seorang dokter dari Inggris mengobservasi pelaut yang mengalami scurvy pada tahun 1747. Berdasarkan hasil observasinya ditemukan bahwa pada pelaut tersebut hanya mengonsumsi makanan seperti roti dan daging merah. Lind melakukan percobaan dengan membagi pelaut menjadi 3 kelompok perlakuan yang mengonsumsi air garam, cuka, dan jeruk nipis. Pada kelompok yang diberi jeruk nipis, tidak terjadi scurvy. Meskipun vitamin C belum ditemukan sampai dengan tahun 1930an, percobaan tersebut mengubah cara berpikir dokter terkait pengaruh makanan dan kesehatan. Pada akhir abad ke-18, mulai dilakukan identifikasi unsur-unsur utama dan pengembangan metode analisis kimia secara kuantitatif. Penelitian di bidang gizi mulai berkembang, hampir semua vitamin telah teridentifikasi antara tahun 1913-1948 dan banyak penelitian terkait penyakit yang disebabkan karena kekurangan zat gizi tunggal dilakukan. Hal ini ikut mendorong perkembangan ekonomi yang melibatkan teknologi pertanian dan formulasi makanan yang bertujuan untuk menangani kekurangan zat gizi tersebut. Selanjutnya baru berkembang penelitian yang menghubungkan antara gizi dan penyakit tidak menular.

 

Di Indonesia, penggunaan istilah gizi memiliki sejarah tersendiri. Pada mulanya, sekitar awal tahun 1950an, istilah nutrition dan nutrition science diterjemahkan sebagai gizi dan ilmu gizi. Istilah tersebut telah digunakan pada pengukuhan guru besar Prof.Djuned Pusponegoro di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1952. Pada tahun 1958, Direktur Lembaga Bahasa Indonesia Fakultas Sastra UI, DR. Haryati Soebadio menawarkan dua istilah “Al Gizzai/Ghidza=Gizi” kata dari bahasa Arab dan “Herena” kata dari bahasa Sansekerta. Menurut beliau, pemilihan Bahasa Arab dan Bahasa Sansekerta disebabkan karena akar bahasa yang ada di Indonesia banyak yang berasal dari kedua bahasa tersebut. Prof.dr.Poorwo Soedarmo yang merupakan Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada saat itu memilih “Gizi” sebagai terjemahan resmi dari nutrition. Sejak tahun 1958 pula, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memasukkan Ilmu Gizi di dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) pertama. Prof.dr. Poorwo Soedarmo sendiri diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia pada tahun 1969 oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Setelah itu, penggunaan istilah gizi juga tertulis pada dokumen-dokumen resmi pemerintahan, yaitu pada Undang-Undang no 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Undang-Undang no 36 tahun 1999 tentang Kesehatan.

 

Meskipun jika diterjemahkan dari kamus bahasa asing, gizi dan nutrisi memiliki arti yang sama, namun yang perlu kita pahami adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan mengenal sejarah bangsanya. Pemilihan istilah gizi memiliki tempat tersendiri di dalam sejarah bangsa Indonesia. Memulai menggunakan istilah gizi alih-alih nutrisi merupakan langkah kecil dan sederhana yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta dan bangga dengan sejarah di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

  1. ISAGI (2017). Gizi Atau Nutrisi. [Halaman Web]. Diakses pada https://isagi.or.id/gizi-atau-nutrisi/

    Rokom (2012). Sejarah Asal Kata “GIZI” Sebagai Terjemahan dari Kata “NUTRITION”. [Halaman Web]. Diakses pada https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/ baca/blog/20120917/355526/sejarah-asal-kata-gizi-sebagai-terjemahan-dari-kata-nutrition/

  2. Kesuma N (2020). Mengenal Prof. Poorwo Soedarmo Bapak Gizi Indonesia Pencetus Slogan 4 Sehat 5 Sempurna. [Halaman Web]. Diakses pada https://www.industry.co.id/read/ 67166/mengenal-prof-poorwo-soedarmo-bapak-gizi-indonesia-pencetus-slogan-4-sehat-5-sempurna

  3. Mutiah D (2022). Sosok Prof Poorwo Soedarmo, Tokoh Penting dari Peringatan Hari Gizi Nasional. [Halaman web]. Diakses pada https://www.liputan6.com/lifestyle/ read/4869799/sosok-prof-poorwo-soedarmo-tokoh-penting-dari-peringatan-hari-gizi-nasional?fbclid=IwAR3thz8JC9qjKr7lTAqLU87n GzAhmzq-Lct_ZhP3zPvTrPPCBHfrUKcd4-Y

  4. S. O. WAIFE, Nutritional Etymology, The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 3, Issue 2, March-April 1955, Page 149, https://doi.org/10.1093/ajcn/3.2.149

  5. Soekirman (1999/2000).  “Arti kata Gizi dan Definisi Ilmu Gizi”, dalam buku Ilmu Gizi dan Aplikasinya, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, hal 5.

  6. Trüeb R.M (2020). Brief History of Human Nutrition. In: Nutrition for Healthy Hair, pp 3-15. Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/ 978-3-030-59920-1_2

  7. United States Public Health Service, American Dietetic Association (ADA) (No year). The History of Nutrition. (Website). Retrieved from https://www.naturalhealers.com/blog/ nutrition-history/ 

Olivia Anggraeny, S.Gz., M.Biomed
Pengajar di Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MANFAAT YOGURT UNTUK SI KECIL

26 FEBRUARI 2022

MANFAAT YOGURT UNTUK SI KECIL

Yogurt sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu dan sering disajikan sebagai snack atau makanan penutup. Sebenarnya apa itu yogurt? Yogurt adalah produk susu fermentasi yang dibuat dengan menambahkan bakteri hidup ke dalam susu. Bakteri yang ada di dalam yogurt adalah bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan. Adakah manfaat yogurt untuk anak? Kapan Si Kecil boleh mengonsumsi yogurt?

Manfaat Yogurt

1. Sumber Nutrisi

  • Protein yang ada dalam yogurt dapat berupa protein whey atau kasein, di mana keduanya samasama bernutrisi, kaya akan asam amino esensial, dan mudah dicerna
  • Yogurt juga mengandung lemak. Berbeda dengan orang dewasa, Si Kecil masih membutuhkan banyak lemak dari produk susu. Lemak susu sangat unik karena mengandung hampir 400 jenis asam lemak berbeda.
  • Beberapa yogurt juga difortikasi docosahexanoic acid atau DHA untuk nutrisi otak
  • Karbohidrat dalam yogurt utamanya berupa laktosa. Kandungan laktosa dalam yogurt lebih rendah dibandingkan susu karena fermentasi bakteri memecah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa
  • Selain kaya makronutrien, yogurt juga merupakan sumber vitamin dan mineral, seperti vitamin B12, kalsium, fosfat, dan riboflavin

2. Menjaga kesehatan usus

Yogurt mengandung probiotik atau bakteri baik yang bermanfaat kesehatan. Probiotik utama dalam yogurt adalah Lactobacillus dan Bifidobacteriae. Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri normal di usus, serta melindungi Si Kecil dari diare dan konstipasi. Probiotik juga berperan dalam mengatasi intoleransi laktosa dengan membantu proses pencernaan laktosa.

3. Menjaga kesehatan tulang

Yogurt sebagai salah produk susu berpotensi menjaga kepadatan tulang karena kandungan kalsium dan protein yang tinggi. Anak yang sedang dalam proses pertumbuhan membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulangnya, maka yogurt yang kaya kalsium sangat bermanfaat untuk anak. Selain kalsium, yogurt juga mengandung vitamin B6, B12, riboflavin, kalium, dan magnesium yang mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan secara keseluruhan.

4. Mencegah berbagai penyakit akibat infeksi.

Yogurt dapat menghambat pertumbuhan kuman-kuman pathogen dalam lambung dan usus halus dan menjaga keseimbangan saluran cerna. Yogurt juga dapat membantu menurunkan jumlah kolesterol dalam serum darah serta menetralisir efek samping pemberian antibiotic.

Kapan si kecil boleh mengkonsumsi yogurt ?

Para dokter anak dan ahli gizi menyarankan orang tua mulai memperkenalkan yogurt kepada bayi saat berusia 7-8 bulan. Usia ini dianggap tepat karena bayi telah melewati masa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Selain itu organ pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas telah berkembang lebih baik dan siap untuk menerima MPASI seperti yogurt.

Pertimbangkan juga takaran saji yogurt yang sesuai untuk usia bayi saat ini. Takaran saji yogurt untuk bayi usia dari 8-12 bulan yang dianjurkan biasanya sebanyak ¼ atau ½ cangkir. Ketika buah hati anda memasuki usia 12-24 bulan, anda bisa memberikannya lebih dari ½ cangkir yogurt.

Selain mempertimbangkan kapan pemberiannya, Anda juga harus berhati-hati dengan jenis yogurt yang dibeli terutama bila bayi punya alergi susu sapi.

Tips memilih dan menyimpan yogurt

  • Pastikan yogurt yang anda beli dengan merek dan label yang menerangkan bahwa produk tersebut mengandung kultur aktif yang masih hidup
  • Pilih yogurt asli yang memang mengandung probiotik, yaitu bakteri baik yang bisa melancarkan pencernaan.
  • Pilihlah yogurt yang tidak mengandung pemanis dan pewarna tambahan yang tidak perlu bagi anak atau yang kandungan gula tambahannya paling sedikit.
  • Jika anak Anda masih di bawah 24 bulan, tidak dianjurkan untuk memberikan yogurt dengan label rendah lemak
  • Hindari mengkonsumsi yogurt yang sudah dibekukan. Karena terlalu sedikit bakteri yang masih berfungsi sehingga manfaatnya sudah sangat berkurang
  • Yogurt akan menjadi kental atau memadat jika disimpan dalam refrigerator. Yogurt yang disimpan dalam lemari es akan stabil atau tahan sampai satu minggu atau lebih

Cara mengolah yogurt untuk si kecil

Usai memilih dan membeli yogurt jenis apa pun sesuai kemampuan bayi, Anda bisa langsung memberikannya. Agar tidak cepat bosan, Anda juga bisa mengolah yogurt ke dalam berbagai menu MPASI di waktu makan utama maupun makan selingan (camilan).

Namun selain itu, berikut beberapa cara mudah mengolah yogurt untuk bayi:

  1. Mencampur yogurt dengan buah-buahan

Yogurt bisa dicampur dengan buah kesukaan si kecil yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang mampu dimakannya.

  1. Buat makanan lunak dari campuran buah

Anda juga bisa membuat makanan lunak dari campuran buah seperti mangga atau strawberry. Agar lebih mudah dimakan si kecil, coba hancurkan buah-buahan tersebut tapi tidak begitu halus baru dicampur dengan yogurt.

  1. Buat yogurt dengan sereal

Campuran semangkuk yogurt dengan sereal dapat menjadi pilihan menu sarapan untuk si kecil.

  1. Smoothie yogurt

Olahan minuman dengan campuran yogurt juga bisa Anda berikan untuk si kecil.

Anda bisa memblender satu atau beberapa jenis buah secara bersamaan. Setelah diblender, kemudian tambahkan yogurt plain ini dan jadilah smoothie.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arnarson, A. (2019). Yogurt 101: Nutrition Facts and Health Benefits. Diakses 21 Januari 2022, dari healhline.com: https://www.healthline.com/nutrition/foods/yogurt#benefits

  2. Savitri, A. (2018). Buku Pintar 365 Hari MPASI Terlengkap. Yogyakarta: IDESEGAR.

  3. Setiaputri, K. A. (2021). Sebelum Memberikan Yogurt untuk Bayi, ini Panduan yang Perlu Dipahami. Diakses 21 Januari 2022, dari hellosehat.com: https://hellosehat.com/parenting/bayi/gizi-bayi/yoghurt-untuk-bayi/

  4. Yulianti, L. D., & Krisnaningsih, A. T. (2017). Susu Fermentasi Yogurt. Malang: Media Nusa Creative.

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

26 FEBRUARI 2022

MANFAAT YOGURT UNTUK SI KECIL

Yogurt sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu dan sering disajikan sebagai snack atau makanan penutup. Sebenarnya apa itu yogurt? Yogurt adalah produk susu fermentasi yang dibuat dengan menambahkan bakteri hidup ke dalam susu. Bakteri yang ada di dalam yogurt adalah bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan. Adakah manfaat yogurt untuk anak? Kapan Si Kecil boleh mengonsumsi yogurt?

Manfaat Yogurt

1. Sumber Nutrisi

  • Protein yang ada dalam yogurt dapat berupa protein whey atau kasein, di mana keduanya samasama bernutrisi, kaya akan asam amino esensial, dan mudah dicerna
  • Yogurt juga mengandung lemak. Berbeda dengan orang dewasa, Si Kecil masih membutuhkan banyak lemak dari produk susu. Lemak susu sangat unik karena mengandung hampir 400 jenis asam lemak berbeda.
  • Beberapa yogurt juga difortikasi docosahexanoic acid atau DHA untuk nutrisi otak
  • Karbohidrat dalam yogurt utamanya berupa laktosa. Kandungan laktosa dalam yogurt lebih rendah dibandingkan susu karena fermentasi bakteri memecah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa
  • Selain kaya makronutrien, yogurt juga merupakan sumber vitamin dan mineral, seperti vitamin B12, kalsium, fosfat, dan riboflavin

2. Menjaga kesehatan usus

Yogurt mengandung probiotik atau bakteri baik yang bermanfaat kesehatan. Probiotik utama dalam yogurt adalah Lactobacillus dan Bifidobacteriae. Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri normal di usus, serta melindungi Si Kecil dari diare dan konstipasi. Probiotik juga berperan dalam mengatasi intoleransi laktosa dengan membantu proses pencernaan laktosa.

3. Menjaga kesehatan tulang

Yogurt sebagai salah produk susu berpotensi menjaga kepadatan tulang karena kandungan kalsium dan protein yang tinggi. Anak yang sedang dalam proses pertumbuhan membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulangnya, maka yogurt yang kaya kalsium sangat bermanfaat untuk anak. Selain kalsium, yogurt juga mengandung vitamin B6, B12, riboflavin, kalium, dan magnesium yang mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan secara keseluruhan.

4. Mencegah berbagai penyakit akibat infeksi.

Yogurt dapat menghambat pertumbuhan kuman-kuman pathogen dalam lambung dan usus halus dan menjaga keseimbangan saluran cerna. Yogurt juga dapat membantu menurunkan jumlah kolesterol dalam serum darah serta menetralisir efek samping pemberian antibiotic.

Kapan si kecil boleh mengkonsumsi yogurt ?

Para dokter anak dan ahli gizi menyarankan orang tua mulai memperkenalkan yogurt kepada bayi saat berusia 7-8 bulan. Usia ini dianggap tepat karena bayi telah melewati masa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Selain itu organ pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas telah berkembang lebih baik dan siap untuk menerima MPASI seperti yogurt.

Pertimbangkan juga takaran saji yogurt yang sesuai untuk usia bayi saat ini. Takaran saji yogurt untuk bayi usia dari 8-12 bulan yang dianjurkan biasanya sebanyak ¼ atau ½ cangkir. Ketika buah hati anda memasuki usia 12-24 bulan, anda bisa memberikannya lebih dari ½ cangkir yogurt.

Selain mempertimbangkan kapan pemberiannya, Anda juga harus berhati-hati dengan jenis yogurt yang dibeli terutama bila bayi punya alergi susu sapi.

Tips memilih dan menyimpan yogurt

  • Pastikan yogurt yang anda beli dengan merek dan label yang menerangkan bahwa produk tersebut mengandung kultur aktif yang masih hidup
  • Pilih yogurt asli yang memang mengandung probiotik, yaitu bakteri baik yang bisa melancarkan pencernaan.
  • Pilihlah yogurt yang tidak mengandung pemanis dan pewarna tambahan yang tidak perlu bagi anak atau yang kandungan gula tambahannya paling sedikit.
  • Jika anak Anda masih di bawah 24 bulan, tidak dianjurkan untuk memberikan yogurt dengan label rendah lemak
  • Hindari mengkonsumsi yogurt yang sudah dibekukan. Karena terlalu sedikit bakteri yang masih berfungsi sehingga manfaatnya sudah sangat berkurang
  • Yogurt akan menjadi kental atau memadat jika disimpan dalam refrigerator. Yogurt yang disimpan dalam lemari es akan stabil atau tahan sampai satu minggu atau lebih

Cara mengolah yogurt untuk si kecil

Usai memilih dan membeli yogurt jenis apa pun sesuai kemampuan bayi, Anda bisa langsung memberikannya. Agar tidak cepat bosan, Anda juga bisa mengolah yogurt ke dalam berbagai menu MPASI di waktu makan utama maupun makan selingan (camilan).

Namun selain itu, berikut beberapa cara mudah mengolah yogurt untuk bayi:

  1. Mencampur yogurt dengan buah-buahan

Yogurt bisa dicampur dengan buah kesukaan si kecil yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang mampu dimakannya.

  1. Buat makanan lunak dari campuran buah

Anda juga bisa membuat makanan lunak dari campuran buah seperti mangga atau strawberry. Agar lebih mudah dimakan si kecil, coba hancurkan buah-buahan tersebut tapi tidak begitu halus baru dicampur dengan yogurt.

  1. Buat yogurt dengan sereal

Campuran semangkuk yogurt dengan sereal dapat menjadi pilihan menu sarapan untuk si kecil.

  1. Smoothie yogurt

Olahan minuman dengan campuran yogurt juga bisa Anda berikan untuk si kecil.

Anda bisa memblender satu atau beberapa jenis buah secara bersamaan. Setelah diblender, kemudian tambahkan yogurt plain ini dan jadilah smoothie.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arnarson, A. (2019). Yogurt 101: Nutrition Facts and Health Benefits. Diakses 21 Januari 2022, dari healhline.com: https://www.healthline.com/nutrition/foods/yogurt#benefits

  2. Savitri, A. (2018). Buku Pintar 365 Hari MPASI Terlengkap. Yogyakarta: IDESEGAR.

  3. Setiaputri, K. A. (2021). Sebelum Memberikan Yogurt untuk Bayi, ini Panduan yang Perlu Dipahami. Diakses 21 Januari 2022, dari hellosehat.com: https://hellosehat.com/parenting/bayi/gizi-bayi/yoghurt-untuk-bayi/

  4. Yulianti, L. D., & Krisnaningsih, A. T. (2017). Susu Fermentasi Yogurt. Malang: Media Nusa Creative.

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MENGAPA WANITA USIA SUBUR RENTAN MENDERITA ANEMIA?

10 FEBRUARI 2022

MENGAPA WANITA USIA SUBUR RENTAN MENDERITA ANEMIA?

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia terutama bagi kelompok Wanita Usia Subur (WUS). Anemia pada umumnya terjadi di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dan pada kelompok sosio-ekonomi rendah. Anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) dapat menimbulkan kelelahan, badan lemah, penurunan kemampuan atau produktivitas kerja. Bagi ibu hamil anemia dapat meningkatkan prevalensi kematian dan kesakitan ibu, dan bagi bayi dapat meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi, serta Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Anemia didefinisikan sebagai keadaan di mana level Hemoglobin (Hb) rendah karena kondisi patologis. Menurut WHO, kadar Hemoglobin (Hb) normal pada wanita adalah 12 g/ dL. Sedangkan kadar Hemoglobin (Hb) normal pada ibu hamil adalah 11 g/ dL. Defisiensi Zat Besi (Fe) merupakan salah satu penyebab anemia, tetapi bukanlah penyebab satu-satunya. Penyebab lainnya adalah infeksi kronik, khususnya malaria dan defisiensi asam folat. Biasanya defisiensi  Zat Besi (Fe) merupakan akibat dari rendahnya asupan Zat Besi (Fe) dan peningkatan kehilangan darah karena penyakit cacingan.

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurangnya asupan makanan sumber Zat Besi (Fe), meningkatnya kebutuhan Zat Besi (Fe) saat hamil dan menyusui (perubahan fisiologi), dan kehilangan banyak darah (menstruasi). Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal.

Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia, di antaranya:

1. Asupan Zat Besi (Fe) yang tidak memadai

Hanya sekitar 25% Wanita Usia Subur (WUS) memenuhi kebutuhan Zat Besi (Fe) sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), yaitu 26 mg/ hari. Kecukupan asupan Zat Besi (Fe) tidak hanya dipenuhi dari konsumsi makanan sumber Zat Besi (Fe), seperti daging sapi, hati, dan lain-lain. Tetapi dipengaruhi juga oleh variasi penyerapan Zat Besi (Fe). Variasi ini disebabkan oleh perubahan fisiologis tubuh (seperti hamil dan menyusui), tipe Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi, dan faktor yang mempercepat atau menghambat penyerapan Zat Besi (Fe).

Jenis Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi jauh lebih penting daripada jumlah Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi. Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Sedangkan Zat Besi (Fe) dari sumber nabati (Non Heme) tidak mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Penghambat utama penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi). Sedangkan yang mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Vitamin C dan protein.

2. Peningkatan kebutuhan fisiologi

Kebutuhan Zat Besi (Fe) meningkat selama hamil disebabkan oleh peningkatan volume darah untuk menyediakan Zat Besi (Fe) bagi janin dan plasenta. Selain itu untuk menggantikan kehilangan darah saat persalinan. Berdasarkan beberapa studi suplementasi Zat Besi (Fe) selama kehamilan dapat meningkatkan berat lahir bayi.

3. Kehilangan banyak darah

Pada wanita, kehilangan darah terjadi melalui menstruasi. Pada ibu hamil juga mengalami perdarahan saat dan setelah melahirkan. Akibat dari kehilangan darah ini tergantung pada jumlah darah yang keluar dan cadangan Zat Besi (Fe) dalam tubuh.

Rata-rata seorang wanita mengeluarkan darah 27 ml setiap siklus menstruasi. Banyaknya darah yang keluar menyebabkan anemia karena tidak mempunyai persediaan Zat Besi (Fe) yang cukup untuk dapat menggantikan hilangnya Zat Besi (Fe) saat menstruasi. Penggunaan alat Keluarga Berencana (KB) juga mempengaruhi keluar/ hilangnya darah. Alat Keluarga Berencana (KB) spiral/ IUD dapat meningkatkan pengeluaran darah 2 kali lipat saat menstruasi. Alat Keluarga Berencana (KB) pil dapat mengurangi kehilangan darah 1,5 kali lipat ketika menstruasi.

Perdarahan saat dan setelah melahirkan meningkatkan resiko anemia. Dalam persalinan normal, seorang ibu hamil akan mengeluarkan darah rata-rata 500 ml atau setara dengan 200 mg Zat Besi (Fe). Perdarahan akan meningkat jika proses melahirkan secara caesar/ operasi.

Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal (gastritis, tukak lambung/ ulcer, kanker kolon, dan polip pada kolon). Perdarahan juga disebabkan konsumsi obat-obatan adrenokortikosteroid.

Pencegahan Anemia

Anemia defisiensi Zat Besi (Fe) dapat dicegah dengan memelihara keseimbangan antara kebutuhan asupan Zat Besi (Fe) dan kehilangan Zat Besi (Fe). Jumlah Zat Besi (Fe) yang dibutuhkan ini bervariasi antara satu wanita dengan lainnya, tergantung pada riwayat reproduksi dan jumlah kehilangan darah selama menstruasi. Peningkatan konsumsi Zat Besi (Fe) dapat dilakukan dengan konsumsi Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) seperti daging, hati, telur, dan lain-lain serta konsumsi Vitamin C untuk mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) oleh tubuh. Selain itu, perlu dihindari konsumsi yang dapat menghambat Zat Besi (Fe) seperti Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi).

Jika kebutuhan Zat Besi (Fe) tidak cukup terpenuhi dari makanan, maka dapat ditambah dengan suplemen Zat Besi (Fe). Suplementasi Zat Besi (Fe) adalah salah satu strategi untuk meningkatkan asupan Zat Besi (Fe) yang berhasil. Tetapi jika individu tersebut mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor rendahnya tingkat kepatuhan tersebut, seperti individu sulit mengingat aturan minumnya, minimnya dana untuk membeli suplemen Zat Besi (Fe), dan efek samping yang tidak nyaman seperti mual.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014).  Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

10 FEBRUARI 2022

MENGAPA WANITA USIA SUBUR RENTAN MENDERITA ANEMIA?

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia terutama bagi kelompok Wanita Usia Subur (WUS). Anemia pada umumnya terjadi di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dan pada kelompok sosio-ekonomi rendah. Anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) dapat menimbulkan kelelahan, badan lemah, penurunan kemampuan atau produktivitas kerja. Bagi ibu hamil anemia dapat meningkatkan prevalensi kematian dan kesakitan ibu, dan bagi bayi dapat meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi, serta Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Anemia didefinisikan sebagai keadaan di mana level Hemoglobin (Hb) rendah karena kondisi patologis. Menurut WHO, kadar Hemoglobin (Hb) normal pada wanita adalah 12 g/ dL. Sedangkan kadar Hemoglobin (Hb) normal pada ibu hamil adalah 11 g/ dL. Defisiensi Zat Besi (Fe) merupakan salah satu penyebab anemia, tetapi bukanlah penyebab satu-satunya. Penyebab lainnya adalah infeksi kronik, khususnya malaria dan defisiensi asam folat. Biasanya defisiensi  Zat Besi (Fe) merupakan akibat dari rendahnya asupan Zat Besi (Fe) dan peningkatan kehilangan darah karena penyakit cacingan.

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurangnya asupan makanan sumber Zat Besi (Fe), meningkatnya kebutuhan Zat Besi (Fe) saat hamil dan menyusui (perubahan fisiologi), dan kehilangan banyak darah (menstruasi). Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal.

Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia, di antaranya:

1. Asupan Zat Besi (Fe) yang tidak memadai

Hanya sekitar 25% Wanita Usia Subur (WUS) memenuhi kebutuhan Zat Besi (Fe) sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), yaitu 26 mg/ hari. Kecukupan asupan Zat Besi (Fe) tidak hanya dipenuhi dari konsumsi makanan sumber Zat Besi (Fe), seperti daging sapi, hati, dan lain-lain. Tetapi dipengaruhi juga oleh variasi penyerapan Zat Besi (Fe). Variasi ini disebabkan oleh perubahan fisiologis tubuh (seperti hamil dan menyusui), tipe Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi, dan faktor yang mempercepat atau menghambat penyerapan Zat Besi (Fe).

Jenis Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi jauh lebih penting daripada jumlah Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi. Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Sedangkan Zat Besi (Fe) dari sumber nabati (Non Heme) tidak mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Penghambat utama penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi). Sedangkan yang mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Vitamin C dan protein.

2. Peningkatan kebutuhan fisiologi

Kebutuhan Zat Besi (Fe) meningkat selama hamil disebabkan oleh peningkatan volume darah untuk menyediakan Zat Besi (Fe) bagi janin dan plasenta. Selain itu untuk menggantikan kehilangan darah saat persalinan. Berdasarkan beberapa studi suplementasi Zat Besi (Fe) selama kehamilan dapat meningkatkan berat lahir bayi.

3. Kehilangan banyak darah

Pada wanita, kehilangan darah terjadi melalui menstruasi. Pada ibu hamil juga mengalami perdarahan saat dan setelah melahirkan. Akibat dari kehilangan darah ini tergantung pada jumlah darah yang keluar dan cadangan Zat Besi (Fe) dalam tubuh.

Rata-rata seorang wanita mengeluarkan darah 27 ml setiap siklus menstruasi. Banyaknya darah yang keluar menyebabkan anemia karena tidak mempunyai persediaan Zat Besi (Fe) yang cukup untuk dapat menggantikan hilangnya Zat Besi (Fe) saat menstruasi. Penggunaan alat Keluarga Berencana (KB) juga mempengaruhi keluar/ hilangnya darah. Alat Keluarga Berencana (KB) spiral/ IUD dapat meningkatkan pengeluaran darah 2 kali lipat saat menstruasi. Alat Keluarga Berencana (KB) pil dapat mengurangi kehilangan darah 1,5 kali lipat ketika menstruasi.

Perdarahan saat dan setelah melahirkan meningkatkan resiko anemia. Dalam persalinan normal, seorang ibu hamil akan mengeluarkan darah rata-rata 500 ml atau setara dengan 200 mg Zat Besi (Fe). Perdarahan akan meningkat jika proses melahirkan secara caesar/ operasi.

Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal (gastritis, tukak lambung/ ulcer, kanker kolon, dan polip pada kolon). Perdarahan juga disebabkan konsumsi obat-obatan adrenokortikosteroid.

Pencegahan Anemia

Anemia defisiensi Zat Besi (Fe) dapat dicegah dengan memelihara keseimbangan antara kebutuhan asupan Zat Besi (Fe) dan kehilangan Zat Besi (Fe). Jumlah Zat Besi (Fe) yang dibutuhkan ini bervariasi antara satu wanita dengan lainnya, tergantung pada riwayat reproduksi dan jumlah kehilangan darah selama menstruasi. Peningkatan konsumsi Zat Besi (Fe) dapat dilakukan dengan konsumsi Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) seperti daging, hati, telur, dan lain-lain serta konsumsi Vitamin C untuk mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) oleh tubuh. Selain itu, perlu dihindari konsumsi yang dapat menghambat Zat Besi (Fe) seperti Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi).

Jika kebutuhan Zat Besi (Fe) tidak cukup terpenuhi dari makanan, maka dapat ditambah dengan suplemen Zat Besi (Fe). Suplementasi Zat Besi (Fe) adalah salah satu strategi untuk meningkatkan asupan Zat Besi (Fe) yang berhasil. Tetapi jika individu tersebut mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor rendahnya tingkat kepatuhan tersebut, seperti individu sulit mengingat aturan minumnya, minimnya dana untuk membeli suplemen Zat Besi (Fe), dan efek samping yang tidak nyaman seperti mual.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014).  Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MENGAPA ANTIOKSIDAN PENTING BAGI KESEHATAN?

16 JANUARI 2022

MENGAPA ANTIOKSIDAN PENTING BAGI KESEHATAN?

Setiap harinya, tubuh terpapar oleh radikal bebas, baik dari lingkungan atau makanan dan minuman yang dikonsumsi. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang kehilangan pasangan elektronnya di permukaan kulit luarnya. Radikal bebas yang masuk dalam tubuh merusak sel-sel yang berakibat timbulnya Penyakit Jantung Koroner (PJK), kanker, katarak, dan penyakit degeneratif lainnya.

Radikal bebas dapat masuk dan terbentuk di dalam tubuh melalui beberapa hal, yaitu:

1. Melalui pernafasan

Dengan bernafas atau oksigen yang berlebihan saat olahraga terjadi reaksi yang kompleks dalam tubuh dan menghasilkan produk-produk sampingan berupa radikal bebas. Radikal bebas oksigen ini sangat cepat merusak jaringan-jaringan sel.

2. Kondisi lingkungan yang tidak sehat

Salah satu contohnya adalah asap dari kendaraan bermotor penyebab polusi yang sering kita jumpai.

3. Makanan berlemak

Konsumsi lemak yang berlebihan sangat berpotensi menghasilkan radikal bebas, khususnya lemak tidak jenuh ganda (contohnya mayonnaise) dan lemak hidrogenasi (contohnya margarin).

Untungnya, tubuh memiliki mekanisme pertahanan khusus yang dapat menangkal efek buruk radikal bebas, yakni antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai radikal bebas.

Terdapat tiga macam antioksidan, yaitu:

1. Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim.

Contohnya: superoksida dismutase, glutathione peroxidase, perxidasi, dan katalase

2. Antioksidan alami

a. Vitamin E (Tokoferol)

Terdapat delapan bentuk Vitamin E, yaitu empat Tokoferol (Alfa, Beta, Gamma, dan Delta) serta empat Tokotrienol. Dari delapan bentuk tersebut, yang berfungsi sebagai antioksidan adalah Tokoferol Alfa.

Vitamin E (Tokoferol) banyak dijumpai dalam tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, kacang-kacangan, biji gandum, dan sayuran hijau. Pada hewan seperti daging sapi, unggas, dan ikan jumlahnya agak terbatas. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin E adalah 4 – 15 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

b. Vitamin C (Asam Askorbat)

Vitamin C merupakan antioksidan yang tangguh. Vitamin C membantu menjaga kesehatan sel, meningkatkan penyerapan asupan zat besi, dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Bagi pria, antioksidan ini memperbaiki mutu sperma, dengan cara mencegah radikal bebas merusak lapisan pembungkus sperma.

Sumber Vitamin C terutama berasal dari buah dan sayur, sedangkan makanan hewani pada umumnya bukan merupakan sumber Vitamin C. Contoh sumber Vitamin C adalah jeruk, jambu biji, belimbing, nanas, sirsak, daun singkong, daun katuk, dan daun kelor. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin C adalah 40 – 90 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

c. Vitamin A (Karotenoid)

Sumber utama Vitamin A adalah pigmen karotenoid dari tumbuhan dan retinil ester dari hewan. Senyawa ini diubah menjadi retinol (Vitamin A) dalam tubuh manusia.

Kata “karoten” berasal dari bahasa Latin yang berarti wortel (carrot), yaitu pigmen warna kuning dan oranye pada buah dan sayur. Karotenoid yang banyak dikenal adalah Beta-Karoten, disebut juga Pro-Vitamin A.

Contoh sumber Vitamin A dari hewani adalah ikan (salmon, tuna, makarel), udang, keju, telur, dan susu. Contoh sumber Pro-Vitamin A adalah wortel, tomat, pisang raja, pepaya, dan semangka. Vitamin A merupakan zat gizi esensial (tidak dapat diproduksi oleh tubuh) untuk penglihatan, pertumbuhan, reproduksi, Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin A adalah 375 – 600 mcg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

d. Senyawa Fenolik

Senyawa fenolik adalah senyawa antioksidan yang berupa flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik. Fungsi senyawa fenolik adalah sebagai penangkap radikal bebas. Tumbuhan yang termasuk senyawa fenolik sangat bagus sebagai antioksidan karena memiliki aroma yang menyegarkan. Contoh tumbuhan yang mengandung senyawa fenolik adalah jahe, bawang putih, teh, dan kunyit.

e. Anthosianin

Anthosianin adalah sekelompok zat berwarna kemerahan yang terdapat pada tumbuhan. Anthosianin dapat digunakan sebagai pewarna alami (warna merah, oranye, ungu, dan biru) karena memiliki pigmen yang kuat. Jenis gula yang ditemui pada molekul anthosianin adalah glukos, rhaminosa, galaktosa, xylosa, dan arabinose.

Anthosianin memiliki kandungan selenium dan iodin, sebagai substansi antikanker dan sebagai antioksidan yang dapat melindungi dari penyakit jantung. Contoh tumbuhan yang mengandung anthosianin adalah ubi jalar ungu dan stroberi.

f. Isoflavon

Isoflavon dapat ditemukan pada kacang-kacangan terutama kedelai, yang memiliki sifat estrogenik, antikarsinogenik, antiosteoporoisitik, antioksidan, dan dapat memperbaiki sindroma menopause.

Pada olahan kedelai (tempe) memiliki kandungan senyawa isoflavon dengan aktivitas antioksidan dan anti hemolitik. Isoflavon pada tempe dapat mencegah aktivitas sel menjadi sel kanker, memperbaiki metabolisme hormon steroid, menurunkan kolesterol dan trigleserida, melindungi sel-sel hati dari paparan senyawa beracun, memperlancar sirkulasi darah, membuat jantung bekerja lebih santai (antiadrenalin), mencegah ketidakteraturan denyut jantung, antiperadangan, mencegah kerusakan permukaan dinding pembuluh darah jantung dan dapat sekaligus memperbaikinya, serta mengikis endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah jantung. Hasil olahan kedelai lain yang dapat menangkal kolesterol adalah minyak kedelai.

3. Antioksidan Sintetik (dibuat dari bahan-bahan kimia)

Contohnya yaitu Butylated Hydroxyanisole (BHA), BHT, TBHQ, PG, dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.

  2. Muchtadi, T., Sugiyono., Ayustaningwarno, F. (2010). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

16 JANUARI 2022

MENGAPA ANTIOKSIDAN PENTING BAGI KESEHATAN?

Setiap harinya, tubuh terpapar oleh radikal bebas, baik dari lingkungan atau makanan dan minuman yang dikonsumsi. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang kehilangan pasangan elektronnya di permukaan kulit luarnya. Radikal bebas yang masuk dalam tubuh merusak sel-sel yang berakibat timbulnya Penyakit Jantung Koroner (PJK), kanker, katarak, dan penyakit degeneratif lainnya.

Radikal bebas dapat masuk dan terbentuk di dalam tubuh melalui beberapa hal, yaitu:

1. Melalui pernafasan

Dengan bernafas atau oksigen yang berlebihan saat olahraga terjadi reaksi yang kompleks dalam tubuh dan menghasilkan produk-produk sampingan berupa radikal bebas. Radikal bebas oksigen ini sangat cepat merusak jaringan-jaringan sel.

2. Kondisi lingkungan yang tidak sehat

Salah satu contohnya adalah asap dari kendaraan bermotor penyebab polusi yang sering kita jumpai.

3. Makanan berlemak

Konsumsi lemak yang berlebihan sangat berpotensi menghasilkan radikal bebas, khususnya lemak tidak jenuh ganda (contohnya mayonnaise) dan lemak hidrogenasi (contohnya margarin).

Untungnya, tubuh memiliki mekanisme pertahanan khusus yang dapat menangkal efek buruk radikal bebas, yakni antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai radikal bebas.

Terdapat tiga macam antioksidan, yaitu:

1. Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim.

Contohnya: superoksida dismutase, glutathione peroxidase, perxidasi, dan katalase

2. Antioksidan alami

a. Vitamin E (Tokoferol)

Terdapat delapan bentuk Vitamin E, yaitu empat Tokoferol (Alfa, Beta, Gamma, dan Delta) serta empat Tokotrienol. Dari delapan bentuk tersebut, yang berfungsi sebagai antioksidan adalah Tokoferol Alfa.

Vitamin E (Tokoferol) banyak dijumpai dalam tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, kacang-kacangan, biji gandum, dan sayuran hijau. Pada hewan seperti daging sapi, unggas, dan ikan jumlahnya agak terbatas. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin E adalah 4 – 15 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

b. Vitamin C (Asam Askorbat)

Vitamin C merupakan antioksidan yang tangguh. Vitamin C membantu menjaga kesehatan sel, meningkatkan penyerapan asupan zat besi, dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Bagi pria, antioksidan ini memperbaiki mutu sperma, dengan cara mencegah radikal bebas merusak lapisan pembungkus sperma.

Sumber Vitamin C terutama berasal dari buah dan sayur, sedangkan makanan hewani pada umumnya bukan merupakan sumber Vitamin C. Contoh sumber Vitamin C adalah jeruk, jambu biji, belimbing, nanas, sirsak, daun singkong, daun katuk, dan daun kelor. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin C adalah 40 – 90 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

c. Vitamin A (Karotenoid)

Sumber utama Vitamin A adalah pigmen karotenoid dari tumbuhan dan retinil ester dari hewan. Senyawa ini diubah menjadi retinol (Vitamin A) dalam tubuh manusia.

Kata “karoten” berasal dari bahasa Latin yang berarti wortel (carrot), yaitu pigmen warna kuning dan oranye pada buah dan sayur. Karotenoid yang banyak dikenal adalah Beta-Karoten, disebut juga Pro-Vitamin A.

Contoh sumber Vitamin A dari hewani adalah ikan (salmon, tuna, makarel), udang, keju, telur, dan susu. Contoh sumber Pro-Vitamin A adalah wortel, tomat, pisang raja, pepaya, dan semangka. Vitamin A merupakan zat gizi esensial (tidak dapat diproduksi oleh tubuh) untuk penglihatan, pertumbuhan, reproduksi, Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin A adalah 375 – 600 mcg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

d. Senyawa Fenolik

Senyawa fenolik adalah senyawa antioksidan yang berupa flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik. Fungsi senyawa fenolik adalah sebagai penangkap radikal bebas. Tumbuhan yang termasuk senyawa fenolik sangat bagus sebagai antioksidan karena memiliki aroma yang menyegarkan. Contoh tumbuhan yang mengandung senyawa fenolik adalah jahe, bawang putih, teh, dan kunyit.

e. Anthosianin

Anthosianin adalah sekelompok zat berwarna kemerahan yang terdapat pada tumbuhan. Anthosianin dapat digunakan sebagai pewarna alami (warna merah, oranye, ungu, dan biru) karena memiliki pigmen yang kuat. Jenis gula yang ditemui pada molekul anthosianin adalah glukos, rhaminosa, galaktosa, xylosa, dan arabinose.

Anthosianin memiliki kandungan selenium dan iodin, sebagai substansi antikanker dan sebagai antioksidan yang dapat melindungi dari penyakit jantung. Contoh tumbuhan yang mengandung anthosianin adalah ubi jalar ungu dan stroberi.

f. Isoflavon

Isoflavon dapat ditemukan pada kacang-kacangan terutama kedelai, yang memiliki sifat estrogenik, antikarsinogenik, antiosteoporoisitik, antioksidan, dan dapat memperbaiki sindroma menopause.

Pada olahan kedelai (tempe) memiliki kandungan senyawa isoflavon dengan aktivitas antioksidan dan anti hemolitik. Isoflavon pada tempe dapat mencegah aktivitas sel menjadi sel kanker, memperbaiki metabolisme hormon steroid, menurunkan kolesterol dan trigleserida, melindungi sel-sel hati dari paparan senyawa beracun, memperlancar sirkulasi darah, membuat jantung bekerja lebih santai (antiadrenalin), mencegah ketidakteraturan denyut jantung, antiperadangan, mencegah kerusakan permukaan dinding pembuluh darah jantung dan dapat sekaligus memperbaikinya, serta mengikis endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah jantung. Hasil olahan kedelai lain yang dapat menangkal kolesterol adalah minyak kedelai.

3. Antioksidan Sintetik (dibuat dari bahan-bahan kimia)

Contohnya yaitu Butylated Hydroxyanisole (BHA), BHT, TBHQ, PG, dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.

  2. Muchtadi, T., Sugiyono., Ayustaningwarno, F. (2010). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA