PERAN GIZI DALAM 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

12 MEI 2022

PERAN GIZI DALAM 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Periode emas adalah istilah untuk mendefinisikan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa awal kehidupan saat masih berada dalam kandungan hingga 2 tahun pertama kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan menjadi penting karena pada masa itu, kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak sangat cepat dan pesat sehingga akan berdampak terhadap kesehatan pada masa yang akan datang.

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Seribu hari pertama kehidupan mencakup masa dalam kandungan, masa pemberian ASI Eksklusif, dan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Apabila masa penting tersebut tidak diperhatikan secara benar, peluang mendapat gangguan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih besar bila dibandingkan dengan yang mendapatkan perhatian yang serius.

Alasan mengapa 1000 hari pertama kehidupan menjadi penting ialah pada masa itu pertumbuhan dan perkembangan anak berada dalam masa yang riskan. Pada saat itu, terutama dalam kandungan, organ-organ penting mulai terbentuk dan berkembang. Setelah itu, masa 2 tahun setelah kelahiran merupakan masa anak mulai beradaptasi dalam lingkunganya, berkembang dan mulai berfungsinya organ-organ, serta merupakan puncak perkembangan fungsi kognisi anak.

Pertumbuhan dan perkembangan ini memerlukan asupan gizi dari ibu, baik yang dikonsumsi ibu maupun yang berasal dari mobilisasi simpanan ibu. Mereka yang mengalami kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, mempunyai 3 resiko:

  1. Resiko teradinya penyakit tidak menular/kronis.
  2. Bila otak yang terkena, ia akan mengalami hambatan pertumbuhan kognitif, sehingga kurang cerdas dan kompetitif.
  3. Gangguan pertumbuhan tinggi badan sehingga berisiko pendek/stunting.

Dengan meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan anak sejak dalam kandungan akan didapatkan generasi penerus yang lebih produktif sehingga dapat memajukan kualitas generasi muda.

Sembilan pesan inti 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu:

  1. Selama hamil, makan makanan beraneka ragam.
  2. Memeriksa kehamilan minimal 4x selama kehamilan.
  3. Minum tablet tambah darah.
  4. Bayi yang baru lahir Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
  5. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
  6. Timbang BB bayi secara rutin setiap bulan.
  7. Berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi.
  8. Lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.
  9. Berikan MP ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan  ASI.

Peran Gizi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, kebutuan nutrisi anak meningkat pesat untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang cepat. Pada periode ini ibu dan anak sangat riskan terkena malnutrisi dan infeksi.

Gizi memegang peranan penting dalam 1000 hari pertama kehidupan. Gizi kurang dan defisiensi zat gizi tertentu (misal: karbohidrat, protein, zat besi, viamin a dan yodium) dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat menyebabkan kematian. Gizi kurang dapat memberi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Begitu pula pada gizi lebih. Akbat gizi lebih dapat menuju ke sindrom metabolik pada masa yang akan datang. Keparahan akan terjadi jika perbaikan asupan gizi tidak dilakukan secara optimal.

Anak yang mendapat cukup gizi selama Periode Emas, termasuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) langsung setelah bayi dilahirkan, ASI Eksklusif sejak usia 0-6 bulan, imunisasi lengkap, dan gizi cukup dengan MPASI setelah usia 6 bulan, akan tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan cerdas.

Saat ini, Indonesia menggunakan pedoman gizi seimbang sebagai pedoman gizi yang terbaru. Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

10 pesan umum gizi seimbang:

  1. Syukuri dan nikmati anekaragam makanan
  2. Perbanyak makan sayuran dan cukup buah-buahan
  3. Biasakan mengkonsumsi lauk pauk mengandung protein tinggi
  4. Biasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok
  5. Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak
  6. Biasakan sarapan
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  9. Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir
  10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal

Selain itu, terdapat 4 pilar gizi simbang yag terdiri dari:

  1. PILAR 1 “mengonsumsi pangan beranekaragam”
  2. PILAR 2 “membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat”
  3. PILAR 3 “melakukan aktivitas fisik”
  4. PILAR 4 “mempertahankan dan memantau berat badan normal”

Apa saja yang perlu kita perhatikan agar gizi 1000 HPK dapat optimal?

Agar keadaan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan dapat optimal, kita perlu memperhatikan:

  1. Pada saat sebelum kehamilan. Pada saat calon ibu merencanakan kehamilan, ibu perlu memastikan keadaan gizi dan kesehatan optimal.
  2. Pada saat ibu mengandung. Selama dalam masa kehamilan, ibu penting untuk diperhatikan karena keadaan gizi pada saat ibu hamil sangat menentukan status kesehatan ibu dan proses pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya.
  3. Pada saat bayi berusia 0-6 bulan. Usia 0-6 bulan merupakan masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Untuk itu, bayi memerlukan gizi optimal. Satu-satunya makanan yang paling sempurna untuk bayi usia 0-6 adalah air susu ibu (ASI). Untuk itu bayi usia 0-6 bulan perlu diberikan ASI Eksklusif, atau ASI saja tanpa penambahan makanan atau minuman lain hingga bayi berusia 6 bulan.
  4. Pada saat anak berusia 6 bulan – 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan masa yang kritis karena anak mulai diperkenalkan beberapa Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Masa ini sangat menentukan pola makan anak pada masa yang akan datang. MP-ASI diberikan secara bertahap bentuk, frekuensi, jenis dan jumlah-nya dengan usia anak. Pada saat anak berusia 1-2 tahun, secara bertahap mulai diberikan makanan keluarga. ASI tetap diberikan hingga anak berusia 2 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Meihartati, Tuti, et al. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Penerbit Deepublish, 2018.
  2. Rahmawati, Widya and Wirawan, Nia Novita. 2016. Sekilas Gizi 1000 HPK. gizi.fk.ub.ac.id. [Online] September 2, 2016. [Cited: April 20, 2022.] http://gizi.fk.ub.ac.id/sekilas-gizi-1000-hpk/.
  3. Roseno, Citra. 2015. Pentingnya Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. klikdokter. [Online] September 3, 2015. [Cited: April 20, 2022.] https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2699886/pentingnya-gizi-pada-1000-hari-pertama-kehidupan.
  4. Sudargo, Toto, Aristasari, Tira and ‘Afifah, Aulia. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press, 2018.

 

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

12 MEI 2022

PERAN GIZI DALAM 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Periode emas adalah istilah untuk mendefinisikan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan masa awal kehidupan saat masih berada dalam kandungan hingga 2 tahun pertama kehidupan. Seribu Hari Pertama Kehidupan menjadi penting karena pada masa itu, kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak sangat cepat dan pesat sehingga akan berdampak terhadap kesehatan pada masa yang akan datang.

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan

Seribu hari pertama kehidupan mencakup masa dalam kandungan, masa pemberian ASI Eksklusif, dan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Apabila masa penting tersebut tidak diperhatikan secara benar, peluang mendapat gangguan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih besar bila dibandingkan dengan yang mendapatkan perhatian yang serius.

Alasan mengapa 1000 hari pertama kehidupan menjadi penting ialah pada masa itu pertumbuhan dan perkembangan anak berada dalam masa yang riskan. Pada saat itu, terutama dalam kandungan, organ-organ penting mulai terbentuk dan berkembang. Setelah itu, masa 2 tahun setelah kelahiran merupakan masa anak mulai beradaptasi dalam lingkunganya, berkembang dan mulai berfungsinya organ-organ, serta merupakan puncak perkembangan fungsi kognisi anak.

Pertumbuhan dan perkembangan ini memerlukan asupan gizi dari ibu, baik yang dikonsumsi ibu maupun yang berasal dari mobilisasi simpanan ibu. Mereka yang mengalami kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, mempunyai 3 resiko:

  1. Resiko teradinya penyakit tidak menular/kronis.
  2. Bila otak yang terkena, ia akan mengalami hambatan pertumbuhan kognitif, sehingga kurang cerdas dan kompetitif.
  3. Gangguan pertumbuhan tinggi badan sehingga berisiko pendek/stunting.

Dengan meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan anak sejak dalam kandungan akan didapatkan generasi penerus yang lebih produktif sehingga dapat memajukan kualitas generasi muda.

Sembilan pesan inti 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu:

  1. Selama hamil, makan makanan beraneka ragam.
  2. Memeriksa kehamilan minimal 4x selama kehamilan.
  3. Minum tablet tambah darah.
  4. Bayi yang baru lahir Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
  5. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan.
  6. Timbang BB bayi secara rutin setiap bulan.
  7. Berikan imunisasi dasar wajib bagi bayi.
  8. Lanjutkan pemberian ASI hingga berusia 2 tahun.
  9. Berikan MP ASI secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan  ASI.

Peran Gizi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan

Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, kebutuan nutrisi anak meningkat pesat untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang cepat. Pada periode ini ibu dan anak sangat riskan terkena malnutrisi dan infeksi.

Gizi memegang peranan penting dalam 1000 hari pertama kehidupan. Gizi kurang dan defisiensi zat gizi tertentu (misal: karbohidrat, protein, zat besi, viamin a dan yodium) dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan dapat menyebabkan kematian. Gizi kurang dapat memberi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Begitu pula pada gizi lebih. Akbat gizi lebih dapat menuju ke sindrom metabolik pada masa yang akan datang. Keparahan akan terjadi jika perbaikan asupan gizi tidak dilakukan secara optimal.

Anak yang mendapat cukup gizi selama Periode Emas, termasuk Inisiasi Menyusu Dini (IMD) langsung setelah bayi dilahirkan, ASI Eksklusif sejak usia 0-6 bulan, imunisasi lengkap, dan gizi cukup dengan MPASI setelah usia 6 bulan, akan tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat dan cerdas.

Saat ini, Indonesia menggunakan pedoman gizi seimbang sebagai pedoman gizi yang terbaru. Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

10 pesan umum gizi seimbang:

  1. Syukuri dan nikmati anekaragam makanan
  2. Perbanyak makan sayuran dan cukup buah-buahan
  3. Biasakan mengkonsumsi lauk pauk mengandung protein tinggi
  4. Biasakan mengkonsumsi anekaragam makanan pokok
  5. Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak
  6. Biasakan sarapan
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan
  9. Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir
  10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal

Selain itu, terdapat 4 pilar gizi simbang yag terdiri dari:

  1. PILAR 1 “mengonsumsi pangan beranekaragam”
  2. PILAR 2 “membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat”
  3. PILAR 3 “melakukan aktivitas fisik”
  4. PILAR 4 “mempertahankan dan memantau berat badan normal”

Apa saja yang perlu kita perhatikan agar gizi 1000 HPK dapat optimal?

Agar keadaan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan dapat optimal, kita perlu memperhatikan:

  1. Pada saat sebelum kehamilan. Pada saat calon ibu merencanakan kehamilan, ibu perlu memastikan keadaan gizi dan kesehatan optimal.
  2. Pada saat ibu mengandung. Selama dalam masa kehamilan, ibu penting untuk diperhatikan karena keadaan gizi pada saat ibu hamil sangat menentukan status kesehatan ibu dan proses pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya.
  3. Pada saat bayi berusia 0-6 bulan. Usia 0-6 bulan merupakan masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Untuk itu, bayi memerlukan gizi optimal. Satu-satunya makanan yang paling sempurna untuk bayi usia 0-6 adalah air susu ibu (ASI). Untuk itu bayi usia 0-6 bulan perlu diberikan ASI Eksklusif, atau ASI saja tanpa penambahan makanan atau minuman lain hingga bayi berusia 6 bulan.
  4. Pada saat anak berusia 6 bulan – 2 tahun. Usia 6-12 bulan merupakan masa yang kritis karena anak mulai diperkenalkan beberapa Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Masa ini sangat menentukan pola makan anak pada masa yang akan datang. MP-ASI diberikan secara bertahap bentuk, frekuensi, jenis dan jumlah-nya dengan usia anak. Pada saat anak berusia 1-2 tahun, secara bertahap mulai diberikan makanan keluarga. ASI tetap diberikan hingga anak berusia 2 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Meihartati, Tuti, et al. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Penerbit Deepublish, 2018.
  2. Rahmawati, Widya and Wirawan, Nia Novita. 2016. Sekilas Gizi 1000 HPK. gizi.fk.ub.ac.id. [Online] September 2, 2016. [Cited: April 20, 2022.] http://gizi.fk.ub.ac.id/sekilas-gizi-1000-hpk/.
  3. Roseno, Citra. 2015. Pentingnya Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. klikdokter. [Online] September 3, 2015. [Cited: April 20, 2022.] https://www.klikdokter.com/rubrik/read/2699886/pentingnya-gizi-pada-1000-hari-pertama-kehidupan.
  4. Sudargo, Toto, Aristasari, Tira and ‘Afifah, Aulia. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yogyakarta : Gadjahmada University Press, 2018.

 

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

KECUKUPAN GIZI BAGI IBU ITU PENTING

KECUKUPAN GIZI BAGI IBU ITU PENTING

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa status gizi ibu tidak hanya memberikan dampak terhadap status kesehatan dan resiko kematian dirinya, melainkan juga terhadap keberlangsungan hidup dan perkembangan janin yang dikandungnya. Dampak lebih jauh lagi yaitu terhadap pertumbuhan janin sampai usia dewasa. Dengan demikian, gizi ibu menentukan kualitas sumber daya manusia. Intervensi meningkatkan kesehatan dan gizi wanita usia subur dinilai cukup strategis untuk memutus siklus kurang gizi antar generasi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa intervensi perbaikan status gizi ibu sebelum kehamilan lebih efektif daripada suplementasi selama kehamilan.

Berikut ini beberapa kasus kurang gizi pada ibu, di antaranya:

  1. Kurang Energi Kronis (KEK)

Kurang Energi Kronis (KEK) terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi untuk memenuhi kebutuhan dengan pengeluaran energi. Penyebab Kurang Energi Kronis (KEK) di antaranya adalah kurangnya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga (ekonomi) serta beban kerja ibu yang berat tidak sebanding dengan asupan yang dikonsumsi.

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi (Fe)

Anemia disebabkan rendahnya asupan zat besi (Fe). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) yang rendah, konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), adanya penyakit cacingan, serta kurang konsumsi protein dan Vitamin C.

  1. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

Penyebab Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) adalah kurangnya asupan yodium dan tingginya asupan makanan yang mengandung goitrogen. Kejadian tersebut sering ditemukan pada daerah endemis Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY).

  1. Kurang Vitamin A (KVA)

Kurang Vitamin A (KVA) dikaitkan dengan asupan makanan yang mengandung Vitamin A rendah, frekuensi penyakit infeksi tinggi, serta siklus reproduksi. Selain itu, kurangnya konsumsi protein juga berpengaruh karena diperlukan untuk mengikat Vitamin A di dalam tubuh. Kebutuhan Vitamin A meningkat pada kondisi infeksi, pertumbuhan pesat (bayi, balita, remaja), serta pada masa kehamilan.

Peningkatan status gizi pada remaja puteri dan wanita dewasa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Perbaikan perilaku reproduksi

Secara umum perbaikan perilaku reproduksi meliputi “pencegahan empat terlalu”, yaitu terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu dekat, dan terlalu tua.

  • Penundaan kehamilan pertama (hamil tidak di bawah usia 20 tahun) karena pertumbuhan linier dan rongga panggul baru selesai setelah seorang remaja puteri mencapai usia 20 tahun.
  • Menjaga jarak kelahiran (paling tidak 2 tahun) karena status gizi ibu belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan.
  • Mempunyai jumlah anak secukupnya (2 anak cukup).
  • Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi seksual.
  1. Pencegahan dan penanganan Kurang Energi Kronis (KEK)
  • Peningkatan variasi dan jumlah makanan
  • Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap. Oleh karena itu, diperlukan konsumsi makanan yang beragam. Selain itu, kebutuhan ibu hamil dan menyusui meningkat sehingga jumlah konsumsi makanan harus ditambah.
  • Mengurangi beban kerja pada wanita (terutama ibu hamil).
  1. Makronutrien

Makronutrien berupa karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat dan lemak berfungsi sebagai sumber energi. Sedangkan protein berfungsi sebagai zat pembangun  (perkembangan sel). Selain itu, kebutuhan makronutrien yang cukup dapat mencegah terjadinya Kurang Energi Kronis (KEK).

  1. Mikronutrien
  • Zat Besi (Fe)

Suplementasi zat besi (Fe) pada wanita usia subur dan ibu hamil memiliki dampak positif terhadap outcome kehamilan. Wanita usia subur dan ibu hamil perlu meningkatkan konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme), mengurangi konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), serta konsumsi protein dan Vitamin C. Melakukan pengobatan terhadap penyakit yang merupakan faktor penyebab anemia defisiensi zat besi (Fe), seperti cacingan.

  • Vitamin C

Vitamin C diperlukan untuk kesehatan gigi, gusi, tulang, serta membantu penyerapan zat besi.

  • Vitamin A

Suplementasi Vitamin A diperlukan karena konsumsi melalui makanan saja tidak cukup. Perlu diversifikasi makanan (konsumsi makanan yang beragam) untuk mendapatkan Vitamin A.

  • Yodium

Konsumsi garam beryodium adalah cara yang paling aman untuk mengatasi Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). Suplementasi dapat dilakukan jika memang dibutuhkan.

  • Kalsium

Kalsium berfungsi untuk menguatkan tulang dan gigi. Ibu hamil memerlukan kalsium untuk membangun tulang dan gigi janin. Selain itu, kalsium berperan dalam membantu tubuh Anda mengatur cairan, membantu kerja fungsi saraf dan kontraksi otot.

  • Vitamin D

Vitamin D untuk kesehatan tulang dan gigi, serta membantu penyerapan kalsium.

  1. Perilaku higienis

Perilaku higienis penting untuk mengurangi terjadinya penyakit infeksi yang merupakan faktor resiko kurang gizi. Berikut beberapa perilaku higienis, yaitu:

  • Cuci tangan pakai sabun.
  • Jamban yang sehat.
  • Menggunakan alas kaki.
  1. Kehamilan dan menyusui
  • Menambah asupan makanan saat hamil dan menyusui sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu perlu tambahan energi sebesar 180 – 400 kkal. Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu selama hamil dapat mencegah resiko stunting pada anak.
  • Konsumsi tablet tambah darah untuk wanita usia subur dan ibu hamil. Kebutuhan zat besi untuk wanita usia subur menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 26 mg. Sedangkan tambahan kebutuhan zat besi untuk ibu hamil menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 6 – 13 mg.
  • Mengurangi beban kerja ibu hamil.
  • Pemberian obat cacing berkala.
  • Konsumsi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) untuk ibu nifas. Selain untuk mempercepat pemulihan pasca melahirkan, Vitamin A dibutuhkan untuk bayi yang didapatkan dari ASI.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014). Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

  4. Nareza, Meva. 2022. “Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Gizi Ibu Hamil”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada  2 April 2022 pukul 09.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

KECUKUPAN GIZI BAGI IBU ITU PENTING

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa status gizi ibu tidak hanya memberikan dampak terhadap status kesehatan dan resiko kematian dirinya, melainkan juga terhadap keberlangsungan hidup dan perkembangan janin yang dikandungnya. Dampak lebih jauh lagi yaitu terhadap pertumbuhan janin sampai usia dewasa. Dengan demikian, gizi ibu menentukan kualitas sumber daya manusia. Intervensi meningkatkan kesehatan dan gizi wanita usia subur dinilai cukup strategis untuk memutus siklus kurang gizi antar generasi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa intervensi perbaikan status gizi ibu sebelum kehamilan lebih efektif daripada suplementasi selama kehamilan.

Berikut ini beberapa kasus kurang gizi pada ibu, di antaranya:

  1. Kurang Energi Kronis (KEK)

Kurang Energi Kronis (KEK) terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi untuk memenuhi kebutuhan dengan pengeluaran energi. Penyebab Kurang Energi Kronis (KEK) di antaranya adalah kurangnya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga (ekonomi) serta beban kerja ibu yang berat tidak sebanding dengan asupan yang dikonsumsi.

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi (Fe)

Anemia disebabkan rendahnya asupan zat besi (Fe). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) yang rendah, konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), adanya penyakit cacingan, serta kurang konsumsi protein dan Vitamin C.

  1. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

Penyebab Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) adalah kurangnya asupan yodium dan tingginya asupan makanan yang mengandung goitrogen. Kejadian tersebut sering ditemukan pada daerah endemis Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY).

  1. Kurang Vitamin A (KVA)

Kurang Vitamin A (KVA) dikaitkan dengan asupan makanan yang mengandung Vitamin A rendah, frekuensi penyakit infeksi tinggi, serta siklus reproduksi. Selain itu, kurangnya konsumsi protein juga berpengaruh karena diperlukan untuk mengikat Vitamin A di dalam tubuh. Kebutuhan Vitamin A meningkat pada kondisi infeksi, pertumbuhan pesat (bayi, balita, remaja), serta pada masa kehamilan.

Peningkatan status gizi pada remaja puteri dan wanita dewasa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Perbaikan perilaku reproduksi

Secara umum perbaikan perilaku reproduksi meliputi “pencegahan empat terlalu”, yaitu terlalu muda, terlalu banyak anak, terlalu dekat, dan terlalu tua.

  • Penundaan kehamilan pertama (hamil tidak di bawah usia 20 tahun) karena pertumbuhan linier dan rongga panggul baru selesai setelah seorang remaja puteri mencapai usia 20 tahun.
  • Menjaga jarak kelahiran (paling tidak 2 tahun) karena status gizi ibu belum pulih sebelum 2 tahun pasca persalinan.
  • Mempunyai jumlah anak secukupnya (2 anak cukup).
  • Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi seksual.
  1. Pencegahan dan penanganan Kurang Energi Kronis (KEK)
  • Peningkatan variasi dan jumlah makanan
  • Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi secara lengkap. Oleh karena itu, diperlukan konsumsi makanan yang beragam. Selain itu, kebutuhan ibu hamil dan menyusui meningkat sehingga jumlah konsumsi makanan harus ditambah.
  • Mengurangi beban kerja pada wanita (terutama ibu hamil).
  1. Makronutrien

Makronutrien berupa karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat dan lemak berfungsi sebagai sumber energi. Sedangkan protein berfungsi sebagai zat pembangun  (perkembangan sel). Selain itu, kebutuhan makronutrien yang cukup dapat mencegah terjadinya Kurang Energi Kronis (KEK).

  1. Mikronutrien
  • Zat Besi (Fe)

Suplementasi zat besi (Fe) pada wanita usia subur dan ibu hamil memiliki dampak positif terhadap outcome kehamilan. Wanita usia subur dan ibu hamil perlu meningkatkan konsumsi zat besi (Fe) dari sumber hewani (Heme), mengurangi konsumsi makanan yang mengandung fitat (serat) dan polifenol (teh dan kopi), serta konsumsi protein dan Vitamin C. Melakukan pengobatan terhadap penyakit yang merupakan faktor penyebab anemia defisiensi zat besi (Fe), seperti cacingan.

  • Vitamin C

Vitamin C diperlukan untuk kesehatan gigi, gusi, tulang, serta membantu penyerapan zat besi.

  • Vitamin A

Suplementasi Vitamin A diperlukan karena konsumsi melalui makanan saja tidak cukup. Perlu diversifikasi makanan (konsumsi makanan yang beragam) untuk mendapatkan Vitamin A.

  • Yodium

Konsumsi garam beryodium adalah cara yang paling aman untuk mengatasi Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). Suplementasi dapat dilakukan jika memang dibutuhkan.

  • Kalsium

Kalsium berfungsi untuk menguatkan tulang dan gigi. Ibu hamil memerlukan kalsium untuk membangun tulang dan gigi janin. Selain itu, kalsium berperan dalam membantu tubuh Anda mengatur cairan, membantu kerja fungsi saraf dan kontraksi otot.

  • Vitamin D

Vitamin D untuk kesehatan tulang dan gigi, serta membantu penyerapan kalsium.

  1. Perilaku higienis

Perilaku higienis penting untuk mengurangi terjadinya penyakit infeksi yang merupakan faktor resiko kurang gizi. Berikut beberapa perilaku higienis, yaitu:

  • Cuci tangan pakai sabun.
  • Jamban yang sehat.
  • Menggunakan alas kaki.
  1. Kehamilan dan menyusui
  • Menambah asupan makanan saat hamil dan menyusui sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu perlu tambahan energi sebesar 180 – 400 kkal. Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu selama hamil dapat mencegah resiko stunting pada anak.
  • Konsumsi tablet tambah darah untuk wanita usia subur dan ibu hamil. Kebutuhan zat besi untuk wanita usia subur menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 26 mg. Sedangkan tambahan kebutuhan zat besi untuk ibu hamil menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah 6 – 13 mg.
  • Mengurangi beban kerja ibu hamil.
  • Pemberian obat cacing berkala.
  • Konsumsi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) untuk ibu nifas. Selain untuk mempercepat pemulihan pasca melahirkan, Vitamin A dibutuhkan untuk bayi yang didapatkan dari ASI.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014). Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

  4. Nareza, Meva. 2022. “Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Gizi Ibu Hamil”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada  2 April 2022 pukul 09.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

KELOR, MANFAAT YANG LEBIH LUAS DARI DAUNNYA

KELOR, MANFAAT YANG LEBIH LUAS DARI DAUNNYA

Manfaat daun kelor bagi kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Tanaman ini memang sudah lama dikenal sebagai tanaman herbal yang baik untuk menjaga tekanan darah hingga mencegah kanker. Tak hanya itu, daun kelor ternyata memiliki beragam manfaat lainnya.

Tanaman kelor yang mempunyai nama dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera atau dalam bahasa inggris disebut drumstick plant ini merupakan tanaman tropis yang sejak lama telah dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional. Tanaman ini dapat dikenali dari bentuk daunnya yang berukuran kecil. Pohon kelor juga mudah tumbuh dan bisa hidup di tanah yang tidak terlalu subur.

Di Indonesia, khususnya di lingkungan perkampungan dan pedesaan, tanaman kelor hanya menjadi tanaman pagar hidup, batas tanah, ataupun penjalar tanaman lainnya. Meskipun demikian, manfaat dari daun dan karangan bunga serta buah muda sebagai sayuran sudah sejak lama digunakan.

Tanaman kelor sudah dikenal sejak lama sebagai tanaman berkhasiat mulai dari akar, batang, daun hingga bijinya. Seperti akarnya, dapat dicampur dengan kulit akar pepaya, kemudian digiling hingga hancur. Campuran tersebut banyak digunakan sebagai obat luar (balur) penyakir beri-beri dan sebangsanya. Daunnya apabila ditambah dengan kapur sirih, juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan. Daun kelor juga dapat diolah menjadi jamu, teh herbal, hingga suplemen. Tak sedikit pula orang yang menggunakan daun kelor sebagai bahan masakan. Dalam pengobatan tradisional, daun kelor dipercaya berkhasiat untuk mengobati diabetes, nyeri sendi, infeksi bakteri, hingga kanker.

Kandungan Nutrisi Daun Kelor

Kelor merupakan tanaman yang sering disebut “The Miracle Tree”, atau tanaman ajaib karena memiliki potensi untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan gizi, serta mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Daun kelor dapat digunakan sebagai agen antioksidan dan antimikroba alami yang dapat diaplikasikan dalam farmasi dan makanan.

Daun kelor memiliki kadar vitamin A dan C yang cukup tinggi. Selain itu, daun kelor juga dikenal kaya serat, kalsium, zat besi, selenium, zinc, dan juga sumber fosfor yang baik. Buah mudanya berkadar air tinggi dan kaya protein. Komposisi asam lemaknya meliputi asam oleat, asam linoleat, asam eiokosanoat, asam palmitat, asam stearat, asam arakhidat dan lainnya.

Di dalam sekitar 2 gram daun kelor, terkandung 14 kalori dan beragam nutrisi berikut ini:

  • 2 gram protein
  • 1,8–2 gram karbohidrat
  • 0,8 miligram zat besi
  • 8,8 miligram magnesium
  • 70 miligram kalium
  • 38–40 miligram kalsium
  • 11 miligram vitamin C
  • 600 IU vitamin A
  • 8,5 mikrogram folat

Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan

Telah disebutkan sebelumnya bahwa daun kelor dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang baik untuk kesehatan. Berikut ini adalah beragam manfaat daun kelor yang dapat diperoleh:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu menangkal radikal bebas

Berdasarkan penelitian, ekstrak daun kelor diketahui dapat melindungi tubuh dari berbagai jenis kuman, seperti Salmonella typhi penyebab tifus, Escherichia coli penyebab diare, dan Staphylococcus aureus penyebab infeksi kulit. Daun kelor juga diketahui dapat melawan virus, terutama jenis virus herpes simplex (HSV).

2. Menurunkan kadar gula darah

Daun kelor dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah sekaligus meningkatkan efektivitas kerja dari hormon insulin. Manfaat ini baik untuk mencegah diabetes dan terjadinya resistensi insulin. Akan tetapi, manfaat daun kelor sebagai pengobatan diabetes pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut.

Mengurangi peradangan atau inflamasi dalam tubuh

Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera. Namun, Anda bisa mengonsumsi daun kelor untuk meredakan peradangan yang dialami. Ekstrak daun kelor dipercaya mengandung zat yang dapat mengurangi peradangan.

3. Memelihara fungsi dan kesehatan otak

Selain membantu memerangi radikal bebas, kandungan antioksidan yang ada di dalam daun kelor ternyata juga memiliki peran dalam menjaga fungsi dan kesehatan otak. Asupan antioksidan yang terpenuhi dapat membantu menurunkan resiko tubuh dari ancaman penyakit Parkinson dan Alzheimer.

4. Mengontrol tekanan darah

Selain antioksidan, daun kelor juga meiliki kandungan kalium. Kedua kandungan ini dipercaya sangat bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah sekaligus menjaga tekanan darah tetap stabil, sehingga risiko hipertensi dapat dicegah

5. Menurunkan kadar kolesterol

Kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Beberapa tanaman dipercaya efektif menurunkan kadar kolesterol, termasuk daun kelor.

6. Menghambat pertumbuhan sel kanker

Manfaat ini didapat karena kandungan antioksidan yang memang sangat efektif dalam mencegah terjadinya kerusakan sel pada tubuh sebagai dampak dari radikal bebas

Cara Mengolah Daun Kelor 

Agar manfaat daun kelor tetap terjaga, maka anda harus mengetahui cara untuk mengolahnya. Ada beberapa cara untuk mengolah daun kelor yang benar, seperti berikut ini: 

1. Direbus 

Cara ini merupakan cara yang paling umum dilakukan karena dengan cara ini seluruh bagian daun kelor bisa dimanfaatkan. Air rebusan bisa diminum dan daun yang telah direbus bisa digunakan sebagai lalap. 

2. Disayur 

Sayur daun kelor juga ternyata tidak hanya lezat namun juga kaya manfaat. Daun kelor bisa dibuat sayur bening dengan tambahan jagung manis dan beberapa bumbu yang akan membuat rasanya semakin kaya. 

3. Diolah Menjadi Teh 

Untuk mengolah daun kelor dengan cara seperti ini, anda harus memastikan daun kelor dalam keadaan kering. Setelah itu masukkan daun kelor ke cangkir dan seduh seperti anda membuat teh. Bisa juga ditambahkan gula atau madu untuk menambah cita rasa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adrian, K. (2020). 6 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan. Diakses 11 Maret 2022, dari alodokter.com: https://www.alodokter.com/kandungan-dan-manfaat-daun-kelor-bagi-kesehatan
  2. Affandi, N. N. (2019). Kelor Tanaman Ajaib Untuk Kehidupan Yang Lebih Sehat. Yogyakarta: Deepublish.

  3. Arnarson, A. (2018). 6 Science-Based Health Benefits of Moringa oleifera. Diakses 10 Maret 2022, dari Healthline.com: https://www.healthline.com/nutrition/6-benefits-of-moringa-oleifera

  4. Nurcahyati, E. (2015). Khasiat Dahsyat Daun Kelor. Jakarta: Jendela Sehat

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

KELOR, MANFAAT YANG LEBIH LUAS DARI DAUNNYA

Manfaat daun kelor bagi kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Tanaman ini memang sudah lama dikenal sebagai tanaman herbal yang baik untuk menjaga tekanan darah hingga mencegah kanker. Tak hanya itu, daun kelor ternyata memiliki beragam manfaat lainnya.

Tanaman kelor yang mempunyai nama dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera atau dalam bahasa inggris disebut drumstick plant ini merupakan tanaman tropis yang sejak lama telah dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional. Tanaman ini dapat dikenali dari bentuk daunnya yang berukuran kecil. Pohon kelor juga mudah tumbuh dan bisa hidup di tanah yang tidak terlalu subur.

Di Indonesia, khususnya di lingkungan perkampungan dan pedesaan, tanaman kelor hanya menjadi tanaman pagar hidup, batas tanah, ataupun penjalar tanaman lainnya. Meskipun demikian, manfaat dari daun dan karangan bunga serta buah muda sebagai sayuran sudah sejak lama digunakan.

Tanaman kelor sudah dikenal sejak lama sebagai tanaman berkhasiat mulai dari akar, batang, daun hingga bijinya. Seperti akarnya, dapat dicampur dengan kulit akar pepaya, kemudian digiling hingga hancur. Campuran tersebut banyak digunakan sebagai obat luar (balur) penyakir beri-beri dan sebangsanya. Daunnya apabila ditambah dengan kapur sirih, juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan. Daun kelor juga dapat diolah menjadi jamu, teh herbal, hingga suplemen. Tak sedikit pula orang yang menggunakan daun kelor sebagai bahan masakan. Dalam pengobatan tradisional, daun kelor dipercaya berkhasiat untuk mengobati diabetes, nyeri sendi, infeksi bakteri, hingga kanker.

Kandungan Nutrisi Daun Kelor

Kelor merupakan tanaman yang sering disebut “The Miracle Tree”, atau tanaman ajaib karena memiliki potensi untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan gizi, serta mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Daun kelor dapat digunakan sebagai agen antioksidan dan antimikroba alami yang dapat diaplikasikan dalam farmasi dan makanan.

Daun kelor memiliki kadar vitamin A dan C yang cukup tinggi. Selain itu, daun kelor juga dikenal kaya serat, kalsium, zat besi, selenium, zinc, dan juga sumber fosfor yang baik. Buah mudanya berkadar air tinggi dan kaya protein. Komposisi asam lemaknya meliputi asam oleat, asam linoleat, asam eiokosanoat, asam palmitat, asam stearat, asam arakhidat dan lainnya.

Di dalam sekitar 2 gram daun kelor, terkandung 14 kalori dan beragam nutrisi berikut ini:

  • 2 gram protein
  • 1,8–2 gram karbohidrat
  • 0,8 miligram zat besi
  • 8,8 miligram magnesium
  • 70 miligram kalium
  • 38–40 miligram kalsium
  • 11 miligram vitamin C
  • 600 IU vitamin A
  • 8,5 mikrogram folat

Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan

Telah disebutkan sebelumnya bahwa daun kelor dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang baik untuk kesehatan. Berikut ini adalah beragam manfaat daun kelor yang dapat diperoleh:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu menangkal radikal bebas

Berdasarkan penelitian, ekstrak daun kelor diketahui dapat melindungi tubuh dari berbagai jenis kuman, seperti Salmonella typhi penyebab tifus, Escherichia coli penyebab diare, dan Staphylococcus aureus penyebab infeksi kulit. Daun kelor juga diketahui dapat melawan virus, terutama jenis virus herpes simplex (HSV).

2. Menurunkan kadar gula darah

Daun kelor dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah sekaligus meningkatkan efektivitas kerja dari hormon insulin. Manfaat ini baik untuk mencegah diabetes dan terjadinya resistensi insulin. Akan tetapi, manfaat daun kelor sebagai pengobatan diabetes pada manusia masih perlu diteliti lebih lanjut.

Mengurangi peradangan atau inflamasi dalam tubuh

Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera. Namun, Anda bisa mengonsumsi daun kelor untuk meredakan peradangan yang dialami. Ekstrak daun kelor dipercaya mengandung zat yang dapat mengurangi peradangan.

3. Memelihara fungsi dan kesehatan otak

Selain membantu memerangi radikal bebas, kandungan antioksidan yang ada di dalam daun kelor ternyata juga memiliki peran dalam menjaga fungsi dan kesehatan otak. Asupan antioksidan yang terpenuhi dapat membantu menurunkan resiko tubuh dari ancaman penyakit Parkinson dan Alzheimer.

4. Mengontrol tekanan darah

Selain antioksidan, daun kelor juga meiliki kandungan kalium. Kedua kandungan ini dipercaya sangat bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah sekaligus menjaga tekanan darah tetap stabil, sehingga risiko hipertensi dapat dicegah

5. Menurunkan kadar kolesterol

Kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Beberapa tanaman dipercaya efektif menurunkan kadar kolesterol, termasuk daun kelor.

6. Menghambat pertumbuhan sel kanker

Manfaat ini didapat karena kandungan antioksidan yang memang sangat efektif dalam mencegah terjadinya kerusakan sel pada tubuh sebagai dampak dari radikal bebas

Cara Mengolah Daun Kelor 

Agar manfaat daun kelor tetap terjaga, maka anda harus mengetahui cara untuk mengolahnya. Ada beberapa cara untuk mengolah daun kelor yang benar, seperti berikut ini: 

1. Direbus 

Cara ini merupakan cara yang paling umum dilakukan karena dengan cara ini seluruh bagian daun kelor bisa dimanfaatkan. Air rebusan bisa diminum dan daun yang telah direbus bisa digunakan sebagai lalap. 

2. Disayur 

Sayur daun kelor juga ternyata tidak hanya lezat namun juga kaya manfaat. Daun kelor bisa dibuat sayur bening dengan tambahan jagung manis dan beberapa bumbu yang akan membuat rasanya semakin kaya. 

3. Diolah Menjadi Teh 

Untuk mengolah daun kelor dengan cara seperti ini, anda harus memastikan daun kelor dalam keadaan kering. Setelah itu masukkan daun kelor ke cangkir dan seduh seperti anda membuat teh. Bisa juga ditambahkan gula atau madu untuk menambah cita rasa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adrian, K. (2020). 6 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan. Diakses 11 Maret 2022, dari alodokter.com: https://www.alodokter.com/kandungan-dan-manfaat-daun-kelor-bagi-kesehatan
  2. Affandi, N. N. (2019). Kelor Tanaman Ajaib Untuk Kehidupan Yang Lebih Sehat. Yogyakarta: Deepublish.

  3. Arnarson, A. (2018). 6 Science-Based Health Benefits of Moringa oleifera. Diakses 10 Maret 2022, dari Healthline.com: https://www.healthline.com/nutrition/6-benefits-of-moringa-oleifera

  4. Nurcahyati, E. (2015). Khasiat Dahsyat Daun Kelor. Jakarta: Jendela Sehat

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

WASPADA BAHAYA OBESITAS

WASPADA BAHAYA OBESITAS

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) di tahun 2016, ada sekitar 650 juta penduduk usia dewasa yang mengalami obesitas. Sementara di tahun 2020, ada sekitar 39 juta anak usia di bawah 5 tahun yang menderita obesitas. Sedangkan data dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia di tahun 2018 menunjukkan bahwa 22 persen atau sekitar 625.000 orang dewasa di Indonesia menderita obesitas.

Obesitas menurut Kemenkes RI didefinisikan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/ m2. Resiko obesitas meningkat jika besar lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki. Sedangkan besar lingkar pinggang untuk perempuan adalah lebih dari 90 cm. Obesitas mempengaruhi hampir setiap sistem tubuh sehingga dapat meningkatkan terserang resiko penyakit degeneratif.

Beberapa penyebab obesitas di antaranya yaitu:

  1. Latar belakang genetik yang mendorong kenaikan berat badan lebih banyak daripada orang lain yang mendapatkan asupan makanan yang sama dan aktivitas fisik yang sama.
  2. Penurunan aktivitas fisik di bawah ambang batas individual yang diperlukan untuk penyeimbangan otomatis akan energi masuk dengan energi keluar.
  3. Asupan makanan tinggi energi dan lemak tanpa diimbangi olahraga.

Terdapat beberapa cara untuk mengendalikan masalah obesitas, yaitu:

  1. Menurunkan berat badan

         Cara ini merupakan salah satu solusi yang dapat dicapai dengan cara mengonsumsi asupan energi yang lebih sedikit daripada yang digunakan untuk metabolisme dan aktivitas fisik. Makan dengan volume sedikit belum tentu mempunyai kalori yang rendah. Kecil kemungkinan bagi penderita obesitas untuk menurunkan berat badan melalui aktivitas fisik. Maka mengurangi makan adalah cara yang terbaik.

           Beberapa penelitian menyatakan bahwa manfaat terbesar menurunkan berat badan adalah dengan kehilangan berat badan sebesar 5 – 10 kg. Penurunan ini belum cukup untuk dapat mencapai berat badan normal, namun dapat mengurangi resiko terserang Diabetes Mellitus hingga setengah kalinya. Penurunan berat badan tanpa manajemen berat badan (mempertahankan berat badan) akan meningkatkan resiko terserang penyakit gagal jantung.

  1. Penjagaan berat badan

        Mencapai keseimbangan energi yaitu asupan energi sama besar dengan energi yang digunakan dapat mencegah kenaikan kembali berat badan. Hal ini merupakan cara yang efektiif bagi penderita obesitas. Kebanyakan orang yang telah berhasil menurunkan berat badan masih kesulitan untuk mempertahankan berat badan. Diperlukan mengurangi asupan sebesar 100 – 200 kkal/ hari untuk mempertahankan berat badan. Bisa juga dengan meningkatkan aktifitas fisik sebesar 100 – 200 kkal (misalnya jalan kaki 30 – 40 menit). Perubahan perilaku perlu dipertahankan seumur hidup.

  1. Identifikasi orang dengan berat badan lebih (overweight) dan obesitas

         Digunakan dua pendekatan, yaitu:

  • Promosi kesehatan yang diarahkan ke populasi dengan tujuan mengingatkan masyarakat bahwa berat badan berlebih (overweight) dapat meningkatkan resiko kesehatan sehingga dapat mengambil tindakan untuk mencegah kenaikan berat badan. Overweight dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 25 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 80 cm untuk perempuan.
  • Mengidentifikasi yang memiliki resiko tinggi (obesitas). Dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 30 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk perempuan.
  1. Prioritas penanganan faktor resiko dalam kasus berat badan lebih (overweight) dan obesitas

       Berat badan lebih (overweight) dan obesitas meningkatkan resiko terserang penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus, gagal jantung, Hipertensi. Agar terhindar dari resiko penyakit degeneratif tersebut maka membutuhkan pengobatan prioritas bagi penderita overweight dan obesitas.

Ada beberapa gerakan untuk pencegahan obesitas, yaitu:

  1. Meningkatkan berjalan setiap hari dengan 2000 langkah

Dapat dipantau dengan menggunakan alat penghitung langkah, yang setara dengan berjalan sekitar 20 menit atau 1,6 km. Hal ini terbukti cukup efektif untuk mencegah kenaikan berat badan.

  1. Mengurangi asupan energi sebesar 100 kkal/ hari

Jumlah pengurangan energi tersebut cukup untuk mencegah kenaikan berat badan. Perubahan kecil tersebut cukup berarti.

  1. Bekerja dengan pengusaha dan pihak yang terkait untuk menuju lingkungan kerja yang sehat

Mencegah obesitas pada para pekerja dengan cara mengurangi 100 kkal/ hari dalam pengaturan katering untuk pekerja. Selain itu, diperlukan pendekatan melalui pendidikan/ penyuluhan.

Beberapa cara pengaturan makan yang dapat mencegah kenaikan berat badan yaitu:

  1. Mengontrol ukuran porsi sesuai standar (dikurangi 100 kkal/ hari).
  2. Makanan harus cukup menarik untuk makanan sehari-hari meskipun rendah kalori karena berlaku untuk seumur hidup.
  3. Mengurangi asupan lemak, kurang dari 30% kebutuhan kalori per hari.

Beberapa orang tertarik untuk menerapkan diet rendah karbohidrat tetapi tinggi protein dan tinggi lemak. Dalam waktu singkat dapat menurunkan berat badan. Namun dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar LDL yang beresiko meningkatkan terserang penyakit degeneratif seperti gagal jantung dan hipertensi. Selain itu, dapat meningkatkan kenaikan berat badan kembali.

Penderita obesitas umumnya mengalami keluhan berupa:

  1. Penumpukan lemak di tubuh, terutama di sekitar pinggang.
  2. Mudah berkeringat.
  3. Sering mendengkur.
  4. Sesak napas.
  5. Susah tidur.
  6. Mudah lelah.
  7. Bagian lipatan kulit lembap karena keringat sehingga menimbulkan iritasi.
  8. Nyeri di persendian atau punggung.
  9. Tidak percaya diri untuk bersosialisasi.

Sementara itu, gejala obesitas yang umum terjadi pada anak-anak sampai remaja antara lain:

  1. Tumpukan lemak di bagian payudara.
  2. Stretch mark di punggung dan pinggul.
  3. Kulit menebal dan menjadi lebih gelap (akantosis nigrikans)
  4. Sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.
  5. Gangguan tidur, misalnya sleep apnea.
  6. Tidak percaya diri
  7. Menstruasi dini pada anak perempuan..
  8. Pubertas terlambat pada anak laki-laki.
  9. Kelainan tulang, seperti kaki rata.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Lean, Michael E J. (2013). Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  2. Misnadiarly. (2017). Obesitas Sebagai Faktor Resiko Beberapa Penyakit. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

  3. Toto Sudargo, dkk. (2016). Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  4. Pittara. 2022. “Gejala, Penyebab, dan Mengobati Obesitas”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada 9 Maret 2022 pukul 19.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

WASPADA BAHAYA OBESITAS

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) di tahun 2016, ada sekitar 650 juta penduduk usia dewasa yang mengalami obesitas. Sementara di tahun 2020, ada sekitar 39 juta anak usia di bawah 5 tahun yang menderita obesitas. Sedangkan data dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia di tahun 2018 menunjukkan bahwa 22 persen atau sekitar 625.000 orang dewasa di Indonesia menderita obesitas.

Obesitas menurut Kemenkes RI didefinisikan memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/ m2. Resiko obesitas meningkat jika besar lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki. Sedangkan besar lingkar pinggang untuk perempuan adalah lebih dari 90 cm. Obesitas mempengaruhi hampir setiap sistem tubuh sehingga dapat meningkatkan terserang resiko penyakit degeneratif.

Beberapa penyebab obesitas di antaranya yaitu:

  1. Latar belakang genetik yang mendorong kenaikan berat badan lebih banyak daripada orang lain yang mendapatkan asupan makanan yang sama dan aktivitas fisik yang sama.
  2. Penurunan aktivitas fisik di bawah ambang batas individual yang diperlukan untuk penyeimbangan otomatis akan energi masuk dengan energi keluar.
  3. Asupan makanan tinggi energi dan lemak tanpa diimbangi olahraga.

Terdapat beberapa cara untuk mengendalikan masalah obesitas, yaitu:

  1. Menurunkan berat badan

         Cara ini merupakan salah satu solusi yang dapat dicapai dengan cara mengonsumsi asupan energi yang lebih sedikit daripada yang digunakan untuk metabolisme dan aktivitas fisik. Makan dengan volume sedikit belum tentu mempunyai kalori yang rendah. Kecil kemungkinan bagi penderita obesitas untuk menurunkan berat badan melalui aktivitas fisik. Maka mengurangi makan adalah cara yang terbaik.

           Beberapa penelitian menyatakan bahwa manfaat terbesar menurunkan berat badan adalah dengan kehilangan berat badan sebesar 5 – 10 kg. Penurunan ini belum cukup untuk dapat mencapai berat badan normal, namun dapat mengurangi resiko terserang Diabetes Mellitus hingga setengah kalinya. Penurunan berat badan tanpa manajemen berat badan (mempertahankan berat badan) akan meningkatkan resiko terserang penyakit gagal jantung.

  1. Penjagaan berat badan

        Mencapai keseimbangan energi yaitu asupan energi sama besar dengan energi yang digunakan dapat mencegah kenaikan kembali berat badan. Hal ini merupakan cara yang efektiif bagi penderita obesitas. Kebanyakan orang yang telah berhasil menurunkan berat badan masih kesulitan untuk mempertahankan berat badan. Diperlukan mengurangi asupan sebesar 100 – 200 kkal/ hari untuk mempertahankan berat badan. Bisa juga dengan meningkatkan aktifitas fisik sebesar 100 – 200 kkal (misalnya jalan kaki 30 – 40 menit). Perubahan perilaku perlu dipertahankan seumur hidup.

  1. Identifikasi orang dengan berat badan lebih (overweight) dan obesitas

         Digunakan dua pendekatan, yaitu:

  • Promosi kesehatan yang diarahkan ke populasi dengan tujuan mengingatkan masyarakat bahwa berat badan berlebih (overweight) dapat meningkatkan resiko kesehatan sehingga dapat mengambil tindakan untuk mencegah kenaikan berat badan. Overweight dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 25 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 80 cm untuk perempuan.
  • Mengidentifikasi yang memiliki resiko tinggi (obesitas). Dapat dipantau dari besar IMT lebih dari 30 kg/ m2, lingkar pinggang lebih dari 100 cm untuk laki-laki, dan lingkar pinggang lebih dari 90 cm untuk perempuan.
  1. Prioritas penanganan faktor resiko dalam kasus berat badan lebih (overweight) dan obesitas

       Berat badan lebih (overweight) dan obesitas meningkatkan resiko terserang penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus, gagal jantung, Hipertensi. Agar terhindar dari resiko penyakit degeneratif tersebut maka membutuhkan pengobatan prioritas bagi penderita overweight dan obesitas.

Ada beberapa gerakan untuk pencegahan obesitas, yaitu:

  1. Meningkatkan berjalan setiap hari dengan 2000 langkah

Dapat dipantau dengan menggunakan alat penghitung langkah, yang setara dengan berjalan sekitar 20 menit atau 1,6 km. Hal ini terbukti cukup efektif untuk mencegah kenaikan berat badan.

  1. Mengurangi asupan energi sebesar 100 kkal/ hari

Jumlah pengurangan energi tersebut cukup untuk mencegah kenaikan berat badan. Perubahan kecil tersebut cukup berarti.

  1. Bekerja dengan pengusaha dan pihak yang terkait untuk menuju lingkungan kerja yang sehat

Mencegah obesitas pada para pekerja dengan cara mengurangi 100 kkal/ hari dalam pengaturan katering untuk pekerja. Selain itu, diperlukan pendekatan melalui pendidikan/ penyuluhan.

Beberapa cara pengaturan makan yang dapat mencegah kenaikan berat badan yaitu:

  1. Mengontrol ukuran porsi sesuai standar (dikurangi 100 kkal/ hari).
  2. Makanan harus cukup menarik untuk makanan sehari-hari meskipun rendah kalori karena berlaku untuk seumur hidup.
  3. Mengurangi asupan lemak, kurang dari 30% kebutuhan kalori per hari.

Beberapa orang tertarik untuk menerapkan diet rendah karbohidrat tetapi tinggi protein dan tinggi lemak. Dalam waktu singkat dapat menurunkan berat badan. Namun dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar LDL yang beresiko meningkatkan terserang penyakit degeneratif seperti gagal jantung dan hipertensi. Selain itu, dapat meningkatkan kenaikan berat badan kembali.

Penderita obesitas umumnya mengalami keluhan berupa:

  1. Penumpukan lemak di tubuh, terutama di sekitar pinggang.
  2. Mudah berkeringat.
  3. Sering mendengkur.
  4. Sesak napas.
  5. Susah tidur.
  6. Mudah lelah.
  7. Bagian lipatan kulit lembap karena keringat sehingga menimbulkan iritasi.
  8. Nyeri di persendian atau punggung.
  9. Tidak percaya diri untuk bersosialisasi.

Sementara itu, gejala obesitas yang umum terjadi pada anak-anak sampai remaja antara lain:

  1. Tumpukan lemak di bagian payudara.
  2. Stretch mark di punggung dan pinggul.
  3. Kulit menebal dan menjadi lebih gelap (akantosis nigrikans)
  4. Sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.
  5. Gangguan tidur, misalnya sleep apnea.
  6. Tidak percaya diri
  7. Menstruasi dini pada anak perempuan..
  8. Pubertas terlambat pada anak laki-laki.
  9. Kelainan tulang, seperti kaki rata.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Lean, Michael E J. (2013). Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  2. Misnadiarly. (2017). Obesitas Sebagai Faktor Resiko Beberapa Penyakit. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

  3. Toto Sudargo, dkk. (2016). Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  4. Pittara. 2022. “Gejala, Penyebab, dan Mengobati Obesitas”, https://www.alodokter.com/obesitas, diakses pada 9 Maret 2022 pukul 19.45.

Halimatus Sa'diyah, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

GIZI ATAU NUTRISI?

10 MARET 2022

GIZI ATAU NUTRISI?

Pada masa pandemi Covid-19, aspek gizi merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dalam usaha pencegahan dan penanganan masalah kesehatan yang terjadi. Terdapat peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga asupan makanan bergizi untuk mencapai status kesehatan optimal. Namun sayangnya, penggunaan istilah “gizi” tidak jarang sering dipertukarkan dengan “nutrisi”. Sebenarnya, manakah istilah yang tepat?

Menurut sejarah, nutrition berasal dari Bahasa Latin nutrire yang berarti untuk memberi makan. Pada 469 SM, Socrates menyampaikan “Thou shouldst eat to live; not live to eat” yang berarti seseorang makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan dan pada tahun 400 SM, Hippocrates menyatakan “Let thy food be thy medicine and thy medicine be thy food.” Dengan pernyataan tersebut, Hippocrates menunjukkan kesadarannya bahwa makanan dapat berpengaruh terhadap status kesehatan manusia. Sebelum tahun 1785, terdapat banyak publikasi ilmiah terkait pendapat bagaimana makanan digunakan di dalam tubuh manusia. Dr. James Lind yang merupakan seorang dokter dari Inggris mengobservasi pelaut yang mengalami scurvy pada tahun 1747. Berdasarkan hasil observasinya ditemukan bahwa pada pelaut tersebut hanya mengonsumsi makanan seperti roti dan daging merah. Lind melakukan percobaan dengan membagi pelaut menjadi 3 kelompok perlakuan yang mengonsumsi air garam, cuka, dan jeruk nipis. Pada kelompok yang diberi jeruk nipis, tidak terjadi scurvy. Meskipun vitamin C belum ditemukan sampai dengan tahun 1930an, percobaan tersebut mengubah cara berpikir dokter terkait pengaruh makanan dan kesehatan. Pada akhir abad ke-18, mulai dilakukan identifikasi unsur-unsur utama dan pengembangan metode analisis kimia secara kuantitatif. Penelitian di bidang gizi mulai berkembang, hampir semua vitamin telah teridentifikasi antara tahun 1913-1948 dan banyak penelitian terkait penyakit yang disebabkan karena kekurangan zat gizi tunggal dilakukan. Hal ini ikut mendorong perkembangan ekonomi yang melibatkan teknologi pertanian dan formulasi makanan yang bertujuan untuk menangani kekurangan zat gizi tersebut. Selanjutnya baru berkembang penelitian yang menghubungkan antara gizi dan penyakit tidak menular.

 

Di Indonesia, penggunaan istilah gizi memiliki sejarah tersendiri. Pada mulanya, sekitar awal tahun 1950an, istilah nutrition dan nutrition science diterjemahkan sebagai gizi dan ilmu gizi. Istilah tersebut telah digunakan pada pengukuhan guru besar Prof.Djuned Pusponegoro di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1952. Pada tahun 1958, Direktur Lembaga Bahasa Indonesia Fakultas Sastra UI, DR. Haryati Soebadio menawarkan dua istilah “Al Gizzai/Ghidza=Gizi” kata dari bahasa Arab dan “Herena” kata dari bahasa Sansekerta. Menurut beliau, pemilihan Bahasa Arab dan Bahasa Sansekerta disebabkan karena akar bahasa yang ada di Indonesia banyak yang berasal dari kedua bahasa tersebut. Prof.dr.Poorwo Soedarmo yang merupakan Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada saat itu memilih “Gizi” sebagai terjemahan resmi dari nutrition. Sejak tahun 1958 pula, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memasukkan Ilmu Gizi di dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) pertama. Prof.dr. Poorwo Soedarmo sendiri diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia pada tahun 1969 oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Setelah itu, penggunaan istilah gizi juga tertulis pada dokumen-dokumen resmi pemerintahan, yaitu pada Undang-Undang no 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Undang-Undang no 36 tahun 1999 tentang Kesehatan.

 

Meskipun jika diterjemahkan dari kamus bahasa asing, gizi dan nutrisi memiliki arti yang sama, namun yang perlu kita pahami adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan mengenal sejarah bangsanya. Pemilihan istilah gizi memiliki tempat tersendiri di dalam sejarah bangsa Indonesia. Memulai menggunakan istilah gizi alih-alih nutrisi merupakan langkah kecil dan sederhana yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta dan bangga dengan sejarah di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

  1. ISAGI (2017). Gizi Atau Nutrisi. [Halaman Web]. Diakses pada https://isagi.or.id/gizi-atau-nutrisi/

    Rokom (2012). Sejarah Asal Kata “GIZI” Sebagai Terjemahan dari Kata “NUTRITION”. [Halaman Web]. Diakses pada https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20120917/355526/sejarah-asal-kata-gizi-sebagai-terjemahan-dari-kata-nutrition/

  2. Kesuma N (2020). Mengenal Prof. Poorwo Soedarmo Bapak Gizi Indonesia Pencetus Slogan 4 Sehat 5 Sempurna. [Halaman Web]. Diakses pada https://www.industry.co.id/read/67166/mengenal-prof-poorwo-soedarmo-bapak-gizi-indonesia-pencetus-slogan-4-sehat-5-sempurna

  3. Mutiah D (2022). Sosok Prof Poorwo Soedarmo, Tokoh Penting dari Peringatan Hari Gizi Nasional. [Halaman web]. Diakses pada https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4869799/sosok-prof-poorwo-soedarmo-tokoh-penting-dari-peringatan-hari-gizi-nasional?fbclid=IwAR3thz8JC9qjKr7lTAqLU87nGzAhmzq-Lct_ZhP3zPvTrPPCBHfrUKcd4-Y

  4. S. O. WAIFE, Nutritional Etymology, The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 3, Issue 2, March-April 1955, Page 149, https://doi.org/10.1093/ajcn/3.2.149

  5. Soekirman (1999/2000).  “Arti kata Gizi dan Definisi Ilmu Gizi”, dalam buku Ilmu Gizi dan Aplikasinya, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, hal 5.

  6. Trüeb R.M (2020). Brief History of Human Nutrition. In: Nutrition for Healthy Hair, pp 3-15. Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-59920-1_2

  7. United States Public Health Service, American Dietetic Association (ADA) (No year). The History of Nutrition. (Website). Retrieved from https://www.naturalhealers.com/blog/nutrition-history/

Olivia Anggraeny, S.Gz., M.Biomed
Pengajar di Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Malang

10 MARET 2022

GIZI ATAU NUTRISI?

Pada masa pandemi Covid-19, aspek gizi merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dalam usaha pencegahan dan penanganan masalah kesehatan yang terjadi. Terdapat peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga asupan makanan bergizi untuk mencapai status kesehatan optimal. Namun sayangnya, penggunaan istilah “gizi” tidak jarang sering dipertukarkan dengan “nutrisi”. Sebenarnya, manakah istilah yang tepat?

Menurut sejarah, nutrition berasal dari Bahasa Latin nutrire yang berarti untuk memberi makan. Pada 469 SM, Socrates menyampaikan “Thou shouldst eat to live; not live to eat” yang berarti seseorang makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan dan pada tahun 400 SM, Hippocrates menyatakan “Let thy food be thy medicine and thy medicine be thy food.” Dengan pernyataan tersebut, Hippocrates menunjukkan kesadarannya bahwa makanan dapat berpengaruh terhadap status kesehatan manusia. Sebelum tahun 1785, terdapat banyak publikasi ilmiah terkait pendapat bagaimana makanan digunakan di dalam tubuh manusia. Dr. James Lind yang merupakan seorang dokter dari Inggris mengobservasi pelaut yang mengalami scurvy pada tahun 1747. Berdasarkan hasil observasinya ditemukan bahwa pada pelaut tersebut hanya mengonsumsi makanan seperti roti dan daging merah. Lind melakukan percobaan dengan membagi pelaut menjadi 3 kelompok perlakuan yang mengonsumsi air garam, cuka, dan jeruk nipis. Pada kelompok yang diberi jeruk nipis, tidak terjadi scurvy. Meskipun vitamin C belum ditemukan sampai dengan tahun 1930an, percobaan tersebut mengubah cara berpikir dokter terkait pengaruh makanan dan kesehatan. Pada akhir abad ke-18, mulai dilakukan identifikasi unsur-unsur utama dan pengembangan metode analisis kimia secara kuantitatif. Penelitian di bidang gizi mulai berkembang, hampir semua vitamin telah teridentifikasi antara tahun 1913-1948 dan banyak penelitian terkait penyakit yang disebabkan karena kekurangan zat gizi tunggal dilakukan. Hal ini ikut mendorong perkembangan ekonomi yang melibatkan teknologi pertanian dan formulasi makanan yang bertujuan untuk menangani kekurangan zat gizi tersebut. Selanjutnya baru berkembang penelitian yang menghubungkan antara gizi dan penyakit tidak menular.

 

Di Indonesia, penggunaan istilah gizi memiliki sejarah tersendiri. Pada mulanya, sekitar awal tahun 1950an, istilah nutrition dan nutrition science diterjemahkan sebagai gizi dan ilmu gizi. Istilah tersebut telah digunakan pada pengukuhan guru besar Prof.Djuned Pusponegoro di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1952. Pada tahun 1958, Direktur Lembaga Bahasa Indonesia Fakultas Sastra UI, DR. Haryati Soebadio menawarkan dua istilah “Al Gizzai/Ghidza=Gizi” kata dari bahasa Arab dan “Herena” kata dari bahasa Sansekerta. Menurut beliau, pemilihan Bahasa Arab dan Bahasa Sansekerta disebabkan karena akar bahasa yang ada di Indonesia banyak yang berasal dari kedua bahasa tersebut. Prof.dr.Poorwo Soedarmo yang merupakan Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada saat itu memilih “Gizi” sebagai terjemahan resmi dari nutrition. Sejak tahun 1958 pula, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memasukkan Ilmu Gizi di dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) pertama. Prof.dr. Poorwo Soedarmo sendiri diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia pada tahun 1969 oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Setelah itu, penggunaan istilah gizi juga tertulis pada dokumen-dokumen resmi pemerintahan, yaitu pada Undang-Undang no 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Undang-Undang no 36 tahun 1999 tentang Kesehatan.

 

Meskipun jika diterjemahkan dari kamus bahasa asing, gizi dan nutrisi memiliki arti yang sama, namun yang perlu kita pahami adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan dan mengenal sejarah bangsanya. Pemilihan istilah gizi memiliki tempat tersendiri di dalam sejarah bangsa Indonesia. Memulai menggunakan istilah gizi alih-alih nutrisi merupakan langkah kecil dan sederhana yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta dan bangga dengan sejarah di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

  1. ISAGI (2017). Gizi Atau Nutrisi. [Halaman Web]. Diakses pada https://isagi.or.id/gizi-atau-nutrisi/

    Rokom (2012). Sejarah Asal Kata “GIZI” Sebagai Terjemahan dari Kata “NUTRITION”. [Halaman Web]. Diakses pada https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/ baca/blog/20120917/355526/sejarah-asal-kata-gizi-sebagai-terjemahan-dari-kata-nutrition/

  2. Kesuma N (2020). Mengenal Prof. Poorwo Soedarmo Bapak Gizi Indonesia Pencetus Slogan 4 Sehat 5 Sempurna. [Halaman Web]. Diakses pada https://www.industry.co.id/read/ 67166/mengenal-prof-poorwo-soedarmo-bapak-gizi-indonesia-pencetus-slogan-4-sehat-5-sempurna

  3. Mutiah D (2022). Sosok Prof Poorwo Soedarmo, Tokoh Penting dari Peringatan Hari Gizi Nasional. [Halaman web]. Diakses pada https://www.liputan6.com/lifestyle/ read/4869799/sosok-prof-poorwo-soedarmo-tokoh-penting-dari-peringatan-hari-gizi-nasional?fbclid=IwAR3thz8JC9qjKr7lTAqLU87n GzAhmzq-Lct_ZhP3zPvTrPPCBHfrUKcd4-Y

  4. S. O. WAIFE, Nutritional Etymology, The American Journal of Clinical Nutrition, Volume 3, Issue 2, March-April 1955, Page 149, https://doi.org/10.1093/ajcn/3.2.149

  5. Soekirman (1999/2000).  “Arti kata Gizi dan Definisi Ilmu Gizi”, dalam buku Ilmu Gizi dan Aplikasinya, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, hal 5.

  6. Trüeb R.M (2020). Brief History of Human Nutrition. In: Nutrition for Healthy Hair, pp 3-15. Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/ 978-3-030-59920-1_2

  7. United States Public Health Service, American Dietetic Association (ADA) (No year). The History of Nutrition. (Website). Retrieved from https://www.naturalhealers.com/blog/ nutrition-history/ 

Olivia Anggraeny, S.Gz., M.Biomed
Pengajar di Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MANFAAT YOGURT UNTUK SI KECIL

26 FEBRUARI 2022

MANFAAT YOGURT UNTUK SI KECIL

Yogurt sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu dan sering disajikan sebagai snack atau makanan penutup. Sebenarnya apa itu yogurt? Yogurt adalah produk susu fermentasi yang dibuat dengan menambahkan bakteri hidup ke dalam susu. Bakteri yang ada di dalam yogurt adalah bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan. Adakah manfaat yogurt untuk anak? Kapan Si Kecil boleh mengonsumsi yogurt?

Manfaat Yogurt

1. Sumber Nutrisi

  • Protein yang ada dalam yogurt dapat berupa protein whey atau kasein, di mana keduanya samasama bernutrisi, kaya akan asam amino esensial, dan mudah dicerna
  • Yogurt juga mengandung lemak. Berbeda dengan orang dewasa, Si Kecil masih membutuhkan banyak lemak dari produk susu. Lemak susu sangat unik karena mengandung hampir 400 jenis asam lemak berbeda.
  • Beberapa yogurt juga difortikasi docosahexanoic acid atau DHA untuk nutrisi otak
  • Karbohidrat dalam yogurt utamanya berupa laktosa. Kandungan laktosa dalam yogurt lebih rendah dibandingkan susu karena fermentasi bakteri memecah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa
  • Selain kaya makronutrien, yogurt juga merupakan sumber vitamin dan mineral, seperti vitamin B12, kalsium, fosfat, dan riboflavin

2. Menjaga kesehatan usus

Yogurt mengandung probiotik atau bakteri baik yang bermanfaat kesehatan. Probiotik utama dalam yogurt adalah Lactobacillus dan Bifidobacteriae. Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri normal di usus, serta melindungi Si Kecil dari diare dan konstipasi. Probiotik juga berperan dalam mengatasi intoleransi laktosa dengan membantu proses pencernaan laktosa.

3. Menjaga kesehatan tulang

Yogurt sebagai salah produk susu berpotensi menjaga kepadatan tulang karena kandungan kalsium dan protein yang tinggi. Anak yang sedang dalam proses pertumbuhan membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulangnya, maka yogurt yang kaya kalsium sangat bermanfaat untuk anak. Selain kalsium, yogurt juga mengandung vitamin B6, B12, riboflavin, kalium, dan magnesium yang mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan secara keseluruhan.

4. Mencegah berbagai penyakit akibat infeksi.

Yogurt dapat menghambat pertumbuhan kuman-kuman pathogen dalam lambung dan usus halus dan menjaga keseimbangan saluran cerna. Yogurt juga dapat membantu menurunkan jumlah kolesterol dalam serum darah serta menetralisir efek samping pemberian antibiotic.

Kapan si kecil boleh mengkonsumsi yogurt ?

Para dokter anak dan ahli gizi menyarankan orang tua mulai memperkenalkan yogurt kepada bayi saat berusia 7-8 bulan. Usia ini dianggap tepat karena bayi telah melewati masa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Selain itu organ pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas telah berkembang lebih baik dan siap untuk menerima MPASI seperti yogurt.

Pertimbangkan juga takaran saji yogurt yang sesuai untuk usia bayi saat ini. Takaran saji yogurt untuk bayi usia dari 8-12 bulan yang dianjurkan biasanya sebanyak ¼ atau ½ cangkir. Ketika buah hati anda memasuki usia 12-24 bulan, anda bisa memberikannya lebih dari ½ cangkir yogurt.

Selain mempertimbangkan kapan pemberiannya, Anda juga harus berhati-hati dengan jenis yogurt yang dibeli terutama bila bayi punya alergi susu sapi.

Tips memilih dan menyimpan yogurt

  • Pastikan yogurt yang anda beli dengan merek dan label yang menerangkan bahwa produk tersebut mengandung kultur aktif yang masih hidup
  • Pilih yogurt asli yang memang mengandung probiotik, yaitu bakteri baik yang bisa melancarkan pencernaan.
  • Pilihlah yogurt yang tidak mengandung pemanis dan pewarna tambahan yang tidak perlu bagi anak atau yang kandungan gula tambahannya paling sedikit.
  • Jika anak Anda masih di bawah 24 bulan, tidak dianjurkan untuk memberikan yogurt dengan label rendah lemak
  • Hindari mengkonsumsi yogurt yang sudah dibekukan. Karena terlalu sedikit bakteri yang masih berfungsi sehingga manfaatnya sudah sangat berkurang
  • Yogurt akan menjadi kental atau memadat jika disimpan dalam refrigerator. Yogurt yang disimpan dalam lemari es akan stabil atau tahan sampai satu minggu atau lebih

Cara mengolah yogurt untuk si kecil

Usai memilih dan membeli yogurt jenis apa pun sesuai kemampuan bayi, Anda bisa langsung memberikannya. Agar tidak cepat bosan, Anda juga bisa mengolah yogurt ke dalam berbagai menu MPASI di waktu makan utama maupun makan selingan (camilan).

Namun selain itu, berikut beberapa cara mudah mengolah yogurt untuk bayi:

  1. Mencampur yogurt dengan buah-buahan

Yogurt bisa dicampur dengan buah kesukaan si kecil yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang mampu dimakannya.

  1. Buat makanan lunak dari campuran buah

Anda juga bisa membuat makanan lunak dari campuran buah seperti mangga atau strawberry. Agar lebih mudah dimakan si kecil, coba hancurkan buah-buahan tersebut tapi tidak begitu halus baru dicampur dengan yogurt.

  1. Buat yogurt dengan sereal

Campuran semangkuk yogurt dengan sereal dapat menjadi pilihan menu sarapan untuk si kecil.

  1. Smoothie yogurt

Olahan minuman dengan campuran yogurt juga bisa Anda berikan untuk si kecil.

Anda bisa memblender satu atau beberapa jenis buah secara bersamaan. Setelah diblender, kemudian tambahkan yogurt plain ini dan jadilah smoothie.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arnarson, A. (2019). Yogurt 101: Nutrition Facts and Health Benefits. Diakses 21 Januari 2022, dari healhline.com: https://www.healthline.com/nutrition/foods/yogurt#benefits

  2. Savitri, A. (2018). Buku Pintar 365 Hari MPASI Terlengkap. Yogyakarta: IDESEGAR.

  3. Setiaputri, K. A. (2021). Sebelum Memberikan Yogurt untuk Bayi, ini Panduan yang Perlu Dipahami. Diakses 21 Januari 2022, dari hellosehat.com: https://hellosehat.com/parenting/bayi/gizi-bayi/yoghurt-untuk-bayi/

  4. Yulianti, L. D., & Krisnaningsih, A. T. (2017). Susu Fermentasi Yogurt. Malang: Media Nusa Creative.

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

26 FEBRUARI 2022

MANFAAT YOGURT UNTUK SI KECIL

Yogurt sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu dan sering disajikan sebagai snack atau makanan penutup. Sebenarnya apa itu yogurt? Yogurt adalah produk susu fermentasi yang dibuat dengan menambahkan bakteri hidup ke dalam susu. Bakteri yang ada di dalam yogurt adalah bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan. Adakah manfaat yogurt untuk anak? Kapan Si Kecil boleh mengonsumsi yogurt?

Manfaat Yogurt

1. Sumber Nutrisi

  • Protein yang ada dalam yogurt dapat berupa protein whey atau kasein, di mana keduanya samasama bernutrisi, kaya akan asam amino esensial, dan mudah dicerna
  • Yogurt juga mengandung lemak. Berbeda dengan orang dewasa, Si Kecil masih membutuhkan banyak lemak dari produk susu. Lemak susu sangat unik karena mengandung hampir 400 jenis asam lemak berbeda.
  • Beberapa yogurt juga difortikasi docosahexanoic acid atau DHA untuk nutrisi otak
  • Karbohidrat dalam yogurt utamanya berupa laktosa. Kandungan laktosa dalam yogurt lebih rendah dibandingkan susu karena fermentasi bakteri memecah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa
  • Selain kaya makronutrien, yogurt juga merupakan sumber vitamin dan mineral, seperti vitamin B12, kalsium, fosfat, dan riboflavin

2. Menjaga kesehatan usus

Yogurt mengandung probiotik atau bakteri baik yang bermanfaat kesehatan. Probiotik utama dalam yogurt adalah Lactobacillus dan Bifidobacteriae. Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri normal di usus, serta melindungi Si Kecil dari diare dan konstipasi. Probiotik juga berperan dalam mengatasi intoleransi laktosa dengan membantu proses pencernaan laktosa.

3. Menjaga kesehatan tulang

Yogurt sebagai salah produk susu berpotensi menjaga kepadatan tulang karena kandungan kalsium dan protein yang tinggi. Anak yang sedang dalam proses pertumbuhan membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulangnya, maka yogurt yang kaya kalsium sangat bermanfaat untuk anak. Selain kalsium, yogurt juga mengandung vitamin B6, B12, riboflavin, kalium, dan magnesium yang mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan secara keseluruhan.

4. Mencegah berbagai penyakit akibat infeksi.

Yogurt dapat menghambat pertumbuhan kuman-kuman pathogen dalam lambung dan usus halus dan menjaga keseimbangan saluran cerna. Yogurt juga dapat membantu menurunkan jumlah kolesterol dalam serum darah serta menetralisir efek samping pemberian antibiotic.

Kapan si kecil boleh mengkonsumsi yogurt ?

Para dokter anak dan ahli gizi menyarankan orang tua mulai memperkenalkan yogurt kepada bayi saat berusia 7-8 bulan. Usia ini dianggap tepat karena bayi telah melewati masa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Selain itu organ pencernaan bayi usia 6 bulan ke atas telah berkembang lebih baik dan siap untuk menerima MPASI seperti yogurt.

Pertimbangkan juga takaran saji yogurt yang sesuai untuk usia bayi saat ini. Takaran saji yogurt untuk bayi usia dari 8-12 bulan yang dianjurkan biasanya sebanyak ¼ atau ½ cangkir. Ketika buah hati anda memasuki usia 12-24 bulan, anda bisa memberikannya lebih dari ½ cangkir yogurt.

Selain mempertimbangkan kapan pemberiannya, Anda juga harus berhati-hati dengan jenis yogurt yang dibeli terutama bila bayi punya alergi susu sapi.

Tips memilih dan menyimpan yogurt

  • Pastikan yogurt yang anda beli dengan merek dan label yang menerangkan bahwa produk tersebut mengandung kultur aktif yang masih hidup
  • Pilih yogurt asli yang memang mengandung probiotik, yaitu bakteri baik yang bisa melancarkan pencernaan.
  • Pilihlah yogurt yang tidak mengandung pemanis dan pewarna tambahan yang tidak perlu bagi anak atau yang kandungan gula tambahannya paling sedikit.
  • Jika anak Anda masih di bawah 24 bulan, tidak dianjurkan untuk memberikan yogurt dengan label rendah lemak
  • Hindari mengkonsumsi yogurt yang sudah dibekukan. Karena terlalu sedikit bakteri yang masih berfungsi sehingga manfaatnya sudah sangat berkurang
  • Yogurt akan menjadi kental atau memadat jika disimpan dalam refrigerator. Yogurt yang disimpan dalam lemari es akan stabil atau tahan sampai satu minggu atau lebih

Cara mengolah yogurt untuk si kecil

Usai memilih dan membeli yogurt jenis apa pun sesuai kemampuan bayi, Anda bisa langsung memberikannya. Agar tidak cepat bosan, Anda juga bisa mengolah yogurt ke dalam berbagai menu MPASI di waktu makan utama maupun makan selingan (camilan).

Namun selain itu, berikut beberapa cara mudah mengolah yogurt untuk bayi:

  1. Mencampur yogurt dengan buah-buahan

Yogurt bisa dicampur dengan buah kesukaan si kecil yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang mampu dimakannya.

  1. Buat makanan lunak dari campuran buah

Anda juga bisa membuat makanan lunak dari campuran buah seperti mangga atau strawberry. Agar lebih mudah dimakan si kecil, coba hancurkan buah-buahan tersebut tapi tidak begitu halus baru dicampur dengan yogurt.

  1. Buat yogurt dengan sereal

Campuran semangkuk yogurt dengan sereal dapat menjadi pilihan menu sarapan untuk si kecil.

  1. Smoothie yogurt

Olahan minuman dengan campuran yogurt juga bisa Anda berikan untuk si kecil.

Anda bisa memblender satu atau beberapa jenis buah secara bersamaan. Setelah diblender, kemudian tambahkan yogurt plain ini dan jadilah smoothie.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arnarson, A. (2019). Yogurt 101: Nutrition Facts and Health Benefits. Diakses 21 Januari 2022, dari healhline.com: https://www.healthline.com/nutrition/foods/yogurt#benefits

  2. Savitri, A. (2018). Buku Pintar 365 Hari MPASI Terlengkap. Yogyakarta: IDESEGAR.

  3. Setiaputri, K. A. (2021). Sebelum Memberikan Yogurt untuk Bayi, ini Panduan yang Perlu Dipahami. Diakses 21 Januari 2022, dari hellosehat.com: https://hellosehat.com/parenting/bayi/gizi-bayi/yoghurt-untuk-bayi/

  4. Yulianti, L. D., & Krisnaningsih, A. T. (2017). Susu Fermentasi Yogurt. Malang: Media Nusa Creative.

Nina Andini, A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MENGAPA WANITA USIA SUBUR RENTAN MENDERITA ANEMIA?

10 FEBRUARI 2022

MENGAPA WANITA USIA SUBUR RENTAN MENDERITA ANEMIA?

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia terutama bagi kelompok Wanita Usia Subur (WUS). Anemia pada umumnya terjadi di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dan pada kelompok sosio-ekonomi rendah. Anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) dapat menimbulkan kelelahan, badan lemah, penurunan kemampuan atau produktivitas kerja. Bagi ibu hamil anemia dapat meningkatkan prevalensi kematian dan kesakitan ibu, dan bagi bayi dapat meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi, serta Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Anemia didefinisikan sebagai keadaan di mana level Hemoglobin (Hb) rendah karena kondisi patologis. Menurut WHO, kadar Hemoglobin (Hb) normal pada wanita adalah 12 g/ dL. Sedangkan kadar Hemoglobin (Hb) normal pada ibu hamil adalah 11 g/ dL. Defisiensi Zat Besi (Fe) merupakan salah satu penyebab anemia, tetapi bukanlah penyebab satu-satunya. Penyebab lainnya adalah infeksi kronik, khususnya malaria dan defisiensi asam folat. Biasanya defisiensi  Zat Besi (Fe) merupakan akibat dari rendahnya asupan Zat Besi (Fe) dan peningkatan kehilangan darah karena penyakit cacingan.

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurangnya asupan makanan sumber Zat Besi (Fe), meningkatnya kebutuhan Zat Besi (Fe) saat hamil dan menyusui (perubahan fisiologi), dan kehilangan banyak darah (menstruasi). Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal.

Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia, di antaranya:

1. Asupan Zat Besi (Fe) yang tidak memadai

Hanya sekitar 25% Wanita Usia Subur (WUS) memenuhi kebutuhan Zat Besi (Fe) sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), yaitu 26 mg/ hari. Kecukupan asupan Zat Besi (Fe) tidak hanya dipenuhi dari konsumsi makanan sumber Zat Besi (Fe), seperti daging sapi, hati, dan lain-lain. Tetapi dipengaruhi juga oleh variasi penyerapan Zat Besi (Fe). Variasi ini disebabkan oleh perubahan fisiologis tubuh (seperti hamil dan menyusui), tipe Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi, dan faktor yang mempercepat atau menghambat penyerapan Zat Besi (Fe).

Jenis Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi jauh lebih penting daripada jumlah Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi. Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Sedangkan Zat Besi (Fe) dari sumber nabati (Non Heme) tidak mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Penghambat utama penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi). Sedangkan yang mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Vitamin C dan protein.

2. Peningkatan kebutuhan fisiologi

Kebutuhan Zat Besi (Fe) meningkat selama hamil disebabkan oleh peningkatan volume darah untuk menyediakan Zat Besi (Fe) bagi janin dan plasenta. Selain itu untuk menggantikan kehilangan darah saat persalinan. Berdasarkan beberapa studi suplementasi Zat Besi (Fe) selama kehamilan dapat meningkatkan berat lahir bayi.

3. Kehilangan banyak darah

Pada wanita, kehilangan darah terjadi melalui menstruasi. Pada ibu hamil juga mengalami perdarahan saat dan setelah melahirkan. Akibat dari kehilangan darah ini tergantung pada jumlah darah yang keluar dan cadangan Zat Besi (Fe) dalam tubuh.

Rata-rata seorang wanita mengeluarkan darah 27 ml setiap siklus menstruasi. Banyaknya darah yang keluar menyebabkan anemia karena tidak mempunyai persediaan Zat Besi (Fe) yang cukup untuk dapat menggantikan hilangnya Zat Besi (Fe) saat menstruasi. Penggunaan alat Keluarga Berencana (KB) juga mempengaruhi keluar/ hilangnya darah. Alat Keluarga Berencana (KB) spiral/ IUD dapat meningkatkan pengeluaran darah 2 kali lipat saat menstruasi. Alat Keluarga Berencana (KB) pil dapat mengurangi kehilangan darah 1,5 kali lipat ketika menstruasi.

Perdarahan saat dan setelah melahirkan meningkatkan resiko anemia. Dalam persalinan normal, seorang ibu hamil akan mengeluarkan darah rata-rata 500 ml atau setara dengan 200 mg Zat Besi (Fe). Perdarahan akan meningkat jika proses melahirkan secara caesar/ operasi.

Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal (gastritis, tukak lambung/ ulcer, kanker kolon, dan polip pada kolon). Perdarahan juga disebabkan konsumsi obat-obatan adrenokortikosteroid.

Pencegahan Anemia

Anemia defisiensi Zat Besi (Fe) dapat dicegah dengan memelihara keseimbangan antara kebutuhan asupan Zat Besi (Fe) dan kehilangan Zat Besi (Fe). Jumlah Zat Besi (Fe) yang dibutuhkan ini bervariasi antara satu wanita dengan lainnya, tergantung pada riwayat reproduksi dan jumlah kehilangan darah selama menstruasi. Peningkatan konsumsi Zat Besi (Fe) dapat dilakukan dengan konsumsi Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) seperti daging, hati, telur, dan lain-lain serta konsumsi Vitamin C untuk mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) oleh tubuh. Selain itu, perlu dihindari konsumsi yang dapat menghambat Zat Besi (Fe) seperti Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi).

Jika kebutuhan Zat Besi (Fe) tidak cukup terpenuhi dari makanan, maka dapat ditambah dengan suplemen Zat Besi (Fe). Suplementasi Zat Besi (Fe) adalah salah satu strategi untuk meningkatkan asupan Zat Besi (Fe) yang berhasil. Tetapi jika individu tersebut mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor rendahnya tingkat kepatuhan tersebut, seperti individu sulit mengingat aturan minumnya, minimnya dana untuk membeli suplemen Zat Besi (Fe), dan efek samping yang tidak nyaman seperti mual.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014).  Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

10 FEBRUARI 2022

MENGAPA WANITA USIA SUBUR RENTAN MENDERITA ANEMIA?

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia terutama bagi kelompok Wanita Usia Subur (WUS). Anemia pada umumnya terjadi di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dan pada kelompok sosio-ekonomi rendah. Anemia pada Wanita Usia Subur (WUS) dapat menimbulkan kelelahan, badan lemah, penurunan kemampuan atau produktivitas kerja. Bagi ibu hamil anemia dapat meningkatkan prevalensi kematian dan kesakitan ibu, dan bagi bayi dapat meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi, serta Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Anemia didefinisikan sebagai keadaan di mana level Hemoglobin (Hb) rendah karena kondisi patologis. Menurut WHO, kadar Hemoglobin (Hb) normal pada wanita adalah 12 g/ dL. Sedangkan kadar Hemoglobin (Hb) normal pada ibu hamil adalah 11 g/ dL. Defisiensi Zat Besi (Fe) merupakan salah satu penyebab anemia, tetapi bukanlah penyebab satu-satunya. Penyebab lainnya adalah infeksi kronik, khususnya malaria dan defisiensi asam folat. Biasanya defisiensi  Zat Besi (Fe) merupakan akibat dari rendahnya asupan Zat Besi (Fe) dan peningkatan kehilangan darah karena penyakit cacingan.

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurangnya asupan makanan sumber Zat Besi (Fe), meningkatnya kebutuhan Zat Besi (Fe) saat hamil dan menyusui (perubahan fisiologi), dan kehilangan banyak darah (menstruasi). Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal.

Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian anemia, di antaranya:

1. Asupan Zat Besi (Fe) yang tidak memadai

Hanya sekitar 25% Wanita Usia Subur (WUS) memenuhi kebutuhan Zat Besi (Fe) sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), yaitu 26 mg/ hari. Kecukupan asupan Zat Besi (Fe) tidak hanya dipenuhi dari konsumsi makanan sumber Zat Besi (Fe), seperti daging sapi, hati, dan lain-lain. Tetapi dipengaruhi juga oleh variasi penyerapan Zat Besi (Fe). Variasi ini disebabkan oleh perubahan fisiologis tubuh (seperti hamil dan menyusui), tipe Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi, dan faktor yang mempercepat atau menghambat penyerapan Zat Besi (Fe).

Jenis Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi jauh lebih penting daripada jumlah Zat Besi (Fe) yang dikonsumsi. Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Sedangkan Zat Besi (Fe) dari sumber nabati (Non Heme) tidak mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Penghambat utama penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi). Sedangkan yang mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) adalah Vitamin C dan protein.

2. Peningkatan kebutuhan fisiologi

Kebutuhan Zat Besi (Fe) meningkat selama hamil disebabkan oleh peningkatan volume darah untuk menyediakan Zat Besi (Fe) bagi janin dan plasenta. Selain itu untuk menggantikan kehilangan darah saat persalinan. Berdasarkan beberapa studi suplementasi Zat Besi (Fe) selama kehamilan dapat meningkatkan berat lahir bayi.

3. Kehilangan banyak darah

Pada wanita, kehilangan darah terjadi melalui menstruasi. Pada ibu hamil juga mengalami perdarahan saat dan setelah melahirkan. Akibat dari kehilangan darah ini tergantung pada jumlah darah yang keluar dan cadangan Zat Besi (Fe) dalam tubuh.

Rata-rata seorang wanita mengeluarkan darah 27 ml setiap siklus menstruasi. Banyaknya darah yang keluar menyebabkan anemia karena tidak mempunyai persediaan Zat Besi (Fe) yang cukup untuk dapat menggantikan hilangnya Zat Besi (Fe) saat menstruasi. Penggunaan alat Keluarga Berencana (KB) juga mempengaruhi keluar/ hilangnya darah. Alat Keluarga Berencana (KB) spiral/ IUD dapat meningkatkan pengeluaran darah 2 kali lipat saat menstruasi. Alat Keluarga Berencana (KB) pil dapat mengurangi kehilangan darah 1,5 kali lipat ketika menstruasi.

Perdarahan saat dan setelah melahirkan meningkatkan resiko anemia. Dalam persalinan normal, seorang ibu hamil akan mengeluarkan darah rata-rata 500 ml atau setara dengan 200 mg Zat Besi (Fe). Perdarahan akan meningkat jika proses melahirkan secara caesar/ operasi.

Pada wanita menopause, yang menjadi penyebab defisiensi Zat Besi (Fe) adalah perdarahan gastrointestinal (gastritis, tukak lambung/ ulcer, kanker kolon, dan polip pada kolon). Perdarahan juga disebabkan konsumsi obat-obatan adrenokortikosteroid.

Pencegahan Anemia

Anemia defisiensi Zat Besi (Fe) dapat dicegah dengan memelihara keseimbangan antara kebutuhan asupan Zat Besi (Fe) dan kehilangan Zat Besi (Fe). Jumlah Zat Besi (Fe) yang dibutuhkan ini bervariasi antara satu wanita dengan lainnya, tergantung pada riwayat reproduksi dan jumlah kehilangan darah selama menstruasi. Peningkatan konsumsi Zat Besi (Fe) dapat dilakukan dengan konsumsi Zat Besi (Fe) dari sumber hewani (Heme) seperti daging, hati, telur, dan lain-lain serta konsumsi Vitamin C untuk mempercepat penyerapan Zat Besi (Fe) oleh tubuh. Selain itu, perlu dihindari konsumsi yang dapat menghambat Zat Besi (Fe) seperti Fitat (biji-bijian, serealia, kacang-kacangan) dan Polifenol (teh dan kopi).

Jika kebutuhan Zat Besi (Fe) tidak cukup terpenuhi dari makanan, maka dapat ditambah dengan suplemen Zat Besi (Fe). Suplementasi Zat Besi (Fe) adalah salah satu strategi untuk meningkatkan asupan Zat Besi (Fe) yang berhasil. Tetapi jika individu tersebut mematuhi aturan konsumsinya. Banyak faktor rendahnya tingkat kepatuhan tersebut, seperti individu sulit mengingat aturan minumnya, minimnya dana untuk membeli suplemen Zat Besi (Fe), dan efek samping yang tidak nyaman seperti mual.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2014).  Gizi dan Kesehatan Masyarakat, cet. ke-9. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 341 hal.

  2. Patimah, S. (2014). Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MENGAPA ANTIOKSIDAN PENTING BAGI KESEHATAN?

16 JANUARI 2022

MENGAPA ANTIOKSIDAN PENTING BAGI KESEHATAN?

Setiap harinya, tubuh terpapar oleh radikal bebas, baik dari lingkungan atau makanan dan minuman yang dikonsumsi. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang kehilangan pasangan elektronnya di permukaan kulit luarnya. Radikal bebas yang masuk dalam tubuh merusak sel-sel yang berakibat timbulnya Penyakit Jantung Koroner (PJK), kanker, katarak, dan penyakit degeneratif lainnya.

Radikal bebas dapat masuk dan terbentuk di dalam tubuh melalui beberapa hal, yaitu:

1. Melalui pernafasan

Dengan bernafas atau oksigen yang berlebihan saat olahraga terjadi reaksi yang kompleks dalam tubuh dan menghasilkan produk-produk sampingan berupa radikal bebas. Radikal bebas oksigen ini sangat cepat merusak jaringan-jaringan sel.

2. Kondisi lingkungan yang tidak sehat

Salah satu contohnya adalah asap dari kendaraan bermotor penyebab polusi yang sering kita jumpai.

3. Makanan berlemak

Konsumsi lemak yang berlebihan sangat berpotensi menghasilkan radikal bebas, khususnya lemak tidak jenuh ganda (contohnya mayonnaise) dan lemak hidrogenasi (contohnya margarin).

Untungnya, tubuh memiliki mekanisme pertahanan khusus yang dapat menangkal efek buruk radikal bebas, yakni antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai radikal bebas.

Terdapat tiga macam antioksidan, yaitu:

1. Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim.

Contohnya: superoksida dismutase, glutathione peroxidase, perxidasi, dan katalase

2. Antioksidan alami

a. Vitamin E (Tokoferol)

Terdapat delapan bentuk Vitamin E, yaitu empat Tokoferol (Alfa, Beta, Gamma, dan Delta) serta empat Tokotrienol. Dari delapan bentuk tersebut, yang berfungsi sebagai antioksidan adalah Tokoferol Alfa.

Vitamin E (Tokoferol) banyak dijumpai dalam tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, kacang-kacangan, biji gandum, dan sayuran hijau. Pada hewan seperti daging sapi, unggas, dan ikan jumlahnya agak terbatas. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin E adalah 4 – 15 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

b. Vitamin C (Asam Askorbat)

Vitamin C merupakan antioksidan yang tangguh. Vitamin C membantu menjaga kesehatan sel, meningkatkan penyerapan asupan zat besi, dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Bagi pria, antioksidan ini memperbaiki mutu sperma, dengan cara mencegah radikal bebas merusak lapisan pembungkus sperma.

Sumber Vitamin C terutama berasal dari buah dan sayur, sedangkan makanan hewani pada umumnya bukan merupakan sumber Vitamin C. Contoh sumber Vitamin C adalah jeruk, jambu biji, belimbing, nanas, sirsak, daun singkong, daun katuk, dan daun kelor. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin C adalah 40 – 90 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

c. Vitamin A (Karotenoid)

Sumber utama Vitamin A adalah pigmen karotenoid dari tumbuhan dan retinil ester dari hewan. Senyawa ini diubah menjadi retinol (Vitamin A) dalam tubuh manusia.

Kata “karoten” berasal dari bahasa Latin yang berarti wortel (carrot), yaitu pigmen warna kuning dan oranye pada buah dan sayur. Karotenoid yang banyak dikenal adalah Beta-Karoten, disebut juga Pro-Vitamin A.

Contoh sumber Vitamin A dari hewani adalah ikan (salmon, tuna, makarel), udang, keju, telur, dan susu. Contoh sumber Pro-Vitamin A adalah wortel, tomat, pisang raja, pepaya, dan semangka. Vitamin A merupakan zat gizi esensial (tidak dapat diproduksi oleh tubuh) untuk penglihatan, pertumbuhan, reproduksi, Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin A adalah 375 – 600 mcg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

d. Senyawa Fenolik

Senyawa fenolik adalah senyawa antioksidan yang berupa flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik. Fungsi senyawa fenolik adalah sebagai penangkap radikal bebas. Tumbuhan yang termasuk senyawa fenolik sangat bagus sebagai antioksidan karena memiliki aroma yang menyegarkan. Contoh tumbuhan yang mengandung senyawa fenolik adalah jahe, bawang putih, teh, dan kunyit.

e. Anthosianin

Anthosianin adalah sekelompok zat berwarna kemerahan yang terdapat pada tumbuhan. Anthosianin dapat digunakan sebagai pewarna alami (warna merah, oranye, ungu, dan biru) karena memiliki pigmen yang kuat. Jenis gula yang ditemui pada molekul anthosianin adalah glukos, rhaminosa, galaktosa, xylosa, dan arabinose.

Anthosianin memiliki kandungan selenium dan iodin, sebagai substansi antikanker dan sebagai antioksidan yang dapat melindungi dari penyakit jantung. Contoh tumbuhan yang mengandung anthosianin adalah ubi jalar ungu dan stroberi.

f. Isoflavon

Isoflavon dapat ditemukan pada kacang-kacangan terutama kedelai, yang memiliki sifat estrogenik, antikarsinogenik, antiosteoporoisitik, antioksidan, dan dapat memperbaiki sindroma menopause.

Pada olahan kedelai (tempe) memiliki kandungan senyawa isoflavon dengan aktivitas antioksidan dan anti hemolitik. Isoflavon pada tempe dapat mencegah aktivitas sel menjadi sel kanker, memperbaiki metabolisme hormon steroid, menurunkan kolesterol dan trigleserida, melindungi sel-sel hati dari paparan senyawa beracun, memperlancar sirkulasi darah, membuat jantung bekerja lebih santai (antiadrenalin), mencegah ketidakteraturan denyut jantung, antiperadangan, mencegah kerusakan permukaan dinding pembuluh darah jantung dan dapat sekaligus memperbaikinya, serta mengikis endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah jantung. Hasil olahan kedelai lain yang dapat menangkal kolesterol adalah minyak kedelai.

3. Antioksidan Sintetik (dibuat dari bahan-bahan kimia)

Contohnya yaitu Butylated Hydroxyanisole (BHA), BHT, TBHQ, PG, dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.

  2. Muchtadi, T., Sugiyono., Ayustaningwarno, F. (2010). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

16 JANUARI 2022

MENGAPA ANTIOKSIDAN PENTING BAGI KESEHATAN?

Setiap harinya, tubuh terpapar oleh radikal bebas, baik dari lingkungan atau makanan dan minuman yang dikonsumsi. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang kehilangan pasangan elektronnya di permukaan kulit luarnya. Radikal bebas yang masuk dalam tubuh merusak sel-sel yang berakibat timbulnya Penyakit Jantung Koroner (PJK), kanker, katarak, dan penyakit degeneratif lainnya.

Radikal bebas dapat masuk dan terbentuk di dalam tubuh melalui beberapa hal, yaitu:

1. Melalui pernafasan

Dengan bernafas atau oksigen yang berlebihan saat olahraga terjadi reaksi yang kompleks dalam tubuh dan menghasilkan produk-produk sampingan berupa radikal bebas. Radikal bebas oksigen ini sangat cepat merusak jaringan-jaringan sel.

2. Kondisi lingkungan yang tidak sehat

Salah satu contohnya adalah asap dari kendaraan bermotor penyebab polusi yang sering kita jumpai.

3. Makanan berlemak

Konsumsi lemak yang berlebihan sangat berpotensi menghasilkan radikal bebas, khususnya lemak tidak jenuh ganda (contohnya mayonnaise) dan lemak hidrogenasi (contohnya margarin).

Untungnya, tubuh memiliki mekanisme pertahanan khusus yang dapat menangkal efek buruk radikal bebas, yakni antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai radikal bebas.

Terdapat tiga macam antioksidan, yaitu:

1. Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri yang berupa enzim.

Contohnya: superoksida dismutase, glutathione peroxidase, perxidasi, dan katalase

2. Antioksidan alami

a. Vitamin E (Tokoferol)

Terdapat delapan bentuk Vitamin E, yaitu empat Tokoferol (Alfa, Beta, Gamma, dan Delta) serta empat Tokotrienol. Dari delapan bentuk tersebut, yang berfungsi sebagai antioksidan adalah Tokoferol Alfa.

Vitamin E (Tokoferol) banyak dijumpai dalam tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, kacang-kacangan, biji gandum, dan sayuran hijau. Pada hewan seperti daging sapi, unggas, dan ikan jumlahnya agak terbatas. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin E adalah 4 – 15 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

b. Vitamin C (Asam Askorbat)

Vitamin C merupakan antioksidan yang tangguh. Vitamin C membantu menjaga kesehatan sel, meningkatkan penyerapan asupan zat besi, dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Bagi pria, antioksidan ini memperbaiki mutu sperma, dengan cara mencegah radikal bebas merusak lapisan pembungkus sperma.

Sumber Vitamin C terutama berasal dari buah dan sayur, sedangkan makanan hewani pada umumnya bukan merupakan sumber Vitamin C. Contoh sumber Vitamin C adalah jeruk, jambu biji, belimbing, nanas, sirsak, daun singkong, daun katuk, dan daun kelor. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin C adalah 40 – 90 mg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

c. Vitamin A (Karotenoid)

Sumber utama Vitamin A adalah pigmen karotenoid dari tumbuhan dan retinil ester dari hewan. Senyawa ini diubah menjadi retinol (Vitamin A) dalam tubuh manusia.

Kata “karoten” berasal dari bahasa Latin yang berarti wortel (carrot), yaitu pigmen warna kuning dan oranye pada buah dan sayur. Karotenoid yang banyak dikenal adalah Beta-Karoten, disebut juga Pro-Vitamin A.

Contoh sumber Vitamin A dari hewani adalah ikan (salmon, tuna, makarel), udang, keju, telur, dan susu. Contoh sumber Pro-Vitamin A adalah wortel, tomat, pisang raja, pepaya, dan semangka. Vitamin A merupakan zat gizi esensial (tidak dapat diproduksi oleh tubuh) untuk penglihatan, pertumbuhan, reproduksi, Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019 bahwa kebutuhan Vitamin A adalah 375 – 600 mcg per hari, tergantung usia dan jenis kelamin.

d. Senyawa Fenolik

Senyawa fenolik adalah senyawa antioksidan yang berupa flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik. Fungsi senyawa fenolik adalah sebagai penangkap radikal bebas. Tumbuhan yang termasuk senyawa fenolik sangat bagus sebagai antioksidan karena memiliki aroma yang menyegarkan. Contoh tumbuhan yang mengandung senyawa fenolik adalah jahe, bawang putih, teh, dan kunyit.

e. Anthosianin

Anthosianin adalah sekelompok zat berwarna kemerahan yang terdapat pada tumbuhan. Anthosianin dapat digunakan sebagai pewarna alami (warna merah, oranye, ungu, dan biru) karena memiliki pigmen yang kuat. Jenis gula yang ditemui pada molekul anthosianin adalah glukos, rhaminosa, galaktosa, xylosa, dan arabinose.

Anthosianin memiliki kandungan selenium dan iodin, sebagai substansi antikanker dan sebagai antioksidan yang dapat melindungi dari penyakit jantung. Contoh tumbuhan yang mengandung anthosianin adalah ubi jalar ungu dan stroberi.

f. Isoflavon

Isoflavon dapat ditemukan pada kacang-kacangan terutama kedelai, yang memiliki sifat estrogenik, antikarsinogenik, antiosteoporoisitik, antioksidan, dan dapat memperbaiki sindroma menopause.

Pada olahan kedelai (tempe) memiliki kandungan senyawa isoflavon dengan aktivitas antioksidan dan anti hemolitik. Isoflavon pada tempe dapat mencegah aktivitas sel menjadi sel kanker, memperbaiki metabolisme hormon steroid, menurunkan kolesterol dan trigleserida, melindungi sel-sel hati dari paparan senyawa beracun, memperlancar sirkulasi darah, membuat jantung bekerja lebih santai (antiadrenalin), mencegah ketidakteraturan denyut jantung, antiperadangan, mencegah kerusakan permukaan dinding pembuluh darah jantung dan dapat sekaligus memperbaikinya, serta mengikis endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah jantung. Hasil olahan kedelai lain yang dapat menangkal kolesterol adalah minyak kedelai.

3. Antioksidan Sintetik (dibuat dari bahan-bahan kimia)

Contohnya yaitu Butylated Hydroxyanisole (BHA), BHT, TBHQ, PG, dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.

  2. Muchtadi, T., Sugiyono., Ayustaningwarno, F. (2010). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.

  3. Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Jakarta.

Halimatus Sa’diyah A.Md.Gz
Ahli Gizi

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

TREN MINUMAN BOBA, AMANKAH BAGI KESEHATAN?

13 DESEMBER 2021

TREN MINUMAN BOBA, AMANKAH BAGI KESEHATAN?

Trend minuman boba (bubble tea) telah dikenal di seluruh lapisan masyarakat. Boba pertama kali muncul pada tahun 1980-an di Taiwan. Sekitar tahun tersebut, seorang karyawan di kedai teh ‘Chun Shui Tang’ yaitu ‘Lin Hsui Hui’ mencoba untuk mencampur bola tapioka (boba) dari sebuah makanan penutup/ dessert yang populer di Taiwan yaitu ‘Fen Yuan’ ke dalam segelas es teh susu. Tak disangka, konsumen menyukainya hingga akhirnya banyak gerai yang menjual minuman tersebut sampai menyebar ke seluruh dunia.

Teh susu boba biasanya terbuat dari bubuk minuman dengan varian rasa, bola tapioka (boba), sirup, gula dan susu kental manis. Minuman boba mengandung kadar gula dan kalori yang tinggi sehingga merupakan bagian dari kelompok minuman berpemanis atau sugar sweetened beverage (SSB) yang umumnya mengandung pemanis berupa high fructose corn syrup/ HFCS (55% fruktosa, 45% glukosa) atau sukrosa (50% fruktosa, 50% glukosa) [5].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Safitri dkk. (2021) di Yogyakarta dengan 7 sampel boba milk tea berbeda merek, menunjukkan bahwa rata-rata kalori dari satu cup air boba ukuran 16 oz (473 ml) mencapai lebih dari 300 Kkal, kalori ini hampir setara dengan 2 porsi nasi (1 porsi nasi = 180 Kkal). Kalori minuman ini sebagian besar berasal dari sukrosa, yakni 77,44%.  Sedangkan pada studi lain yang dilakukan di Los Angeles menunjukkan bahwa kandungan gula pada 16 oz boba mencapai 38 gram [3]. Padahal, Kemenkes menganjurkan untuk membatasi konsumsi gula per harinya maksimal 10% dari total energi (200 kkal), atau setara dengan gula 4 sendok makan (50 gram/orang/hari) [2].

Konsumsi 1 cup boba biasa berukuran 16 oz yang diberi topping tambahan jelly atau egg pudding bisa mencapai 16% dari kebutuhan kalori harian, sedangkan ukuran cup large (32 oz) bisa mencapai 500 Kkal atau setara 25% kebutuhan kalori harian [3]. Konsumsi minuman ini bukannya memenuhi kebutuhan harian individu, melainkan menambah kalori harian sehingga memicu kenaikan berat badan yang berakibat pada obesitas. Hal ini karena kalori pada minuman berpemanis tidak bisa menggantikan kalori dari makanan [3].

Terdapat beragam studi yang menunjukkan hubungan konsumsi gula tambahan dari kelompok minuman berpemanis atau sugar sweetened beverage (SSB) dengan kejadian obesitas, diabetes mellitus tipe 2, penyakit metabolik, serta penyakit lain yang berhubungan dengan obesitas. Tingginya beban glikemik dari minuman berpemanis karena adanya fruktosa (yang berbentuk HFCS/ sukrosa), dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penimbunan lemak visceral, serta peningkatan trigliserida dan kolesterol. Studi juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis sebanyak 1 L selama 6 bulan bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik dan perlemakan hati [1].

Meski begitu, terdapat alternatif yang lebih menyehatkan saat ingin mengonsumsi boba. Salah satu caranya dengan memesan takaran gula yang lebih sedikit (bisa setengah atau sepertiga takaran), dan apabila ingin tambahan topping selain boba maka pilihlah seperti coffee jelly, egg pudding, potongan buah, dsb. Alternatif ini mampu mengurangi kalori total dari minuman boba sehingga sesuai dengan anjuran dari Kemenkes untuk mengurangi konsumsi gula tambahan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bray, G. A., & Popkin, B. M. (2014). Dietary sugar and body weight: have we reached a crisis in the epidemic of obesity and diabetes?: health be damned! Pour on the sugar. Diabetes care, 37(4), 950-956.

  2. Kemenkes. (2018). Berapa anjuran konsumsi gula, garam, dan lemak per harinya?. Diakses dari http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/page/31/berapa-anjuran-konsumsi-gula-garam-dan-lemak-per-harinya pada 28 Oktober 2021 pukul 22.10.

  3. Min, J. E., Green, D. B., & Kim, L. (2017). Calories and sugars in boba milk tea: implications for obesity risk in Asian Pacific Islanders. Food science & nutrition, 5(1), 38-45.

  4. Safitri, R. A., Sunarti, S., Parisudha, A., & Herliyanti, Y. (2021). Kandungan Gizi dalam Minuman Kekinian “Boba Milk Tea”. Gorontalo Journal of Public Health, 4(1), 55-61.

  5. Veronica, M. T., & Ilmi, I. M. B. (2020). Minuman kekinian di kalangan mahasiswa Depok dan Jakarta. Indonesian Journal of Health Development, 2(2), 83–91.

Hana Mutia Afifah, S.Gz SGz, MKes
Ahli Gizi Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang

13 DESEMBER 2021

TREN MINUMAN BOBA, AMANKAH BAGI KESEHATAN?

Trend minuman boba (bubble tea) telah dikenal di seluruh lapisan masyarakat. Boba pertama kali muncul pada tahun 1980-an di Taiwan. Sekitar tahun tersebut, seorang karyawan di kedai teh ‘Chun Shui Tang’ yaitu ‘Lin Hsui Hui’ mencoba untuk mencampur bola tapioka (boba) dari sebuah makanan penutup/ dessert yang populer di Taiwan yaitu ‘Fen Yuan’ ke dalam segelas es teh susu. Tak disangka, konsumen menyukainya hingga akhirnya banyak gerai yang menjual minuman tersebut sampai menyebar ke seluruh dunia.

Teh susu boba biasanya terbuat dari bubuk minuman dengan varian rasa, bola tapioka (boba), sirup, gula dan susu kental manis. Minuman boba mengandung kadar gula dan kalori yang tinggi sehingga merupakan bagian dari kelompok minuman berpemanis atau sugar sweetened beverage (SSB) yang umumnya mengandung pemanis berupa high fructose corn syrup/ HFCS (55% fruktosa, 45% glukosa) atau sukrosa (50% fruktosa, 50% glukosa) [5].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Safitri dkk. (2021) di Yogyakarta dengan 7 sampel boba milk tea berbeda merek, menunjukkan bahwa rata-rata kalori dari satu cup air boba ukuran 16 oz (473 ml) mencapai lebih dari 300 Kkal, kalori ini hampir setara dengan 2 porsi nasi (1 porsi nasi = 180 Kkal). Kalori minuman ini sebagian besar berasal dari sukrosa, yakni 77,44%.  Sedangkan pada studi lain yang dilakukan di Los Angeles menunjukkan bahwa kandungan gula pada 16 oz boba mencapai 38 gram [3]. Padahal, Kemenkes menganjurkan untuk membatasi konsumsi gula per harinya maksimal 10% dari total energi (200 kkal), atau setara dengan gula 4 sendok makan (50 gram/orang/hari) [2].

Konsumsi 1 cup boba biasa berukuran 16 oz yang diberi topping tambahan jelly atau egg pudding bisa mencapai 16% dari kebutuhan kalori harian, sedangkan ukuran cup large (32 oz) bisa mencapai 500 Kkal atau setara 25% kebutuhan kalori harian [3]. Konsumsi minuman ini bukannya memenuhi kebutuhan harian individu, melainkan menambah kalori harian sehingga memicu kenaikan berat badan yang berakibat pada obesitas. Hal ini karena kalori pada minuman berpemanis tidak bisa menggantikan kalori dari makanan [3].

Terdapat beragam studi yang menunjukkan hubungan konsumsi gula tambahan dari kelompok minuman berpemanis atau sugar sweetened beverage (SSB) dengan kejadian obesitas, diabetes mellitus tipe 2, penyakit metabolik, serta penyakit lain yang berhubungan dengan obesitas. Tingginya beban glikemik dari minuman berpemanis karena adanya fruktosa (yang berbentuk HFCS/ sukrosa), dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penimbunan lemak visceral, serta peningkatan trigliserida dan kolesterol. Studi juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis sebanyak 1 L selama 6 bulan bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik dan perlemakan hati [1].

Meski begitu, terdapat alternatif yang lebih menyehatkan saat ingin mengonsumsi boba. Salah satu caranya dengan memesan takaran gula yang lebih sedikit (bisa setengah atau sepertiga takaran), dan apabila ingin tambahan topping selain boba maka pilihlah seperti coffee jelly, egg pudding, potongan buah, dsb. Alternatif ini mampu mengurangi kalori total dari minuman boba sehingga sesuai dengan anjuran dari Kemenkes untuk mengurangi konsumsi gula tambahan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bray, G. A., & Popkin, B. M. (2014). Dietary sugar and body weight: have we reached a crisis in the epidemic of obesity and diabetes?: health be damned! Pour on the sugar. Diabetes care, 37(4), 950-956.

  2. Kemenkes. (2018). Berapa anjuran konsumsi gula, garam, dan lemak per harinya?. Diakses dari http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/page/31/berapa-anjuran-konsumsi-gula-garam-dan-lemak-per-harinya pada 28 Oktober 2021 pukul 22.10.

  3. Min, J. E., Green, D. B., & Kim, L. (2017). Calories and sugars in boba milk tea: implications for obesity risk in Asian Pacific Islanders. Food science & nutrition, 5(1), 38-45.

  4. Safitri, R. A., Sunarti, S., Parisudha, A., & Herliyanti, Y. (2021). Kandungan Gizi dalam Minuman Kekinian “Boba Milk Tea”. Gorontalo Journal of Public Health, 4(1), 55-61.

  5. Veronica, M. T., & Ilmi, I. M. B. (2020). Minuman kekinian di kalangan mahasiswa Depok dan Jakarta. Indonesian Journal of Health Development, 2(2), 83–91.

Hana Mutia Afifah, S.Gz SGz, MKes
Ahli Gizi Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA

MIKROBIOTA USUS DAN OBESITAS

5 OKTOBER 2021

MIKROBIOTA USUS DAN OBESITAS

Saat ini obesitas tidak hanya menjadi masalah di negara-negara maju, tetapi juga di negara berkembang. Walaupun segala cara penatalaksanaan dilakukan melalui pengaturan pola makan dan aktifitas fisik, namun dari tahun ke tahun prevalensinya terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa persentase overweight dan obesitas pada dewasa ≥ 18 tahun terus terjadi peningkatan dari tahun 2007, 2013 dan 2018. Pada tahun 2007 prevalensi obesitas sebesar 10,5% meningkat menjadi 14,8% pada tahun 2013, dan terjadi peningkatan kembali pada tahun 2018 yaitu sebesar 21,8%.

Baru-baru ini telah dikemukakan bahwa mikrobiota usus merupakan faktor lingkungan yang menyebabkan obesitas. Apa yang dimaksud dengan mikrobiota usus? Mikrobiota usus didefinisikan sebagai komunitas mikroba kolektif yang menghuni usus manusia, termasuk bakteri, archaea, virus, dan beberapa uniseluler eukariota (Jorth  et al., 2014; Jandyala et al., 2015). Meskipun telah ada lebih dari 50 filum bakteri, mikrobiota manusia didominasi oleh empat filum: Actinobacteria, Firmicutes, Proteobacteria, dan Bacteroidetes. Mikrobiota usus manusia hanya didominasi oleh dua filum yaitu Bacteroidetes dan Firmicutes, sedangkan Proteobacteria, Verrucomicrobia, Actinobacteria, Fusobacteria, dan Cyanobacteria dalam proporsi kecil (Sekirov et al., 2010; Morgan et al., 2013).

Keberadaan microbiota usus manusia mulai awal kehidupan berada dalam usus dengan komposisi bervariasi yang dipengaruhi oleh  etnis, bangsa dan gaya hidup yang  berasal dari interaksi kompleks antara pola diet, etnis, dan faktor genetik (Barrett, 2014; Escobar et al., 2014;  Maukonen & Saarela, 2015). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan mikrobiota menurut Angelakis et al., 2012 ditunjukkan pada Gambar 1.

Peran pasti mikrobiota usus pada obesitas memang belum jelas, walaupun demikian mikrobiota mempunyai peran terhadap kejadian obesitas antara lain melalui mekanisme berikut ini: Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat yang tidak dapat dicerna menjadi Short Chain Fatty Acids (SCFAs) melalui Carbohydrate Response Element Binding Protein (ChREBP) dan Sterol Response Binding Protein 1 (SREBP-1) serta melalui penekanan fasting induced adipocyte factor atau Angiopotein-Like Protein 4 (fiaf/ANGPTL4) sebagai penghambat lipoprotein lipase (LPL) yang mengakibatkan penumpukan lemak di jaringan perifer (Backhet et al., 2004). Fiaf diproduksi oleh white dan brown fat adipose tissue dan usus halus yang menghambat LPL sehingga mengakibatkan penurunan oksidasi lemak di jaringan adipose dan jaringan otot (Conterno et al, 2011). Disamping itu microbiota dapat mempengaruhi homeostasis energi dan energy harvesting. Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat kompleks menjadi monosakarida dan SCFA. SCFA yang terdiri dari asetat, propionate dan butirat merupakan metabolit dari diet karbohidrat kompleks dan merupakan sumber energi baru bagi tubuh. Semakin besar efisiensi energi dari microbiota, maka semakin besar kecenderungan individu berkembang menjadi obesitas. Ekstraksi energi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan substrat, lama transit di usus, absorbsi mukosa dan keseimbangan mikrobiota. Pada obesitas terjadi ketidakseimbangan mikrobiota atau dikenal dengan istilah Dysbiosis, dimana filum Firmicutes bisa menjadi 20x lipat dibandingkan filum Bacteriodetes (Cockburn & Koropatkin, 2016).

Nah, bagaimana menu makan kita untuk menyeimbangkan mikrobiota usus kita agar terhindar dari obesitas???   Kita harus bisa mengendalikan obesitas dengan mengendalikan mikrobiota usus kita seperti dijelaskan pada Gambar 2.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Angelakis E, Armougom F, Million M, Raoult D. 2012. The relationship between gut microbiota and weight gain in humans. Future Microbiol. 7(1):91-109.

  2. Barrett, K.E. 2014. Functional anatomy of the GI tract and organs draining into it. In Gastrointestinal Physiology (2nd ed.). NewYork. The McGraw-Hill Companies.

  3. Backhed F, Ding H, Wang T, Hooper LV, Koh GY, Nagy A, et al. 2004. The gut microbiota as an environmental factor that regulates fat storage. Proc Natl Acad Sci U S A .  101(44):1571815723. 

  4. Conterno L., Fava F., Viola R., Tuohy K.M. 2011.  Obesity and the gut microbiota: Does up-regulating colonic fermentation protect against obesity and metabolic disease?. Genes Nutr. 6:241–260.

  5. Cockburn, D.W., and Koropatkin, N.M. 2016. Polysaccharide degradation by the intestinal microbiota and its influence on human health and disease. Mol. Biol. xx. xxx–xxx.

  6. Escobar, J.S., Klotz, B., Valdes, B.E., and Agudelo, G.M. 2014. The gut microbiota of Colombians differs from that of Americans, Europeans and Asians. BMC Microbiol. 14: 311.

  7. Jandhyala, S.M., Talukdar, R., Subramanyam, C., Vuyyuru, H., Sasikala, M., and Reddy, D.N. 2015. Role of the normal gut microbiota. World J Gastroenterol. 29: 8787-8803.

  8. Jorth, P., Turner, K.H., Gumus, P., Nizam, N., Buduneli, N., and Whiteley, M. 2014. Metatranscriptomics of the human oral microbiome during health and disease. Mol. Biol. 5: e01012–e01014

  9. Maukonen, J., and Saarela, M. 2015. Human gut microbiota: does diet matter? Proc. Nutr. Soc.  74: 23–36.

  10. Morgan, X.C., Segata, N., and Huttenhower, C. 2013. Biodiversity and functional genomics in the human microbiome. Trends Genet. 29:51–58

  11. Sekirov, I., Russell, S.L., Antunes, L.C., and Finlay, B.B. 2010. Gut microbiota in health and disease. Physiol. Rev. 90: 859-904

  12. Tehrani AB, Nezami BG, Gewirtz A, Srinivasan S. 2012. Obesity and its associated disease: a role for microbiota?. Neurogastroenterol Motil.; 24(4):305-311.

Dr. Etik Sulistyowati, SST, SGz, MKes
Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Malang

5 OKTOBER 2021

MIKROBIOTA USUS DAN OBESITAS

Saat ini obesitas tidak hanya menjadi masalah di negara-negara maju, tetapi juga di negara berkembang. Walaupun segala cara penatalaksanaan dilakukan melalui pengaturan pola makan dan aktifitas fisik, namun dari tahun ke tahun prevalensinya terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa persentase overweight dan obesitas pada dewasa ≥ 18 tahun terus terjadi peningkatan dari tahun 2007, 2013 dan 2018. Pada tahun 2007 prevalensi obesitas sebesar 10,5% meningkat menjadi 14,8% pada tahun 2013, dan terjadi peningkatan kembali pada tahun 2018 yaitu sebesar 21,8%.

Baru-baru ini telah dikemukakan bahwa mikrobiota usus merupakan faktor lingkungan yang menyebabkan obesitas. Apa yang dimaksud dengan mikrobiota usus? Mikrobiota usus didefinisikan sebagai komunitas mikroba kolektif yang menghuni usus manusia, termasuk bakteri, archaea, virus, dan beberapa uniseluler eukariota (Jorth  et al., 2014; Jandyala et al., 2015). Meskipun telah ada lebih dari 50 filum bakteri, mikrobiota manusia didominasi oleh empat filum: Actinobacteria, Firmicutes, Proteobacteria, dan Bacteroidetes. Mikrobiota usus manusia hanya didominasi oleh dua filum yaitu Bacteroidetes dan Firmicutes, sedangkan Proteobacteria, Verrucomicrobia, Actinobacteria, Fusobacteria, dan Cyanobacteria dalam proporsi kecil (Sekirov et al., 2010; Morgan et al., 2013).

Keberadaan microbiota usus manusia mulai awal kehidupan berada dalam usus dengan komposisi bervariasi yang dipengaruhi oleh  etnis, bangsa dan gaya hidup yang  berasal dari interaksi kompleks antara pola diet, etnis, dan faktor genetik (Barrett, 2014; Escobar et al., 2014;  Maukonen & Saarela, 2015). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan mikrobiota menurut Angelakis et al., 2012 ditunjukkan pada Gambar 1.

Peran pasti mikrobiota usus pada obesitas memang belum jelas, walaupun demikian mikrobiota mempunyai peran terhadap kejadian obesitas antara lain melalui mekanisme berikut ini: Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat yang tidak dapat dicerna menjadi Short Chain Fatty Acids (SCFAs) melalui Carbohydrate Response Element Binding Protein (ChREBP) dan Sterol Response Binding Protein 1 (SREBP-1) serta melalui penekanan fasting induced adipocyte factor atau Angiopotein-Like Protein 4 (fiaf/ANGPTL4) sebagai penghambat lipoprotein lipase (LPL) yang mengakibatkan penumpukan lemak di jaringan perifer (Backhet et al., 2004). Fiaf diproduksi oleh white dan brown fat adipose tissue dan usus halus yang menghambat LPL sehingga mengakibatkan penurunan oksidasi lemak di jaringan adipose dan jaringan otot (Conterno et al, 2011). Disamping itu microbiota dapat mempengaruhi homeostasis energi dan energy harvesting. Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat kompleks menjadi monosakarida dan SCFA. SCFA yang terdiri dari asetat, propionate dan butirat merupakan metabolit dari diet karbohidrat kompleks dan merupakan sumber energi baru bagi tubuh. Semakin besar efisiensi energi dari microbiota, maka semakin besar kecenderungan individu berkembang menjadi obesitas. Ekstraksi energi ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan substrat, lama transit di usus, absorbsi mukosa dan keseimbangan mikrobiota. Pada obesitas terjadi ketidakseimbangan mikrobiota atau dikenal dengan istilah Dysbiosis, dimana filum Firmicutes bisa menjadi 20x lipat dibandingkan filum Bacteriodetes (Cockburn & Koropatkin, 2016).

Nah, bagaimana menu makan kita untuk menyeimbangkan mikrobiota usus kita agar terhindar dari obesitas???   Kita harus bisa mengendalikan obesitas dengan mengendalikan mikrobiota usus kita seperti dijelaskan pada Gambar 2.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Angelakis E, Armougom F, Million M, Raoult D. 2012. The relationship between gut microbiota and weight gain in humans. Future Microbiol. 7(1):91-109.

  2. Barrett, K.E. 2014. Functional anatomy of the GI tract and organs draining into it. In Gastrointestinal Physiology (2nd ed.). NewYork. The McGraw-Hill Companies.

  3. Backhed F, Ding H, Wang T, Hooper LV, Koh GY, Nagy A, et al. 2004. The gut microbiota as an environmental factor that regulates fat storage. Proc Natl Acad Sci U S A .  101(44):1571815723. 

  4. Conterno L., Fava F., Viola R., Tuohy K.M. 2011.  Obesity and the gut microbiota: Does up-regulating colonic fermentation protect against obesity and metabolic disease?. Genes Nutr. 6:241–260.

  5. Cockburn, D.W., and Koropatkin, N.M. 2016. Polysaccharide degradation by the intestinal microbiota and its influence on human health and disease. Mol. Biol. xx. xxx–xxx.

  6. Escobar, J.S., Klotz, B., Valdes, B.E., and Agudelo, G.M. 2014. The gut microbiota of Colombians differs from that of Americans, Europeans and Asians. BMC Microbiol. 14: 311.

  7. Jandhyala, S.M., Talukdar, R., Subramanyam, C., Vuyyuru, H., Sasikala, M., and Reddy, D.N. 2015. Role of the normal gut microbiota. World J Gastroenterol. 29: 8787-8803.

  8. Jorth, P., Turner, K.H., Gumus, P., Nizam, N., Buduneli, N., and Whiteley, M. 2014. Metatranscriptomics of the human oral microbiome during health and disease. Mol. Biol. 5: e01012–e01014

  9. Maukonen, J., and Saarela, M. 2015. Human gut microbiota: does diet matter? Proc. Nutr. Soc.  74: 23–36.

  10. Morgan, X.C., Segata, N., and Huttenhower, C. 2013. Biodiversity and functional genomics in the human microbiome. Trends Genet. 29:51–58

  11. Sekirov, I., Russell, S.L., Antunes, L.C., and Finlay, B.B. 2010. Gut microbiota in health and disease. Physiol. Rev. 90: 859-904

  12. Tehrani AB, Nezami BG, Gewirtz A, Srinivasan S. 2012. Obesity and its associated disease: a role for microbiota?. Neurogastroenterol Motil.; 24(4):305-311.

Dr. Etik Sulistyowati, SST, SGz, MKes
Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Malang

DPC PERSAGI KOTA MALANG

Jl. Sisingamangaraja 42 Malang 65123

Jawa Timur – Indonesia

KONTAK KAMI

Contact Person:

0812-3398-8703 (Dewi)

0877-5986-8348 (Annisa)

Email: 

dpcpersagikotamalang@gmail.com

KERJASAMA

HUBUNGI KAMI UNTUK KERJASAMA