Kebocoran Usus” dan Mikrobioma: Bagaimana Serat Memberi Makan Pasukan Anti-Kanker di Dalam Tubuh Anda

“Kebocoran Usus” Masalah yang Tidak Pernah Disadari

Telah lama diketahui bahwa usus adalah organ yang sangat penting dan fungsinya sering tidak menjadi perhatian ketika seseorang merasa sehat. Terlebih akrena fungsi usus sebagai penahan racun, pengelola sisa makanan yang tidak tercerna sempurna, dan perisai dari kuman berbahaya sering bukan bahasan yang muncul dalam diskusi-diskusi ringan diantara kita bersama keluarga dan rekan kerja. Usus secara mandiri menahan semua bahaya ini agar tidak masuk ke aliran darah, melalui fungsi dinding yang unik.

Disadari atau tidak pola makan yang buruk seperti rendah serat, tinggi gula, makanan olahan yang dominan, dan alcohol dapat melemahkan fungsi unik dinding usus. Konstruksi dindik yang seperti batu bata (bricks) akan mengalami pelonggaran sehingga menimbulkan kebocoran (leaks). Kondisi ini bisanya bisa terjadi sesaat (akut) namun lebih sering ditemukan dalam jangka waktu yang lama (kronis). Ketika kondisi dinding usus mengalami “kebocoran” anomali di saluran cerna sebagai reaski inflamasi. Inflamasi seperti “percikan api” yang siap memulai kerusakan yang meluas dan sangat merusak. Pada kondisi inflamasi, peradangan akan menyebar dengan cepat keseluruh tubuh. Salah satu efek jangka panjang adalah terbentuknya kanker, ini mungkin merupakan jawaban banyak penderita kanker atas kebingungan mengapa mereka mengidap penyakit ini.

Pasukan Super dalam Diri Anda Bernama Mikrobioma

Sejumlah bakteri setidaknya triliunan hidup di usus, bukan sekedar menumpang tetapi merupakan organisme hidup yang penting. Mereka para bakteri menjadi pasukan penjaga dan mempertahankan benteng saluran cerna selama 24 jam tanpa henti. Beberapa hal yang dilakukan oleh mikrobioma penjaga adalah:

  1. Menambal celah “kebocoran” dinding usus. Mikrobioma membuat lem perekat alami yang disebut dengan “butirat”. Butirat menjadi perekat aktif dinding usus, menutup kebocoran dan memperkuat konstruksi dinding usus
  2. Memproduksi zat anti-kanker. Sel kanker yang tumbuh secara autopilot tidak merespon proses menua dan mati (apotosis) yang dialami sel pada umumnya. Mikrobioma memproduksi sel anti-kanker dengan fungsi yang sama, mendorong sel kanker untuk mengalami kerusakan dan mati.
  3. Melatih pasukan penghancur (immune). Mikrobioma melatih sel-sel imunitas yang selama ini tidak mengenali sel kanker menjadi mengetahui mana sel kanker yang harus dihancurkan. Hal kecil yang dapat memberikan perbedaan besar.

Kita perlu mengenal pasukkan super agar lebih memahami peran dan fungsinya dalam menjaga percernaan kita:

Bakteri Peran Spesifik
Faecalibacterium prausnitzii Menghasilkan butirat dalam jumlah besar; meningkatkan diferensiasi sel T regulatorik (anti-inflamasi); efek anti-inflamasi kuat
Bifidobacterium spp. Memproduksi SCFA (termasuk butirat); meningkatkan aktivasi sel dendritik dan sel T; meningkatkan efektivitas terapi kanker; mengurangi toksisitas pengobatan
Lactobacillus spp. Mendukung integritas dinding usus; menghasilkan metabolit anti-inflamasi; memodulasi respons imun; mengurangi peradangan akibat radioterapi
Akkermansia muciniphila Merangsang sinyal Toll-like receptor untuk meningkatkan produksi IFN-γ; meningkatkan penyajian antigen; meningkatkan respons imun selama terapi kanker
Clostridium sensu stricto 1 Menghasilkan metabolit bermanfaat yang mendukung homeostasis imun; terkait dengan respons baik terhadap terapi kanker
Roseburia spp. & Coprococcus spp. Menghasilkan butirat dan propionat; mengatur metabolisme; terkait dengan kesehatan usus besar dan pencegahan kanker kolorektal

Sumber: Disarikan dari referensi yang digunakan dalam tulisan ini

Serat, Kunci Sederhana Pembuka Perlindungan Terkuat

Secara sederhana Mikrobioma dapat dimaksimalkan tanpa membutuhkan suplemen mahal atau menggunakan teknologi yang rumit. Pengelolaan mikrobioma tidak memerlukan probiotik impor, test DNA usus, injeksi vitamin khusus, atau proses detoksifikasi yang mahal. Mikrobioma yang sehat tidak dibangun oleh kemewahan, tetapi oleh konsistensi dan pilihan makanan yang tepat setiap hari.

Mikrobioma hanya membutuhkan serat, serat banyak ditemukan pada sayuran dan buah-buahan. Serat dari tanaman tidak dapat dicerna oleh enzim manusia sehingga akan tetap utuh dan mencapai usus besar dimana mikrobioma berada. Proses fermentasi dengan memanfaatkan serat akan dilakukan mikrobioma untuk menghasilkan butirat. Butirat menjadi komponen penting penguat dinding usus, anti inflamasi, dan eksekutor sel kanker.

Memastikan asupan sayur dan buah setiap hari setidaknya 3-5 kali sajian atau setara 240-400 g per hari atau 5-6 sendok makan sayur matang memberikan kesempatan kepada pasukan super untuk selalu siap dan menjadi pelindung 24 jam dengan tiga kemampuan utamanya. Jumlah 3-5 kali sajian menjadi penting, karena serat tidak disimpan di dalam tubuh sehingga perlu dikonsumsi setiap hari. Tertundanya konsumsi harian akan membuat mikrobioma mengalami kelaparan yang berakibat menurunya populasi baik, dan membuat usus menjadi rapuh.

Kanker Ketika Kebocoran Usus dan Pasukan Lemah

Pada kondisi dimana terdapat lingkungan yang mendukung, maka sel kanker akan tumbuh dengan subur pada tubuh seseorang. Kebocoran usus yang tidak disadari memicu produksi inflamasi yang terus menerus. Inflamasi yang bermuara dari usus meluas secara sistematik dan memicu inflamasi lain yang dapat memicu pengaktifan beberapa mekanisme:

  1. Aktivasi pembelahan sel (proliferasi). Inflamasi merangsang pembelahan dan penggandaan sel dalam upaya memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, frekuensi pembelahan sel yang meningkat semakin meningkatkan kesalahan acak genetic (mutasi) yang dapat memicu kanker.
  2. Disregulasi sel imunitas. Inflamasi seharusnya membantu tubuh melawan infeksi, namuk jika terjadi secara terus menerus maka sel imun akan mengalami kelelahan dan bahkan “dikooptasi” untuk membantu sel kanker. Beberapa sel imun, seperti makrofak tipe 2 (M2) justru berperan sebagai mediator pertumbuhan sel tumor.
  3. Pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis). Inflamasi merangsang tubuh untuk membentuk pembuluh darah baru untuk menyediakan oksigen dan zat gizi pada jaringan yang mengalami peradangan. Perlu diketahui sel kanker memanfaatkan sistem ini untuk mendapatkan asupan makanan yang melimpah untuk bertumbuh cepat, dengan membentuk lingkungan mikro yang mempertahankan inflamasi disekitarnya.

Sumber: Canva

Diagaram Alur Mekanisme Kebocoran Usus, Mikrobioma, dan Kanker

Ketiga mekanisme di atas secara kolektif mengarah pada munculnya sel kanker. Saat kondisi inflamasi kronis sistem pengendalian alami tubuh justru lumpuh. Kemunculan sel kanker seharusnya bisa dikendalikan melalui mekanisme apotosis atau peran sel imun alami, tetapi hal tersebut tidak terjadi. Lemahnya sistem skrining (immune surveillance) memperburuk keadaan. Kemampuan mereka untuk mengenali, mengepung, dan menghacurkan sel kanker sejak dini. Inflmasi membuat sel imun menjadi buta, kelelahan dan bahkan kehilangan fungsinya. Lebih parah lagi, mikrobioma usus yang mengalami gangguan (dysbiosis) tidak lagi bisa menjadi pasukan pelindung, tubuh tidak lagi memiliki pertahannan alaminya.

 

Oleh:

Dr. FajarAri Nugroho.

Pemerhati Epidemiologi Gizi, Sindrom Metabolik, dan Kanker

References:

  1. Vancamelbeke, M. & Vermeire, S. The intestinal barrier: a fundamental role in health and disease. Expert Rev. Gastroenterol. Hepatol. 11, 821–834 (2017). DOI: 10.1080/17474124.2017.1343143.
  2. Odenwald, M. A. & Turner, J. R. The intestinal epithelial barrier: a therapeutic target? Nat. Rev. Gastroenterol. Hepatol. 14, 141–153 (2017). DOI: 10.1038/nrgastro.2016.169
  3. Schoultz, I. & Keita, Å. V. The intestinal barrier and current techniques to assess permeability in health and disease. Eur. Surg. Res. 64, 1–12 (2023). DOI: 10.1159/000528784
  4. Kyuno, D. et al. Role of tight junctions in the epithelial-mesenchymal transition of cancer. Cancers 13, 237 (2021). DOI: 10.3390/cancers13020237
  5. Schwabe, R. F. & Jobin, C. Themicrobiome and cancer. Nat. Rev. Cancer 13, 800–812 (2013). DOI: 10.1038/nrc3610
  6. Yu, L. X. & Schwabe, R. F. The gut microbiome and liver cancer: mechanisms and clinical translation. Nat. Rev. Gastroenterol. Hepatol. 14, 527–539 (2017). DOI: 10.1038/nrgastro.2017.72
  7. Salvi, P. S. & Cowles, R. A. Butyrate and the intestinal epithelium: modulation of proliferation and inflammation in homeostasis and disease. Cells 10, 1775 (2021). DOI: 10.3390/cells10071775
  8. Lee, S. H. et al. Gut microbial metabolite butyrate boosts p53-expressing telomerase-specific oncolytic adenovirus efficacy. Cancer Gene Ther. 30, 210–222 (2023). DOI: 10.1038/s41417-022-00539-1
  9. Canani, R. B. et al. Potential beneficial effects of butyrate in intestinal and extraintestinal diseases. World J. Gastroenterol. 17, 1519–1528 (2011). DOI: 10.3748/wjg.v17.i12.1519
  10. Donohoe, D. R. et al. The microbiome and butyrate regulate energy metabolism and autophagy in the mammalian colon. Cell Metab. 13, 517–526 (2011). DOI: 10.1016/j.cmet.2011.02.018
  11. Oh, S. et al. Pectin fermentation enhances the preventive effect of inulin on colorectal carcinogenesis. J. Nutr. 151, 2157–2166 (2021). DOI: 10.1093/jn/nxab114
  12. O’Keefe, S. J. D. et al.Fat, fibre and cancer risk in African Americans and rural Africans. Nat. Commun. 6, 6342 (2015). DOI: 10.1038/ncomms7342
  13. Song, M., Chan, A. T. & Sun, J. Influence of the gut microbiome, diet, and environment on risk of colorectal cancer. Gastroenterology 158, 322–340 (2020). DOI: 10.1053/j.gastro.2019.06.048
  14. Bingham, S. A. et al. Dietary fibre in food and protection against colorectal cancer in the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC): an observational study. Lancet 361, 1496–1501 (2003). DOI: 10.1016/S0140-6736(03)13174-1
  15. Aune, D. et al. Dietary fibre, whole grains, and risk of colorectal cancer: systematic review and dose-response meta-analysis of prospective studies. BMJ 343, d6617 (2011). DOI: 10.1136/bmj.d6617
  16. Grivennikov, S. I. Inflammation and colorectal cancer: colitis-associated neoplasia. Semin. Immunopathol. 35, 229–244 (2013). DOI: 10.1007/s00281-012-0352-6
  17. Grivennikov, S. I., Greten, F. R. & Karin, M. Immunity, inflammation, and cancer. Cell 140, 883–899 (2010). DOI: 10.1016/j.cell.2010.01.025
  18. Coussens, L. M. & Werb, Z. Inflammation and cancer. Nature 420, 860–867 (2002). DOI: 10.1038/nature01322
  19. Zitvogel, L. et al. Cancer and the gut microbiota: an unexpected link. Sci. Transl. Med. 7, 271ps1 (2015). DOI: 10.1126/scitranslmed.3010473
  20. Sepich-Poore, G. D. et al. The microbiome and human cancer. Science 371, eabc4552 (2021). DOI: 10.1126/science.abc4552
  21. Poore, G. D. et al. Microbiome analyses of blood and tissues suggest cancer diagnostic approach. Nature 579, 567–574 (2020). DOI: 10.1038/s41586-020-2095-1